Akhir Tahun, Harga Beras Capai Rp. 6.500/Kg

09/12/2010 0 Comments

Meski kwalitas beras yang beredar setingkat lebih rendah dari Ciamis dan Tasik

Banjar, (harapanrakyat.com),- Di penghujung tahun 2010, harga beras di Pasar Banjar mengalami kenaikan dari semula Rp. 5.600- 5.800, menjadi Rp. 6.200-6.500 per/kg.

Hal itu dikatakan H. Muh (60), salah seorang padagang beras pasar Banjar, saat ditemui HR, Selasa (7/12). Menurutnya, harga beras di Kota Banjar berbeda dengan harga beras di luar Kota Banjar.

“Untuk kwalitas beras yang beredar di Kota Banjar, menurut saya kwalitasnya berada setingkat lebih rendah dari wilayah Ciamis dan Tasikmalaya. Sehingga harganya tidak terlalu mahal. Harga beras sekarang belum ada kenaikkan lagi, sejak tiga bulan silam,” jelasnya.

Muh mengaku, untuk memenuhi kebutuhan barang dagangannya, dia mengambil beras dari wilayah Langensari dan sebagian dari Lakbok, Kab. Ciamis.

Sementara itu, salah seorang pedagang beras di dalam Pasar Banjar, yang namanya enggan dikorankan, mengatakan, bahwa harga beras kemungkinan akan naik, karena saat ini pasokan beras yang diterimanya mulai berkurang.

Jika pasokan beras berkurang, tentunya akan berpengaruh pada harga beras. Dia mengaku, beras kwalitas biasa saat ini dijualnya seharga Rp6.300 per kilo, sedangkan untuk beras kwalitas super dijual Rp6.600 per-kilo.

Walaupun saat ini belum mengalami kenaikan, tapi masyarakat, khususnya kaum ibu rumah tangga mengaku merasa khawatir harga beras akan mengalami kenaikkan lagi.

Seperti dikatakan Sri (40), salah seorang warga yang dijumpai HR di Pasar Banjar. Dia mengaku kalau dirinya merasa takut apabila harga beras kembali naik. Dikarenakan penghasilan suaminya selama ini, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja.

“Ya merasa was-was kalau sampai harga beras naik lagi. Jika penghasilan suami besar sih tidak apa-apa, mau naiknya berapa juga. Tapi masalahnya untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja susah,” katanya.

Keluhan yang sama dikatakan Marni (37), bahwa menurutnya, harga beras sekarang saja sudah sangat memberatkan, terutama bagi kalangan masyarakat kecil seperti dirinya.

“Saya kadang suka bingung dengan pemerintah. Ketika harga beras tidak stabil, sepertinya hanya diam saja, apa tidak ada kepedulian terhadap rakyat kecil. Dan siapa yang mempunyai kewenangan menaikan dan menurunkan harga beras. Apakah petani, pemerintah, atau hanya sekelompok orang yang memanfaatkan kesempatan,” tanyanya. (Redy)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply