Konsep Intergrasi Terpadu (KIT), Solusi Bagi Peternak Unggas!

28/10/2010 0 Comments

Oleh : R Erly Risandy

Sistem konglomerasi yang lahir dan dikenal oleh bangsa Indonesia pada masa orde baru, telah melahirkan konglomerat-konglomerat yang menguasai perekonomian Indonesia. Hampir seluruh sektor perekonomian dikuasai oleh para konglomerat. Akibatnya terjadi monopoli perdagangan karena merekalah yang menguasai pasar. Namun karena pondasi konglomerasi ini begitu rapuh sehingga sewaktu badai krisis menerpa Indonesia, mereka bagaikan sebuah bangunan megah yang rubuh diterjang badai.

Kini walaupun kebijakan pemerintah sudah beralih kepada ekonomi kerakyatan (walau baru sebatas teori), namun sistem konglomerasi ini masih menyisakan suatu pelajaran bagi para pengusaha. Untuk mengurangi ketergantungan keberlangsungan usaha mereka, banyak perusahaan yang melakukan konsep integerasi dari hulu ke hilir. Dalam istilah perusahaan perunggasan modern, konsep ini dikenal dengan nama integrated poultry industry. Memang dengan konsep integrasi terpadu ini, perusahaan memiliki banyak keuntungan yang didapatkan seperti tidak tergantung pada pihak lain, dapat mengurangi resiko fluktuasi harga (produk unggas merupakan komoditi yang memiliki nilai jual yang senantiasa berfluktuatfi), memaksimalkan margin seluruh lini usaha, dll.

Dalam satu tahun usaha, peternak unggas biasanya mengalami kerugian yang diakibatkan oleh penyakit atau harga jual yang rendah. Pukulan paling hebat yang merontokan usaha perunggasan di Indonesia terjadi pada awal reformasi digulirkan yaitu antara tahun 1997 – 1998. Bukan hanya para peternak yang rontok, perusahaan perunggasan pun banyak pula yang gulung tikar. Kini kejadian tersebut terulang kembali dimana disaat para pelaku industri perunggasan mulai bangkit lagi akibat kerugian yang dialami dari tahun 2003 – 2005, mereka harus memikul beban yang lebih berat lagi akibat kasus flu burung yang menyerang bukan hanya Indonesia, melainkan juga kawasan dunia lainnya. Dampak dari flu burung yang paling parah dialami oleh peternak bukan hanya diakibatkan oleh penyakitnya itu sendiri melainkan harga jual produk ayam yang rendah mulai dari DOC sampai dengan produk ayam olahan.  Akibatnya peternak mengalami kerugian yang luar biasa.  Selain itu disaat peternak mengalami kerugian yang diakibatkan oleh kondisi harga jual yang tidak menentu, harga pakan pun mengalami kenaikan akibat naiknya beberapa komponen pakan yang sebagian besar masih impor. BBM pada tahun 2005 yang naik dua kali, mengakibatkan biaya distribusi yang meningkat dua kali lipat, sedangkan harga jual relatif tetap. Belum lagi dengan kenaikan gas sebagai salah satu komponen produksi. Dan yang terakhir yaitu rencana kenaikan TDL yang kemungkinan besar akan dinaikan pada tahun ini. Tak pelak ini merupakan pukulan telak yang dialami oleh para peternak dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir.

