Pengangkatan Direktur RSUD Ciamis Terus Mengundang Polemik

23/12/2010 9 Comments

Gara-gara Latarbelakangnya Bukan Seorang Dokter

Ciamis, (harapanrakyat.com),- Diangkatnya Dede Saeful Uyun, sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kab. Ciamis, terus mengundang polemik. Pasalnya, pengangkatan Dede sebagai orang nomor satu di RSUD Ciamis, ditenggarai telah ‘menabrak’UU nomor 44 tahun 2009 tentang rumah sakit.

Dalam UU tersebut pada pasal 34 ayat 1 tersirah bahwa direktur rumah sakit harus seorang tenaga medis yang mempunyai kemampuan dan keahlian di bidang kerumahsakitan. Sementara latarbelakang pendidikan Dede hanyalah seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat dan Magister Kesehatan. Karenanya, pengangkatan direktur rumah sakit yang basicnya bukan tenaga medis, dianggap telah melanggar undang-undang.

Menurut salah seorang dokter yang namanya enggan dikorankan, yang dimaksud tenaga medis hanya dokter umum dan dokter gigi. Sementara magister (S2) bidang kerumahsakitan (MARS), tidak bisa dikatakan atau diartikan sebagai tenaga medis.

Disamping itu, lanjut dia, pentingnya direktur RSUD dipimpin oleh seorang dokter, manakala terjadi penanganan medis terhadap pasien yang darurat. Disaat itulah perlunya seorang leader (yang paham medis) yang memberikan arahan dan pengawasan kepada dokter yang tengah menangani pasien tersebut.

“ Leader yang dimaksud tentunya harus seorang dokter. Makanya, di sini pentingnya seorang direktur RSUD yang berlatarbelakang dokter, “ terangnya.

Menanggapi hal itu, Bupati Ciamis, H. Engkon Komara, mengatakan, pihaknya akan segera mengkaji pengangkatan Dede Saeful Uyun sebagai Dirut RSUD Ciamis. “Kalau ternyata tidak sesuai dengan UU, maka akan segera kita ganti direktur rumah sakit. Karena, kita tidak mau dianggap melanggar UU,” ujarnya, pekan lalu.

Masih dalam UU tersebut, pada pasal 64 ayat 1 dinyatakan bahwa sejak UU rumah sakit berlaku, maka semua rumah sakit yang sudah ada harus menyesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. ” Jika begitu, kita akan secepatnya mengkajinya,” kata Bupati.

Kepala Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah (BKDD) Kab Ciamis, H.Sukiman, mengatakan, waktu pengangkatan Dede Saeful Uyun, saat itu masih belum berlaku UU tentang rumah sakit.

“UU rumah sakit dilembar negarakan tanggal 28 Oktober 2009, sementara direktur rumah sakit dilantik 14 Oktober 2009. Jadi, saat pengangkatan waktu itu, tidak bertabrakan dengan UU tersebut. Karena hukum tidak berlaku surut,” jelasnya.

Sukiman menjelaskan, pengangkatan Dede Saeful Uyun sebagai direktur, dengan mempertimbangkan latarbelakang pendidikannya sebagai magister kesehatan (M.Kes). Menurut “ Selain itu, dia juga sudah cukup memenuhi persyaratan waktu itu, karena saat menempuh kuliah magisternya mengambil jurusan manajemen rumah sakit,” terangnya.

Seperti diberitakan HR, beberapa waktu lalu, Direktur LSM LPPM Ciamis, Nanang Permana, SH, mengatakan, pengangkatan Dede Saeful Uyun sebagai direktur RSUD Ciamis, sarat kontroversi. Pasalnya, latarbelakang pendidikan Dede Saeful Uyun yang notabane Sarjana Kesehatan Masyarakat, tidak bisa dikatakan sebagai ahli perumasakitan sebagaimana yang diatur dalam UU 44 tahun 2009 tentang rumah sakit yang mengatur syarat seorang Direktur RSUD.

