Kuasa Hukum Carti Upayakan Peninjauan Kembali

04/11/2010 0 Comments

Carti memperlihatkan kedua foto Restiana Lestari (15), siswi kelas 1 SMP Negeri 1 Banjar yang dibunuh pada 13 Mei 2007

Banjar, (harapanrakyat.com),- Kasus pembunuhan terhadap Restiana Lestari (15), siswi kelas I SMP Negeri 1 Banjar yang dibunuh pada 13 Mei 2007 silam di rumahnya di Dusun Margaluyu, RT 06/07, Desa Mulyasari, Kec. Pataruman, Kota Banjar, kini mencuat kembali.

Setelah adanya pengakuan dari salah seorang terdakwa bernama Jajang Rahayu yang menyatakan bahwa dia sebagai pelaku pembunuhan tersebut. Dirinya mengaku selama ini selalu dihantui rasa bersalah.

Atas pernyataan resmi dari Jajang, maka LBH SMKR Kota Banjar selaku kuasa hukum Carti, ibu kandung korban, saat ini tengah mengupayakan PK (Peninjauan Kembali), dengan novum pengakuan Jajang Rahayu sebagai pembunuh tunggal.

Bahkan, pengakuan Jajang telah didokumentasikan dalam bentuk video oleh tim pencari fakta LBH SMKR. Dia juga sudah membuat pernyataan secara resmi atas pengakuannya, dan mendukung LBH SMKR melakukan PK untuk membebaskan lima tersangka lainnya, termasuk Edi.

Restiana merupakan anak dari pasangan Carti dan Edi Haryanto. Pada tanggal 1 September 2007, Edi Haryanto yang merupakan bapak kandung korban, ditangkap oleh aparat kepolisian dari Polresta Banjar dengan tuduhan telah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana.

Selain Edi, polisi juga menangkap lima orang tersangka lainnya yaitu Jajang Rahayu, Dede Elan Setiawan, Mislam, Nuryana dan Supandi. Mereka dituduh turut serta melakukan tindak pidana pembunuhan.

Ketua LBH SMKR Kota Banjar, Teteng Kusjiadi, SH, didampingi Sekretaris Nova Chalimah, SH, mengatakan, berdasarkan versi penyelidikan polisi pada pada waktu itu, Edi telah menyetubuhi Restiana.

Sehingga, untuk menghilangkan aib tersebut dia membunuh anaknya dengan dibantu Dede. Sedangkan tersangka lainnya menjaga di luar rumah agar eksekusi pembunuhan tidak diketahui orang lain. Sebagai imbalan, Edi membayar mereka masing-masing sebesar Rp1 juta.

Atas tuduhan itu, pada tanggal 9 Juni 2008 hakim Pengadilan Negeri (PN) Ciamis memutuskan vonis hukuman selama 12 tahun penjara kepada Edi dan Dede, dan ke empat terdakwa lainnya mendapat hukuman 6 tahun penjara.

“Polisi memang sudah benar melakukan penangkapan terhadap Jajang, cuma polisi terlalu cepat mengambil kesimpulan. Dan hasil investigasi kami, bahwa saat pembunuhan terjadi Edi dan Carti pergi ke undangan ke Cikaronjo Cilacap Jawa Tengah. Dan Edi mengaku dia tidak pernah menyetubuhi anak kandungnya tersebut,” jelas Teteng, yang membeberkan secara resmi kepada wartawan di Sekretariat LBH SMKR, Minggu (31/10).

Kemudian, lanjut dia, pada saat yang sama ke lima tersangka mempunyai alibi kalau mereka sedang berada di tempat lain, dan antara tersangka tidak mengenal satu sama lainnya.

Teteng mengatakan, pada waktu itu yang dijadikan saksi kunci oleh polisi adalah Entin, masih tetangga korban. Berdasarkan versi penyelidikan polisi, saat kejadian Entin melihat aksi pembunuhan yang dilakukan Edi terhadap anaknya dari jendela rumah korban. Padahal, menurut warga sekitar bahwa Entin itu orang yang terganggu mentalnya (gila).

“Sejak awal sebetulnya kami menemukan kejanggalan dalam kasus ini. Kalau Entin betul melihat dari jendela, pasti ke empat tersangka lain yang berjaga di luar rumah akan mengetahuinya,” kata Teteng.

Namun, ke enam tersangka itu terpaksa mengakui dan menandatangani BAP lantaran mereka tidak tahan disiksa oleh oknum polisi secara tidak manusiawi.

Pada persidangan di PN Ciamis, perkara No.18/Pid.B/2008/PN.Cms, para tersangka mencabut keterangan BAP nya, serta menghadirkan saksi-saksi yang meringankan mereka.

Dan, salah seorang terdakwa yaitu Jajang Rahayu mengaku sebagai pembunuh tunggal Restiana Lestari dengan motif pencurian. Tapi, hakim tidak mengindahkan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan, akhirnya vonis hukuman pun dijatuhkan.

“Upaya hukum banding dan kasasi sudah diajukan, namun hasilnya tetap sama bahwa mereka dinyatakan bersalah. Bahkan pidana hukumannya diperberat. Upaya kami yang lain adalah melaporkan tindak kekerasan yang dilakukan oknum anggota Polresta Banjar ke Kompolnas pada 27 September 2007 di Jakarta. Tapi tidak ada realisasi lebih lanjut,” tuturnya.

Meski demikian, pihaknya akan terus berupaya untuk membebaskan Edi Haryanto, Dede Elan Setiawan, Mislan, Nuryana dan Supandi agar terbebas dari jerat hukuman penjara.

“Carti sudah sangat teraniaya, anaknya meninggal, ditambah suaminya dipenjara atas perbuatan yang tidak pernah dia lakukan. Untuk itu kami sangat mengharapkan kedatangan tim Satgas Mafia Hukum,” ujar Nova menambahkan.

Sementara itu, Carti yang juga hadir di Sekretariat LBH SMKR sebagai saksi dalam ekspose mengungkap fakta baru, mengatakan, saat kejadian suaminya selalu bersama dia sejak berangkat menghadiri undangan di Cilacap hingga pulang lagi ke rumah.

Dia mengaku berpisah dengan suaminya itu sekitar 15 menit saat membeli bakso. Tempatnya pun cukup jauh dengan rumah yang menjadi TKP. Sangat tidak mungkin bila Edi pulang dulu ke rumah, kemudian membunuh anaknya dan kembali lagi menemui Carti dalam waktu 15 menit.

“Makanya dari awal saya sangat yakin bahwa suami saya tidak melakukan pembunuhan, dan tidak pernah menyetubuhi Restiana yang mana sebagai anak kandungnya. Bohong jika sebelumnya Restiana dituduhkan sebagai anak tiri, buktinya ada akte kelahiran,” ungkapnya.

Carti mengatakan, sejak suaminya dipenjara dia tidak lagi tinggal di rumahnya. Lantaran, rumah dan bengkel penggergajian yang dimilikinya sudah habis dijual. Dan sejak itu dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di daerah Dadaha, Tasikmalaya.

Menanggapi fakta baru mengenai pembunuhan terhadap Restiana Lestari, Kaploresta Banjar, AKBP Tedi Hermansyah, SIK, mengatakan, meski waktu itu bukan massa kepemimpinannya, namun saat ini dirinya tengah mempelajari kasus tersebut.

“Saya masih mempelajari kasusnya. Kalau mau mengajukan PK ya silahkan saja, itu hak mereka,” kata Tedi, saat dijumpai HR di sela-sela acara sidang paripurna DPRD Kota Banjar, Senin (1/11).   (Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!