Jendela Wirausaha Kecil & Menengah

Jendela Wirausaha Kecil & Menengah

Kantor Bank Jabar-Banten yang berada di Banjar yang kini berubah namanya menjadi Bank BJB. Bank BJB siap membantu dan merangkul para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah serta koperasi, melalui program KUR Ritel. Foto : Pajar Martha/HR.

Rubrik ini merupakan media fasilitator bagi dunia usaha kecil menengah dengan pihak perbankan, dalam upaya memajukan usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang kini mulai berkembang di daerah.

UMKM merupakan salah satu roda penggerak perekonomian, yang tahan akan terpaan berbagi krisis ekonomi. Meski terbukti tahan akan terpaan krisis ekonomi, usaha mikro seakan berjalan tertatih dengan segala alasan klasiknya.

Pelaku usaha mikro selalu terkendala mengenai permodalan, pengembangan pasar bahkan hingga peningkatan sumber daya manusia (SDM).

Dunia perbankan acapkali melihat jenis usaha mikro termasuk dalam kategori bankable, meski usaha mikro terbilang produktif dan termasuk usaha kategori feasible.

Rubrik Jendela Wirausaha Kecil & Menengah kali pertama ini, HR akan menampilkan beberapa profil usaha mikro yang pernah kami berita kan sebelumnya. Dari berbagai cuplikan berita tersebut, kami kemas menjadi informasi bagi dunia perbankan yang konsen terhadap usaha mikro kecil menengah, berikut cuplikannya:

Usaha Kripik Pisang

Modal Minim, Hasil Produksi Tembus Pasar Bandung

Kripik pisang yang diproduksi di Dusun Pabuaran, Desa Karyamukti, Kec. Pataruman, Kota Banjar, hingga saat ini hasil produksinya diminati pedagang grosiran dari Bandung. Meski bermodal minim, usaha ini mampu menjaring usia produktif untuk bekerja.

Hal itu dikatakan Amung (57), warga RT.03/11, Blok Cikawung, Dusun Pabuaran, pemilik usaha kripik pisang, saat ditemui HR pekan lalu, dan dia mengaku sudah lima tahun menggeluti usaha tersebut.

Dua kali dalam seminggu hasil produksinya dikirim ke Bandung, dengan total pengiriman minimal 120 kg, sesuai pesanan.

Meski pengirimannya dua kali dalam seminggu, namun untuk memproduksi kripik Amung lakukan setiap hari, mulai dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore, dibantu sekitar delapan orang pekerja masih warga setempat.

Dengan modal awal sebesar Rp1,5 juta, produksi kripiknya belum bisa memenuhi permintaan pasar, baru satu atau dua grosir yang dapat terpenuhi.

Amung mengatakan, bila memiliki modal yang cukup, maka dengan banyaknya pesanan dari luar Banjar, pemasaran kripik pisang dirasakannya cukup menjanjikan.

Permintaan pasar memang banyak, tapi selama ini baru bisa membeli bahan pisang mentah 2,5 kwintal setiap harinya..

Untuk pisang usuk per-kilonya dibeli seharga Rp1.200, sedangkan harga pisang nangka yang kwalitasnya kurang bagus per-kilo Rp1000, dan pisang bagja Rp1.200 /kg.

Dari bahan sebanyak 2,5 kwintal, bisa menghasilkan sekitar 50 kg kripik. Setiap pengiriman Amung mendapatkan keuntungan kotor sebesar Rp500.000, sebab dia harus membayar upah pekerja Rp10.000/hari.

Selain itu, setiap empat hari sekali, Amung harus menyediakan satu kubik kayu bakar, serta menghabiskan 50 kilo minyak goreng.

Harga satu coltbak kayu bakar dari jenis mahoni dan albu Rp250 ribu rupiah, sedangkan harga minyak goreng mencapai Rp8.000.

Mencari kayu bakar berkwalitas seperti pohon karet cukup sulit, kadang dirinya mencari ke daerah Banjarsari, dan Wanareja.

“Kalau menggunakan kayu bakar dari jenis pohon karet, itu bisa lebih irit, beda dengan kayu bakar dari albu dan mahoni. Dengan begitu saya dapat menghemat biaya produksi,” jelasnya.

