Serangga, Hewan Penghasil Hormon Awet Muda

04/11/2010 0 Comments

Serangga penghasil hormon yang bisa menjadi awet muda

R. Erly Risandy, S.Pt

Pada serangga ada sesuatu yang rupanya menyimpang dari kebiasaan, moral dan psikologi dunia, sehingga serangga itu memberikan kesan seakan-akan berasal dari planet yang lebih seram, lebih giat, lebih keras, lebih kejam, lebih jahanam daripada planet kita (Maurice Maeterlinck).

Serangga merupakan mahluk yang terdapat di seluruh permukaan bumi. Hampir tak ada satu  pun tempat di muka bumi ini yang tak didiami oleh serangga. Di mana pun kehidupannya, serangga agaknya mampu melestarikan diri secara unik dengan membuat dirinya tak terhancurkan. Ada beberapa serangga yang mampu hidup pada suhu -34ºC dan ada pula yang tinggalnya di mata air panas dengan suhu 48,9ºC. Serangga begitu tinggi daya penyesuaiannya menghadapi perubahan kehidupan sehingga menjadikannya sebagai satu-satunya mahluk yang dapat melabrak dominasi manusia atas planet ini. Dr.W.J.Holland mengilustrasikan bahwa kelestarian serangga akan melampaui  kelestarian manusia :”Bila bulan menghilang dari langit, surya di tengah hari merah pudar, lautan membeku dan lapisan es merayap dari kedua kutub ke khatulistiwa…bila semua kota telah mati dan menghilang tanpa bekas, serta kehidupan di muka bumi hampir punah, maka di atas gugusan kecil lumut kerak pada cadas licin di samping salju abadi Panama akan terdapat seekor serangga kecil, bertengger dengan antena mencuat di sinar pudar matahari, yakni kutu-kutu murung, satu-satunya pelestari binatang di bumi!”.

Selama lebih dari 350 juta tahun serangga dapat melestarikan diri secara berkesinambungan. Diantaranya ada yang menguntungkan dan ada pula yang merugikan manusia. Yang merugikan misalnya yaitu menyebabkan penyakit, menyebabkan gagalnya panen, merusak sarana dan pra sarana manusia dan lain-lain. Yang menguntungkan manusia yaitu sebagai bahan makanan, bahan penelitian biologis dan genetik, bahan industri, sumber keindahan dan lain-lain. Tinjauan untung ruginya suatu serangga tergantung dari sudut pandang dan siapa yang berbicara.

Serangga teryata menyimpan banyak potensi yang masih menjadi misteri bagi manusia. Belum semua misteri ini terpecahkan oleh manusia dan masih menjadi teka-teki serta pertanyaan yang harus dipecahkan. Salah satu misteri yang masih harus digali lebih lanjut yaitu kemampuannya menghasilkan hormon awet muda. Hormon ini tidak terdapat pada setiap serangga melainkan hanya terdapat pada serangga yang mengalami metamorfosis sempurna. Kurang lebih 87% dari semua jenis serangga yang dikenal telah mengembangkan metamorfosis rumit, dari telur menjadi larva, kemudian bermetamorfosis sebagai pupa kembali ke bentuk asli dewasa.

Penemuan akhir-akhir ini mengungkapkan bahwa selain pertumbuhan, pelungsungan pun dikendalikan hormon. Menjelang saat pelungsungan, kelenjar tanpa saluran di kepala serangga mengeluarkan hormon. Hormon ini dibawa darah dan berperan sebagai pewarta serta mengaktifkan kelenjar pelungsungan dan menumbuhkan kerangka baru. Hal ini telah dibuktikan dengan menyuntikan darah serangga yang akan melungsungkan pada serangga yang belum tiba waktunya melungsung. Serangga penerima tranfusi itu menanggalkan pembungkusnya sebelum waktunya.

Tetapi apakah gerangan yang mengendalikan hormon tadi? Apakah yang mencegah bekerjanya hormon pada serangga kecil, hingga dapat menjadikannya berbentuk dewasa kerdil? Tepat di belakang otak serangga, para peneliti telah menemukan sepasang kelenjar yang dinamakan corpora allata. Dari pembedahan teryata bahwa kelenjar ini terdapat pada setiap serangga yang bermetamorfosis sempurna. Dengan pembedahan yang dilakukan dengan hati-hati para ilmuwan telah berhasil mengangkat kelenjar tadi dari larva hidup. Bila hal ini dilakukan, serangga itu akan mengakhiri kehidupannya sebagai larva. Bagaimana pun tahap perkembangannya, pada pelungsungan berikutnya serangga itu akan memintal kepompong kerdil dan muncul sebagai serangga dewasa yang kerdil pula. Demikianlah, pengambilan corpora allata memperpendek masa muda serangga dan memaksanya masuk ke alam dewasa sebelum waktunya. Karena peranannya adalah mempertahankan kemudaan serangga, maka sekresi kelenjar tadi disebut hormon “pengawet muda”.

Pengambilan corpora allata teryata menyebabkan larva menjadi pupa sebelum waktunya. Begitu pula pencangkukan kelenjar ini pada larva dewasa tepat menjelang berubahnya menjadi pupa akan membuat serangga itu muda kembali.

Begitulah kehidupan dan pertumbuhan serangga tampaknya terdiri dari banyak mekanisme halus yang kait-mengkait. Entah karena terbawa hormon yang sedang pasang, entah karena terangsang stimulus seperti suhu dan cahaya, atau terpengaruh kehadiran serangga lain, pada tiap  tahap kehidupan serangga harus mengikuti kebiasaan rumit yang berevolusi jutaan tahun.

Pemberian hormon awet muda, misalnya, dapat mencegah dewasanya larva atau berbiaknya. Namun akal ini hanya efektif terhadap serangga, seperti nyamuk malaria, yang menjadi berbahaya bila dewasa. Banyak hama pertanian menimbulkan kerusakan paling parah pada tahap larvanya. Larva ini dapat diperangi dengan anti hormon awet muda yang menghancurkan larva dengan memacu tumbuhnya metamorfosis sebelum waktunya.

Membalikan mekanisme serangga untuk memusnahkan dirinya ini mempunyai beberapa keuntungan. Serangga tidak mungkin mengembangkan daya tahan terhadap proses kehidupannya sendiri, sedangkan insektisida buatan manusia, serangga kerap kali menjadi kebal.

Dilihat dari manfaat hormon tadi, perlu sekiranya para ahli untuk meneliti dan mempelajarinya lebih lanjut. Perlu di teliti apakah hormon tersebut dapat dimanfaatkan untuk manusia, mengingat akhir-akhir ini banyak orang yang ingin tampil awet muda. Berbagai cara ditempuh manusia agar senantiasa awet muda. Bila hormon awet muda ini berhasil diproduksi secara masal dan dapat digunakan oleh manusia, sungguh merupakan penemuan yang menakjubkan. Pada manusia sendiri, masih diteliti lebih lanjut apakah yang menyebabkan mereka menjadi tua. Apakah disebabkan oleh penuaan sel ataukah disebabkan oleh kerja hormon tertentu atau disebabkan oleh “sesuatu” yang sampai hari ini belum diketahui secara pasti oleh para ahli. Tentunya hal ini menjadi pertanyaan para ahli yang harus segera dicarikan jawabannya. Bila hal ini terungkap, maka akan terkuaklah tabir misteri yang selama ini membayangi asal mula kehidupan manusia.***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply