Alimpaido, Lestarikan Permainan Tradisional

24/02/2011 0 Comments

Dua orang peserta tampak asik menikmati permainan rorodaan dalam lomba Alimpaido tingkat Kota Banjar. Rorodaan yang digunakan terbuat dari bahan kayu dan bambu. Foto : Eva Latifah/HR.

Sejumlah anak terlihat riang gembira ketika melakukan permainan tradisional yang ditampilkan dalam ajang Alimpaido, sebuah runtutan acara memeriahkan hari jadi Kota Banjar ke-8

Eva Latifah

Sejak pagi, Minggu (20/2), kawasan Doboku terlihat mulai dipadati masyarakat. Maklum saja, di kawasan tersebut sedang berlangsung beberapa kegiatan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Kota Banjar ke-8.

Namun, yang paling menarik, tepat di belakang bangunan kantor Dinas PU Kota Banjar, terlihat banyak anak-anak usia tingkat sekolah dasar (SD) dan SMP mengenakan pakaian Adat Sunda.

Bukan hanya itu, para panitia penyelenggaranya pun menggunakan pakaian pangsi hitam, lengkap dengan iket di kepala dan golok di pinggang.

Mereka merupakan peserta utusan dari setiap desa/kelurahan yang tengah mengikuti kegiatan Alimpaido, yaitu lomba permainan tradisional tingkat Kota Banjar, yang diselenggarakan oleh Bagian Kebudayaan, Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informatika dan Pariwisata Kota Banjar.

Dalam kegiatan tersebut, setiap desa/kelurahan wajib mengirimkan satu tim, yaitu sekitar 6 orang peserta. Pesertanya pun bebas, satu tim ada yang terdiri dari anak perempuan dan laki-laki.

Jenis permainan tradisional yang ditampilkan dalam Alimpaido diantaranya jujungkungan, kelom batok, rorodaan, pecle, sorodot gaplok, perepet jengkol, gatrik, panggal/gasing dan bedil jeplak.

Kemudian, sistim dalam permainan tersebut dilakukan secara estafet. Setiap babak permainan terdiri dari dua tim. Kedua tim bersiap digaris start, kemudian setelah mendengar aba-aba wasit, mereka langsung ambil bagian sesuai tugasnya masing-masing.

Saat peluit wasit berbunyi, peserta ada yang memainkan jujungkungan dan kelom batok sambil melewati rintangan berupa jembatan dari anyaman bambu. Sedangkan yang lainnya berlari ke tempat permainan lain.

Antara permainan satu dengan permainan lainnya diberi tanda batas. Hal itu sebagai tanda untuk melanjutkan ke permainan berikutnya.

Dalam Alimpaido ini diperlukan kekompakan serta kecepatan dari setiap peserta tim itu sendiri. Rangkaian permainan tersebut akan diakhiri dengan permainan bedil jeplak, dimana salah seorang peserta harus berlomba menembak gelas plastik bekas air mineral yang disimpan di atas satu batang kayu hingga jatuh.

Kasi. Kebudayaan Dishubkominfopar Kota Banjar, Aco Karso, mengatakan, bagi juara I dalam Alimpaido tingkat kota, akan menjadi perwakilan Kota Banjar pada lomba permainan tradisional tingkat provinsi.

“Untuk tingkat provinsi akan dilaksanakan di Bogor pada bulan Juni mendatang. Jadi kegiatan ini selain memeriahkan ulang tahun Banajr, juga sekaligus persiapan ke tingkat provinsi,” ucapnya.

Juara pertama dalam Alimpaido tingkat Kota Banjar ini diraih oleh peserta dari Desa Cibeureum. Juara II diraih Kelurahan Banjar, dan juara III Desa Mulyasari. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply