Di Tempat Relokasi, PKL Pasar Banjar Berharap Tidak Ditinggalkan Pelanggan

06/01/2011 0 Comments

Amah tengah mengikat potongan bambu dengan menggunakan tali rapia ke tiang penyangga. Foto : Eva Latifah/HR.

Menjelang relokasi, pedagang kaki lima Pasar Banjar mulai sibuk memastikan lapak yang akan mereka tempati.

Eva Latifah

Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang biasa berjualan di Pasar Banjar, pada hari Selasa (4/1), mulai mendatangi lokasi pasar sementara yang bertempat di Lingkungan Parunglesang, Kel. Banjar.

Mereka datang untuk melihat dan memastikan lapak yang akan ditempatinya, sebab relokasi pedagang akan dimulai hari ini (Rabu, 5/1), hingga Senin (10/1). Dan, pada tanggal 11 Januari mendatang lokasi Pasar Banjar harus sudah dikosongkan seluruhnya.

Sebagian dari mereka bahkan mulai membawa bangku untuk kebutuhan menyimpan dagangannya. Ada pula yang memasang bambu sebagai pembatas antara lapak satu dengan lapak lainnya.

Seperti dilakukan Amah dan Soimah, kedua pedagang tersebut warga Banjarsari, Kab. Ciamis. Mereka mengaku telah berjualan di Pasar Banjar sebagai PKL sejak tahun 1975 silam.

Dagangan yang mereka jual yaitu berbagai macam buah pisang. Di lokasi pasar sementara Amah dan Soimah menempati lapak yang sama.

Tapi, bukan berarti salah satu diantaranya tidak terdata oleh UPTD Pasar, namun hal itu dilakukan agar semua PKL bisa kebagian lapak. Sehingga PKL yang tidak terdata dapat berjualan seperti biasanya.

Setelah mereka menemukan lapak bagiannya, Amah maupun Soimah terlihat sibuk memasang karung bekas dibagian pinggir lapak mereka. Yaitu dengan cara mengikatnya pada setiap tiang penyangga.

Namun, tidak lama kemudian Amah menggantinya dengan potongan bambu bekas yang dipungutnya di sekitar lokasi pasar sementara. Potongan bambu tersebut diikat menggunakan tali rapia ke tiang penyangga.

“Kami sengaja memasang karung bekas dan potongan bambu supaya tidak ditempati orang lain. Ya meskipun memang semua pedagang kebagian tempat, tapi letak lapak kami cukup enak, karena berada di pinggir, tidak di bagian tengah,” ujar Amah, Selasa (4/1).

Hal senada dikatakan Soimah. Menurutnya, dengan dipasangnya karung bekas mereka tidak akan pusing lagi mencari lapaknya ketika akan mengisinya nanti.

“Kalau cirinya beda dengan lapak milik pedagang lain kan gampang kita nyarinya. Maklum saja di tempat ini kan para pedagang masih banyak yang sibuk mencari nama yang ditulis di lantai lapak. Kalau sudah ada cirinya, kami bisa pulang dengan hati tenang,” tutur Soimah.

Sedangkan, mengenai kapan mereka akan mulai menempati lapaknya di pasar sementara, mereka mengaku belum tahu waktu pastinya. Namun, yang jelas sebelum tanggal 10 mendatang mereka sudah memulai aktifitasnya di tempat tersebut.

Dikatakan Soimah, baik dirinya maupun Amah biasanya mulai dadasar sejak pukul 4 dini hari hingga pukul 9 atau 10 pagi. Dan, berangkat dari Banjarsari sekitar pukul 03.30 WIB.

“Kami berjualan tidak pernah lebih dari jam 10, mau habis atau enggak dagangan kami tetap pulang. Kalau dagangan berikut alat kiloan kita simpan saja di lapak, paling ditutupi dengan karung, alhamdulillah aman. Nanti juga di sini sama tidak akan dibawa pulang,” kata Soimah.

Baik Amah dan Soimah maupun para PKL lainnya berharap, di lokasi pasar sementara yang akan mereka tempati usahanya tetap bisa berjalan lancar, ramai pembeli, serta tidak kehilangan langganan. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!