Pengembangan Pasar Terkendala Permodalan Investasi

27/11/2010 0 Comments

Pekerja UKM Intan Putra tengah melakukan pengepakan berbagai makanan olahan hasil produksinya untuk dikirim kepada para pelanggan. Foto : Eva Latifah/HR.

Banjar, (harapanrakyat.com).- Usaha Kecil Menengah (UKM) Intan Putra yang telah memproduksi berbagai macam makanan ringan, seperti kue chese stik, pangsit, keripik singkong dan kerupuk uniko telah berjalan selama kurun waktu lima tahun. Pengembangan usaha menjadi kendala terbesar, setelah memiliki pangsa pasar yang ada saat ini.

Pemilik Intan Putra, Tatang Sutiawan, yang beralamat di RT 11/06, Lingkungan Lembur Balong, Kel/Kec. Pataruman, Kota Banjar, saat ditemui HR di tempat produksinya, Minggu (21/11), tengah sibuk menggoreng kerupuk uniko. Sedangkan Nonok istrinya, memindahkan kerupuk yang telah ditiriskan ke tempat pembungkusan.

Mereka berdua dibantu sekitar lima orang pekerja yang masih kerabat dekatnya.Dua diantaranya bertugas mencetak kerupuk dengan menggunakan alat penggilingan manual.

Sedangkan tiga orang lainnya bertugas memasukkan kerupuk ke dalam plastik ukuran sedang hingga tersusun rapih, lalu mengepaknya menggunakan kantung plastik yang ukurannya lebih besar.

Menurut Tatang, selama ini dia memproduksi jenis makanan sesuai pesanan dari para pedagang grosiran di pasar, maupun toko-toko kue yang sudah menjadi langganannya.

Pemasarannya pun tidak hanya di Kota Banjar saja, tapi sampai juga ke daerah lain, seperti Cikoneng, Kab. Ciamis dan Pasar Majalaya, Kab. Bandung.

Semua jenis makanan hasil produksi UKM Intan Putra dijual kepada pelanggannya seharga Rp3.500/pak. Sedangkan, para pedagang grosiran di pasar menjual ke konsumen Rp4.500, sementara toko kue bisa menjualnya sampai Rp6.000.

Tatang menceritakan, sebelum membuka usaha sendiri, dia ikut bekerja di pabrik makanan olahan milik kakaknya di daerah Banjaran, Kab. Bandung. Penghasilan dari pekerjaan itu dia simpan. Setelah jumlah tabungannya cukup, maka Tatang pulang ke Banjar dan mencoba membuka usaha sendiri.

Dia mengungkapkan keinginan untuk lebih mengembangkan usahanya, lantaran selama ini, produksinya belum mampu memenuhi permintaan dari konsumen lain selain pelanggannya.

Hal itu akibat terkendala masalah permodalan, hasil penjualan belum bisa menambah jumlah produksi. Pendapatannya hanya cukup untuk membayar pekerja, memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari, dan membeli bahan kebutuhan sesuai pesanan pelanggan.

“Sistem penjualannya terlebih dahulu mengirimkan barang, nanti pembayarannya dilakukan pada waktu pengiriman barang berikutnya. Sehingga untuk memenuhi pesanan pelanggan di Majalaya, terpaksa harus nunggu hasil penjualan di Banjar dan Cikoneng. Kalau modal cukup, tentu pengiriman tidak akan terlambat,” ujarnya.

Tatang mengaku, tahun 2008 silam dia pernah mengajukan pinjaman permodalan ke Bank Jabar Banten Cabang Banjar, sekarang Bank bjb Cabang Banjar. Karena, berdasarkan arahan Walikota Banjar, DR dr H Herman Sutrisno MM, pada pertemuan antar UKM dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi, bahwa UKM bisa memperolah pinjaman modal dari bank tersebut.

Setelah dapat informasi dari Walikota, maka Tatang segera membuat persyaratan sesuai ketentuan yang berlaku, lalu menyerahkannya kepada pihak bank. Jumlah pengajuan pinjaman sebesar Rp15 juta.

Ketika itu, petugas bank mengatakan bahwa pihaknya akan menghubungi Tatang untuk memberitahu kapan survey dilakukan.

Dan, berdasarkan hasil survey, permohonannya ditolak oleh pihak bank dengan alasan usaha Tatang belum layak diberi pinjaman. Petugas bank malah menyarankan supaya Tatang mengajukan permodalannya ke kelurahan. Sementara pinjaman ke pihak kelurahan maksimal hanya Rp. 5 juta, tentu saja tidak akan mencukupi kebutuhan yang diperlukan.

KUR RITEL

Pengajuan Kredit Untuk Kebutuhan Usaha, Bukan Keinginan Kreditor

Menanggapi kendala dan keluhan UKM Intan Putra, Branch Manager Bank bjb Cabang Banjar, Dindin Rusdiana, melalui Manager of Commercial and Consummer Bank bjb Cabang Banjar, Wawan Setiawan, menjelaskan, bahwa ada beberapa faktor mengenai penolakan yang dilakukan pihak bank terhadap pengajuan kredit dari calon nasabah.

Salah satunya, jika persyaratan yang diajukan calon nasabah kurang memenuhi. Namun, kalau pun ada kekurangan, pihak bank akan memberitahukannya secara langsung, atau melalui surat.

Atau, pengajuan kredit yang diajukan oleh calon kreditor terlalu besar, yang tidak sesuai dengan kebutuhan untuk menambah biaya permodalan investasi dalam pengembangan pasar produksi seperti yang diharapkan.

Tim analis kredit Bank bjb akan menganalisa jumlah ajuan kredit yang diajukan kreditor sesuai dengan target capaian mereka. Hal itu, bertujuan agar calon kreditor dalam melakukan pinjaman, dapat dipergunakan sepenuhnya dalam mengembangkan usahanya, bukan malah kredit untuk diluar keperluan usaha atau konsumtif.

“Kami juga akan menolak, jika calon kreditor keukeuh ingin mendapatkan kredit sesuai dengan keinginannya, bukan kebutuhannya. Karena, kami tidak ingin membebani kreditor, melainkan ingin memajukan usahanya,” jelas Wawan, Senin (22/11).

Namun, Wawan berjanji, bagi UKM Intan Putra silahkan saja mengajukan kembali permohonan kreditnya. Nanti pihaknya akan menganalisa kembali apa yang menjadi bahan penolakan pada pengajuannya terdahulu. (Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!