“ Makanya, kita berpendapat bahwa pengangkatan Dede Saeful Uyun sebagai Direktur RSUD, cacat secara hukum,” ungkapnya. (Bgj)

About author

Related articles

9 Comments

  1. OOM January 23, at 00:50

    duh, karunya ka pa direktur,,, sing sabar pak eta mah ujian. abi ngaraoskn anu di rasakn ku bapak dipikamusuh ku batur sorangan padah te sesuai cenah

    Reply
  2. panembahan pasopati February 22, at 17:09

    yang bikin Undang Undang Nya dari medis jadi semuanya menguntungkan untuk medis...direktur nya harus medis....memangnya di rumah sakit hanya medis? ada paramedis, ada paramedis lain yg juga byk mengerti ttg kemedisan, apa yg lain tidak boleh jd direktur? apa medis bisa bekerja tanpa dibantu oleh tenaga kesehatan lain?...memengnya medis itu DEWA....????...hanya di departemen kesehatan yg semuanya pucuk pimpinan harus dari medis/dokter, mentri nya, dirjennya, direkturnya dll....coba liat di departemen yg lain dikbud misalnya pembantu sekolah bisa jadi kepala sekolah bahkan kepala dinas pendidikan atau mentri sekalipun asal dia sekolah...tidak harus selalu lulusan IKIP misalnya....parah memang bangsa ini bikin undang2 demi kepentingan dirinya sendiri demi perutnya sendiri...durhaka

    Reply
  3. oomkomalawati March 09, at 06:25

    ga usah gentar pa direktur undang2 siapa yg buat begitu kebijakan dah turun mo di tarik apa jadinya negara kita ini kamu bukan medis tapi kamu adalah tenaga kesehatan yg mampu menembus itu berarti kamu yg terpilih kita ga usah kaku dg peraturan selagi tidak menggagu pelayanan kecuali mengganggu ferformens kita dan organisasi lain kita harus bangkit dan membuktikan kita mampu dan bisa membawa institusi kesehatan tidak kaku dunia ini luas dan berkembang bravo pa direktur aku akan menyusul dimana dunia kesehatan mampu di tembus bukan dari golongan tertenttu okey salam

    Reply
  4. sakura April 19, at 17:41

    yee pak doktr ht2 klo bkomentr...d rumah sakit yg d namakan medis itu bukan cuma dokter..perawat jg masuk k medis,n byk jg ko tman2 perawat n paramedis lainny yg lbih pintar n lbih ahli dari yg namany doktr...jd jangan sombong mentang2 doktr bs bkuasa,toh d rumah sakit ga kerja sndri tp saling berkolaborasi dr doktr,perawat dan tmn2 paramedis lainny.

    Reply
  5. examinar April 27, at 11:39

    sesaui dengan aturan (uu), memang seharusnya yang menjadi direktur rumah sakit adalah para ahli medis. akan tetapi kesemuaan itu kurang benar bila dikaitkan dengan keahlian, semua memiliki keahlian/fungsi masing2, dokter berfungsi sbg tenaga medis, MARS/MMR berfungsi dalam manajerial atau direktur rumah sakit. sebaiknya kita melakukan suatu hal sesuai dengan fungsi dan keahlian kita masing2 (bertindak adil dan tidak serakah).

    Reply
  6. rambo October 05, at 07:28

    makax kalian org2 diluar profesi dokter harus bersatu melawan kerakusan org2 medis. carax, jika terdapat kesalahan penanganan pasien yg tdk sesuai etika & protap. mk dorong kluarga pasien untk maju kehukum skecil apapun malpraktik merka.

    Reply
  7. koruptorciamis December 24, at 13:26

    Aneh bin ajaib.itulah ciamis,dari dulu kota kkn.yg diangkat jadi direkturmah ga salah,tp yg ngangkatnya.kepada bapak2 yg terhormat yg mencaci maki dokter meleklah sedikit,dan mungkin beliau maksudnya bkn begitu.bukan di rsud aja yg tidak sesuai pendidikannya.di dinas yg lain juga banyak.makanya tambah subur aja kkn diciamis#sedihuyningalciamis

    Reply
  8. unadi March 12, at 20:49

    Ahhh..katinggaleun. ... Enyalah dimana mana oge kasusna sama

    Reply
  9. riyan August 09, at 10:18

    Emang dr aja ya tenaga medis,,perwat, bidan,tenaga farmasi,apoteker dan ners itu apa ya hehehe

    Reply

Leave a Reply