Untuk mengatasi permasalahan yang biasa dialami oleh para peternak unggas, sebaiknya mereka bersatu padu membentuk suatu unit usaha (seluruh sahamnya dimiliki oleh  para peternak) yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Nanti apabila unit baru tersebut menghasilkan keuntungan/laba usaha, maka laba tersebut dibagi berdasarkan persentase modal yang ditanamkan oleh peternak di perusahaan baru tersebut. Dengan demikian seluruh margin dari setiap lini usaha dapat diraih dan diserap oleh perusahaan baru tersebut. Apabila digambarkan dalam alur maka gambaran Kosep Integrasi Terpadu (KIT) adalah sebagai berikut:

Dari alur bagan diatas maka dapat dijelaskan hal sebagai berikut :

PT X Merupakan suatu unit usaha baru yang modalnya didapatkan dari saham para peternak. PT X ini yang mengelola KIT mulai dari Breeding Farm sampai dengan Food Industry dan disupport oleh perusahaan pakan dan obat yang terpisah dari KIT. (seharusnya menyatu namun karena jenis usahanya relative lain maka hanya dijadikan sebagai support saja meskipun pada perusahaan yang sudah sangat begitu besar, pabrik pakan dan obat ini ikut terintegrasi kedalam KIT tersebut). KIT ini dibuat sefleksibel mungkin yang ditandai oleh adanya panah keluar, dimana persentase daya serap lini yang didalam dan diluar tergantung pada situasi pasar (daya serap pasar dan harga).

PT X ini memegang peranan yang sangat strategis dimana dapat mengendalikan fluktuatif harga mulai dari DOC, ayam besar hingga karkas. Harga jual produk mulai dari  DOC, ayam besar hingga karkas yang dijual kedalam adalah HPP Plus sedangkan harga jual keluar mengikuti harga pasar. Dibuat HPP Plus karena sebagai suatu unit usaha, PT X ini pun haruslah mendapatkan laba usaha yang pada nantinya pun akan dibagikan ke peternak sesuai dengan jumlah saham yang ditanamkan peternak. Dengan demikian, marketing PT X terutama di hilir (RPA dan Food Industry) haruslah handal dan cakap dalam melihat situasi pasar sehingga diharapkan mereka dapat memiliki customer base dengan harga jual yang tetap.

usaha, PT X ini punSelain itu karena omzet PT X dalam mengkonsumsi pakan sangat besar sehingga dapat mengikat pabrik pakan untuk menjual pakannya dengan harga tetap (pada waktu PT X untung maka harga pakan ikut naik dan sebaliknya apabila peternak rugi maka harga pakan akan ikut turun). Hal ini sangat strategis mengingat komponen pakan merupakan kontribusi terbesar dalam komponen produksi ayam (sekitar 60-70%). Harga obat, vitamin dan mineral pun dapat ditekan dengan adanya harga yang tetap sehingga peternak hanya concern pada biaya operasional, teknik pemeliharaan dan efisiensi yang sebagian besar dapat dikendalikan oleh peternak.

Tahapan pengelolaan manajemen PT X bisa mencakupi seluruh lini usaha mulai dari breeding sampai dengan food industri secara sekaligus, atau bisa pula secara bertahap mengelola beberapa lini usaha dulu untuk kemudian berkembang menjadi terintegrasi seluruhnya, tergantung pada pemegang saham (para peternak). Namun demikian disarankan agar pertimbangan ini berdasarkan pada kualitas dan kemampuan sumber daya manusia, modal, rencana pengembangan usaha, pemasaran, kondisi dan letak geografis, dll.

Di unit Breeding, hal yang perlu diperhatikan yaitu adanya kontinuitas supply Parent Stock (untuk pemeliharaan Grand Parent Stock memerlukan keahlian yang khusus). Untuk unit ini sebaiknya PT X lah yang mengelolanya mengingat dari kemampuan beternak para peternak di bidang breeding yang masih terbatas. Untuk unit budidaya, sebaiknya para peternak yang memiliki saham di PT X lah yang membudidayakannya. Hal ini penting agar seluruh produksi DOC dari PT X dapat diserap seluruhnya oleh para peternak budidaya. Tetapi karena PT X ini dibuat sefleksibel mungkin, maka dimungkinkan produksi DOC, ayam besar maupun karkas tidak diserap seluruhnya oleh PT X, namun dapat pula dijual ke pasar (mengenai persentasenya dapat dirundingkan antara manajemen PT X dengan peternak, dimana hal ini tergantung pada kondisi dan situasi pasar).

Begitu pula halnya dengan RPA, seluruh ayam besar dari unit budidaya ditampung di RPA sesuai dengan bobot yang diminta oleh RPA. Apabila ayam besar dari unit budidaya tidak memenuhi standar dan kualitas RPA, maka ayam tersebut dapat dijual ke pasar luar. Di unit RPA ini dibutuhkan cold storage dengan kapasitas yang cukup besar, yang sewaktu-waktu dipakai apabila harga ayam besar turun sehingga RPA dapat memotong ayam dalam jumlah yang sangat banyak dan apabila harga sudah membaik kembali, maka RPA tinggal mengeluarkan stock ayam di gudang. RPA yang dipakai sebaiknya RPA kelas menengah/ semi modern, mengingat RPA yang modern membutuhkan investasi dan modal yang sangat besar. Di RPA ini dibutuhkan seorang salesman yang handal mengingat RPA merupakan salah satu unit usaha yang dapat memanfaatkan momentum fluktuatif harga ayam. Adapun kebutuhan untuk food industri yang jumlahnya telah ditetapkan (minimal sesuai dengan kapasitas mesin), tetap dipenuhi oleh RPA secara kontinu.

Meskipun KIT merupakan suatu konsep terpadu yang memadukan seluruh lini secara integrasi dari breeding sampai dengan food industri, namun tahapan pengembangan food industri hendaknya dilakukan setelah seluruh lini mulai dari breeding, commercil farm sampai dengan RPA dinilai mantap. Hal ini dinilai perlu mengingat karakter bisnis di food industri relative agak berbeda dibandingkan dengan unit usaha yang lainnya. Strategi pengembangannya pun relative berbeda mengingat produk yang dihasilkannya merupakan consumer goods yang penjualannya lebih efektif dengan menggunakan media iklan/ media promosi lainnya. Belum lagi dengan jenis produk yang akan diproduksi, branding dan packaging yang digunakan, mutu dan kualitas produk, rasa, dll yang kesemuannya itu memerlukan riset pasar terlebih dahulu yang biayanya pun relatif besar. Namun hal ini bukanlah halangan bagi peternak yang akan mengembangkan lebih jauh usahanya ke arah food industri mengingat porsi kebutuhan akan produk ayam olahan masih sangat besar. Untuk memulainya, PT X bisa mengembangkan terlebih dahulu food industry tradisional yang tidak membutuhkan modal yang terlalu besar dan produk yang dihasilkan berupa produk curah dan tidak bermerk. Biasanya hasil produksi food industry tradisional ini yaitu nugget, kaki naga, otak-otak, baso, kripik ceker ayam/usus, dll. Proses pengolahannya lebih banyak menggunakan tenaga manusia dibandingkan mesin. Bila nanti pangsa pasarnya berkembang, maka PT X ini tinggal meningkatkan kapasitas produksinya.  Apabila masih kurang memadai, maka food industry tradisionalnya harus di up grade menjadi food industry semi modern. Dengan demikian food industry nantinya akan menjadi lokomotif PT X yang akan terus mengembangkan masing-masing unit usahanya mulai dari pembibitan, budi daya, rumah potong ayam dan food industrynya itu sendiri.

Diharapkan dengan adanya KIT ini maka akan terbentuk captive market yaitu suatu pasar tetap yang proses pengelolaannya berasal dari peternak, oleh peternak dan untuk peternak dimana seluruh margin usaha akan dinikmati oleh peternak pula. Dengan demikian KIT dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pemecahan masalah yang biasa dialami oleh peternak unggas yang selalu terombang-ambing oleh fluktuatif harga dan tidak adanya kepastian usaha yang tidak menguntungkan bagi peternak. Akankah KIT ini berhasil? Semuanya tergantung pada peternak itu sendiri……***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!