Setelah Tembakau, Distan Akan Kembangkan Perkebunan Rakyat Pola Vegetatif

27/11/2010 0 Comments

Bidang Hutbun klaim telah miliki kebun kakao 240 hektar dan kelapa 2.333 hektar

Banjar, (harapanrakyat.com),- Tahun 2011 mendatang, Dinas Pertanian Kota Banjar akan mendapat dua program bantuan, yaitu program rehabilitasi lahan kritis, dan bantuan pengembangan kawasan perkebunan.

Besaran dana untuk rehabilitasi lahan kritis diperkirakan mencapai Rp. 1 milyar hingga Rp. 1,5 milyar rupiah. Sedangkan, bagi program pengembangan kawasan perkebunan mencapai Rp. 2 milyar hingga Rp. 2,5 milyar.

Hal tersebut dikatakan, Kabid Perkebunan dan Kehutanan, Dinas Pertanian Kota Banjar, Ir Komarudin S, ketika ditemui HR di ruang kerjanya, Senin (22/11). Menurutnya, program bantuan juga meliputi pemberian alat pengolahan pasca panen.

“Bantuan yang diterima bukan hanya bibit tanaman saja, tapi ada pula pemberian alat pengolahan pasca panen, serta program perbaikan akses jalan yang dianggap menjadi akses distribusi hasil pertanian dan perkebunan,” jelasnya.

Komarudin mengatakan, berdasarkan data yang dimilikinya,  di Kota Banjar tercatat memiliki lahan kritis seluas 207 hektare tersebar di empat kecamatan, dan baru ter-rehabilitasi seluas 50 hektare.

Untuk itu, dana rehabilitasi lahan kritis rencananya akan digunakan untuk kegiatan pembelian bibit pohon sekaligus penyemaiannya. Kegiatan tersebut dilakukan oleh kelompok tani.

“Dari pengalaman, saya menilai jika kita terus hanya membeli bibit, itu tidak efektif terhadap anggaran. Namun, jika kita mulai mencoba untuk menyemai bibit oleh kelompok tani, saya kira akan lebih efektif,” ucapnya.

Pengembangan perkebunan akan mengacu pada perkebunan rakyat, dengan pola vegetatif, yaitu penanaman pohon dalam satu kawasan, dengan berbagai jenis komoditas perkebunan.

Bagi program pengembangan perkebunan terfokus pada tiga komoditi perkebunan yang akan digalakan diantaranya, penanaman pohon kelapa, lada panjat, dan kakao. Sehingga, dalam satu lahan pertanian dapat ditumbuhi tiga komoditas.

“Kami akan menggunakan pola vegetatif, contohnya, pohon kakao memerlukan peneduh agar dapat tumbuh optimal. Maka kami akan merehabilitasi tanaman kelapa sebagai peneduh tanaman kakao,” katanya.

Selanjutnya, pada pengembangannya, akan dibentuk beberapa kelompok tani seperti untuk dua kelompok tani lada, tujuh kelompok tani kelapa dan kakao. Sedangkan bagi penanganan pasca panen akan dibentuk dua kelompok tani.

Lebih lanjut Komarudin menjelaskan, untuk luasan kebun tanaman kakao yang dimiliki pihaknya, tercatat seluas 240 hektare, namun baru berproduksi seluas 16 hektare.

“Melihat potensi seperti itu sangat menjanjikan, oleh karena itu kami akan melakukan pengembangan tanaman kakao, dengan model perkebunan rakyat seluas 1.200 hektare,” katanya.

Selanjutnya, untuk komoditas buah kelapa, Kota Banjar memiliki lahan seluas 2.333 hektare. Bila dihitung, jika 1 hektare lahan ditumbuhi 100 pohon kelapa dengan perhitungan 1 pohon menghasilkan 5 buah kelapa, maka dari lahan seluas 1 hektare dapat menghasilkan 500 buah kelapa setiap harinya.

“Dengan perhitungan yang telah kami telaah, kalau dari 1 hektare lahan dapat menghasilkan 500 buah kelapa dalam sehari, maka Kota Banjar dapat menghasilkan 1.116.500 buah kelapa per hari,” ucapnya.

Menurut Komarudin, untuk membuat 1 kilogram minyak kelapa dibutuhkan kurang lebih 10 buah kelapa, maka dari 1.116.500 buah bisa menghasilkan minyak kelapa sebanyak 116.650 kilogram per hari.

Bila melihat potensi yang ada, lanjutnya, memang sangat menjanjikan. Namun, pengembangan pertanian di Kota Banjar terkendala dengan luasan lahan, sehingga saat ini pihaknya berusaha untuk mengoptimalisasikan lahan saja. (pjr)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!