 

Memberdayakan Warga Lewat Solder Mukena

Usaha memasangkan renda pada mukena telah dijalani Leni (24), warga Priagung, RT 02/01, Desa Binangun, Kecamatan Pataruman, selama dua tahun. Hingga saat ini, dia mampu memberdayakan dua puluh warga Dusun Priagung dan Cilengkong.

Leni mengaku, modal yang dia keluarkan untuk membeli lima ratus potong bahan mukena ukuran 4 meter sebesar Rp5 juta. Sebagian modal diperoleh dari hasil pinjaman ke desa.

“Bahan mukenanya dari Tasik, dan mukena yang sudah dipasangi renda juga nantinya dijual kepada pengusaha mukena di Tasik. Untuk motifnya pun ditentukan dari sana, kita di sini hanya memasangkan saja. Alat yang digunakan sederhana, hanya memakai solder,” kata Leni, pekan lalu pada HR.

Menurut Leni, setiap pekerja mendapatkan upah Rp3.000/potong. Sedangkan, jumlah mukena yang disebar pada 20 orang pekerjanya itu sebanyak 500 potong.

Hasilnya akan dikirim dua kali dalam seminggu, yaitu sebanyak 250 potong. Pengirimannya dilakukan Leni langsung ke Tasik dengan menggunakan sepeda motor. Setiap pengiriman dia mendapat keuntungan sebesar Rp200 ribu.

Keinginan Leni dalam menjalani usahanya itu bisa berkembang. Namun, saat ini masih terkendala permodalan.

“Upami gaduh modal seur mah tiasa balanja leuwih ageung, otomatis barang seueur penghasilan oge leuwih ageung. Sareng masyarakat oge tiasa kaberdayakeun.

Sementara itu Cicih, salah seorang buruh merenda mukena, asal warga Cilengkong, menuturkan, walaupun upah yang diterimanya kecil, tapi bisa membantu meringankan suaminya dalam mencukupi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari.

 

KUR RITEL

Kredit Modal Kerja-Investasi

Pihak perbankan yang kini semakin gencar merangkul sektor usaha mikro yaitu Bank bjb, atau yang dulu kita kenal dengan Bank Jabar Banten.

Dengan program Kredit Usaha Rakyat (KUR RITEL), pihak Bank bjb berharap masyarakat yang berada di Kota Banjar dan Ciamis selatan bisa mampu mengoptimalkan program tersebut.

Branch Manager Bank bjb Banjar, Dindin Rusdiana, mengatakan, program KUR RITEL bjb merupakan kredit modal kerja dan atau kredit investasi dengan pola executing yang diperuntukkan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah serta koperasi (UMKMK), dengan usaha produktif dan juga merupakan usaha berkategori feasible tapi belum bankable.

“Program kredit ini merupakan bukti bahwa pihak Bank bjb tetap konsisten untuk memajukan usaha mikro. Sebab, kredit usaha mikro telah berjalan seiring dengan kami dari dulu, hingga kami menyandang perbankan yang besar dengan kredit mikro,” ucapnya.

Dikatakan Dindin, program KUR RITEL memiliki ketentuan yang mudah dipenuhi pelaku usaha mikro, “Yang penting feasible tapi belum bankable adalah usaha yang layak, tetapi belum memenuhi persyaratan perkreditan dalam hal penyediaan agunan dan atau ijin-ijin usaha,”.

KUR RITEL memiliki dua jenis kredit yaitu, Kredit modal kerja (kredit jangka pendek untuk pembiayaan modal kerja, jangka waktu 3 tahun). Kredit Investasi merupakan kredit untuk pembiayaan investasi barang modal, dengan jangka waktu 5 tahun.

“Plafond kredit ini diatas lima juta rupiah sampai dengan lima ratus juta rupiah, dengan hitungan bunga 14% pa efektif. Ditambah dengan agunan memudahkan seperti SHM/SHGB/SPTB, atau juga bisa dengan BPKB dan surat berharga seperti deposito, tabungan, dan ORI,” jelas Dindin. (Eva/SBH)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles