Banjar Pertahankan Karakter Kota Kecil

27/01/2011 0 Comments

Suasan adi jalan M. Isa yang merupakan jalur lintas selatan Pulau Jawa yang melintasi Kota Banjar. Foto : Pajar Martha/HR.

Perubahan ke arah kota nyaman tinggal, tidak meninggalkan ciri khas kota. Pemerintah kota terus berbenah membangun infrastruktur untuk memberikan kenyamanan warganya hidup di kota jasa, perdagangan dan transit yang bermimpi menjadi kawasan Agropolitan.

***

Di kampung Gudang, Bobojong, Rancagaok yang tidak jauh dengan pasar, stanplat bus dan angkutan roda empat, stasiun kereta api. Semua potret buruk tentang sebuah kota yang sedang tumbuh, terjerembab menjadi satu. Kumuh, pengap, bau, jauh dari rasa aman para pencopet, dan menjadi etalase pekerja seks. Sesuai dengan namanya “Kota tak pernah tidur”.

Hampir semua rumah di kawasan yang berjarak tiga kilometer dari alun-alun Kewadanan Banjar, berumah panggung dan gubuk-gubuk reot. Permukiman itu juga menjadi kediaman preman kampung, pemulung dan pengemis yang berdatang dari daerah lain.

Bila kondisi itu sekarang, “Benar-benar suram dan tidak nyaman,” kata sumber HR seorang kakek berusia 80 tahun, warga kampung di bantaran sungai Citanduy itu.

Jangan dulu berburuk sangka. Jangan coret Kota Banjar dari destinasi Anda. Segala cerita suram itu kisah 51 tahun lalu. Tapi ada keunikan lain dari cerita tempo doeloe tentang kota Banjar yang masih berada di wilayah Kabupaten Ciamis.

Banjar adalah kota yang tak pernah tidur, memang nyata adanya. Daerah ini dulu adalah penghasil PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kabupaten Ciamis terbesar mencapai angka 30 persen lebih. Kenapa? Sebagai daerah perlintasan arus barang dan manusia antar provinsi di selatan Pulau Jawa.

Wilayah geografis Banjar memiliki peran strategis bagi kelancaran pasokan barang dari dan ke berbagai daerah di Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Setiap hari jalan-jalannya di daerah itu selalu dilintasi oleh kendaraan pengangkut komoditas barang dan jasa, sekaligus pula arus mobilitas manusia antar wilayah tidak hanya jalan lalu lintas darat juga jalur kereta api.

Itulah Banjar tempo doeloe, pusat keramaian siang di pasar karena bersatu dengan stanplat kendaraan roda empat bus dan truk naik turunkan barang dan orang. Sejak lama Banjar merupakan magnet center wilayah Cilacap barat Jawa Tengah, Ciamis selatan, Cimaragas, Cisaga dan Rancah yang saat itu masuk wilayah Kewadanan Banjar.

Pusat keramaian malam, masih kawasan pasar, Jl. Gudang (sekarang Jl. R. Hamara Efendi), Jl. Merdeka (sekarang Jl. Letjen Suwarto), Jl Buntu, depan stasiun KA dan Jl. Pamarican, kegiatan malam pasar ceplak kalau sekarang mirip kawasan wisata kuliner.

Tempat hiburan di Jl. Merdeka ada dua tempat, yaitu pagelaran budaya wayang orang satu bioskop Saudara yang sekarang menjadi Yogya Toserba, dan di Jl. Gudang ada bioskop Kenangan yang gedungnya sudah rusak berat, kini menjadi rumah hantu.

Penginapan dan losmen banyak sekali seperti Hotel Sukapura sekarang menjadi Bank BNI, penginapan Famili sekarang masih ada di Jl. Letjen Suwarto dan losmen bertebaran di Jl. Buntu, namun di Jl. Stasiun sekarang tidak ada lagi. Muncul Hotel Mekarjaya di Jl. Cimaragas sekarang Jl. Husen Kartasasmita dan Hotel Mustikasari di Jl. Kantor Pos. Bahkan tamu-tamu baik pemerintah dan swasta bila datang ke Ciamis kerap menginap di Banjar.

Dulu pernah ada rumah makan cukup terkenal yaitu rumah makan Soponyono, dan rumah bilyar bola tiga yang sekarang menjadi sekretariat PDI-P di perempatan BNI, yang buka selama dua puluh empat jam. Itulah pusat keramaian Banjar dulu, kegiatan hiburan seperti wayang orang dan bioskop pertunjukannya selesai sampai pukul 12 malam. Dalam seminggu sekali bioskop mengadakan pertunjukan midnight show, penontonnya pun berdatangan dari luar kota, seperti Majenang, Cisaga, Rancah, Cimaragas. Pamarican, Banjarsari dan Lakbok. Dan kegiatan lainnya di Jl. Buntu atau stasiun bagian dari kehidupan malam dan viaduq karena di Jl. Pamarican dibangun terminal bus yang sekarang menjadi GBI (Graha Banjar Idaman).

Kuliner yang ngetop waktu itu bahkan menjadi oleh-oleh Banjar, pindang cau, rakicak, dengdeng ragi, surundeng, angen tutut, sate ayam Langen, orang dulu menyebutnya dahareun menak (makanan orang kaya) tersohor sampai keluar daerah. Bila ke Banjar tidak menyantap panganan itu, seperti ke Mekah tapi tak ke Madinah. Ditambah kupat tahu mang Soleh dan Mang Miskam kelebihannya pakai sayur pati kelapa lezat dan gurih itu hanya ada di Banjar.

Banjar meredup setelah menjadi Kota Administrasi, kehidupan malam berhenti suasana, kota menjadi redup. Banjar bagaikan kota mati, dengan berlakunya UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang di dalamnya mengatur tentang otonomi daerah, dimanfaatkan oleh masyarakat Banjar untuk menjadi daerah otonomi menjadi sebuah kota sejak 21 Februari 2002, dengan luas wilayah 131,97 km2 yang mencakup empat wilayah kecamatan yaitu Banjar, Pataruman, Purwaharja, dan Langensari serta 8 kelurahan dan 17 desa.

Setelah Banjar menjadi kota dipimpin oleh seorang walikota, perkembangannya maju cukup pesat disegala bidang infrastruktur pembangunan, maupun kehidupan masyarakat menunjukkan peningkatan dari sebelumnya. Meskipun di sana-sini masih ada kekurangan.

Revitalisasi kawasan kumuh, perlindungan bagi pedagang kecil, dan pengelolaan ruang terbuka hijau. Harus dijadikan kunci pemerintah kota menjadikan Banjar sebagai hunian yang nyaman. “Kota ini sebuah harapan bagi saya,” kata Enceng (36) pedagang bubur ayam asal Desa Binangun yang telah berjualan selama 6 tahun pada malam hari, yang mangkal di Jl. Tentara Pelajar dekat Kantor Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Lingkungan Hidup Kota Banjar. (Bachtiar Hamara)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!