Bunyi Burung Cit Kuncuit & Tuweuw Membikin Bulu Kuduk Berdiri

03/02/2011 0 Comments

Kusno (62) dan haris (61) warga Langen, bagian dari masyarakat setempat yang ikut mengevakuasi korban tabrakan KA. Rumahnya hanya sepelemparan batu jaraknya dengan stasiun Langen. Foto : Abdulloh Mukhlis/HR.

Sepekan Sebelum Tragedi KA Maut Di Langensari

News, (harapanrakyat.com),- Sepekan sebelum terjadi tabrakan antara KA Kutojaya Selatan dari Stasiun Kiaracondong-Bandung, dengan KA Mutiara Selatan jurusan Surabaya menuju Bandung, Jum’at legi (28/1), pukul 02.24 di Stasiun Langen, suasana di sekitar Stasiun Langen sangat sepi, tidak seperti biasanya.

Hujan mengguyur hampir setiap hari, terutama pada malam hari dari pukul 19.00. Suasana di kawasan Stasiun Langen menjadi sepi, hanya satu dua kendaraan mobil dan motor yang lewat, tak seperti biasanya meskipun sudah tengah malam kehidupan masih terasa.

Setiap malam bunyi burung Cit Kuncuit dan Tuweuw, dua jenis burung itu terus berbunyi, membikin bulu kuduk merinding. Kepercayaan masyarakat kampung, bila kedua burung tersebut terus bersuara, pasti akan ada kejadian. Dan,dugaan masyarakat akan ada kejadian alam yang merenggut korban jiwa. Dalam hal ini, perkiraan masyarakat akan terjadi longsor atau gempa bumi.

Sehari sebelum kejadian tabrakaan naas kereta api di stasiun,Kamis kliwon (27/1), suara burung Cit Kuncuit dan Tuweuw terus berbunyi di pepohonan, malam itu hujan gerimis.

Kisah itu diceritakan oleh Kusno (62), pensiunan PJKA yang tinggal di perumahan PJKA depan Stasiun Langen, dan Haris (61), jarak rumahnya tak jauh dari rumah Kusno, tepatnya di bagian belakang dekat tower BTS.

Selanjutnya Kusno dan Haris menceritakan pada HR, saat terjadi tabrakan kereta api tersebut di Stasiun Langen yang jaraknya hanya sepelemparan batu dengan rumahnya.

Pada Jum’at malam suasana terasa sepi dan dingin, tiba-tiba terdengar benturan keras yang mengagetkan warga di sekitar stasiun, kemudian terdengar dentuman keras disusul dengan lolongan orang minta tolong.

Masyarakat sekitar langsung melihat apa yang terjadi,ternyata ada kereta api tabrakan. Dengan serempak warga setempat paling depan melakukan pertolongan dengan menggunakan alat bantu seadanya.

Warga yang menolong terkesima dengan teriakan para penumpang yang histeris dari bagian gerbong pertama KA Kutojaya Selatan yang tengah berhenti di jalur tiga, sedangkan KA Mutiara Selatan akan melintas di jalur dua. Namun, tanpa disangka Mutiara Selatan masuk ke jalur tiga, terjadilah tabrakan maut.

Sebelum tabrakan, masinis dan asisten masinis Kutojaya meloncat dari kereta karena ketakutan dan membiarkan penumpang KA Kutojaya melolong kesakitan meminta tolong. Malah mereka bertengkar sebelum diamankan oleh pihak kepolisian.

Warga saat menolong banyak yang terkesima karena ngeri, dan penumpang di gerbong kedua sampai ke tujuh histeris loncat dari gerbong untuk menyelamatkan diri.

Setengah jam kemudian tim penolong dan tim medis datang dengan cepat memberikan pertolongan. Empat belas ambulance berdatangan, korban luka berat dan meninggal segera dievakuasi ke RSUD Kota Banjar. Dan penumpang KA Kutojaya yang mengalami luka ringan di evakuasi ke Puskesmas Langensari. Sedangkan penumpang Mutiara Selatan hanya mengalami luka ringan akibat benturan tabrakan.

Sementara itu, pada hari kelima pasca tabrakan, Ujang (30), warga Palembang yang merupakan penumpang KA Kutojaya Selatan, akhirnya meninggal di RSUD Kota Banjar, Selasa (1/2), pukul 13.00. Dan saat itu juga jenazah Ujang dibawa keluarganya ke Palembang. Sebelumnya, Ujang mengalami luka dalam akibat tergencet kursi kereta api yang menimpa badannya saat terjadi tabrakan.

Warga sekitar Stasiun Langen menuturkan, setelah pasca tabrakan kereta api suasana normal kembali. Hanya masyarakat setempat masih miris bila ingat akan lolongan penumpang kereta api berteriak minta tolong. Bunyi burung Cit Kuncuit dan Tuweuw pun tak terdengar lagi.

Menkes Berikan Santunan

Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia, Endang Rahayu Sedyaningsih, menjenguk para korban di RSUD Kota Banjar yang mengalami luka berat pada peristiwa tabrakan antara KA Kutojaya Selatan jurusan Kiaracondong-Kutoarjo, dengan KA Mutiara Selatan jurusan Bandung-Surabaya.

Selain menjenguk, kedatangan Menkes ke RSUD Kota Banjar, juga sekaligus untuk memberikan santunan sebesar Rp50 juta bagi biaya pengobatan para korban.

Bantuan tersebut diserahkan langsung kepada Walikota Banjar DR dr H Herman Sutisno MM, sesaat setelah keluar dari ruangan Raflesia, dimana tempat dirawatnya sebagian korban luka berat.

“Karena peristiwa ini bukan diakibatkan oleh faktor alam, seperti misalnya tsunami atau gempa bumi, sehingga tidak ada dana khusus yang diperuntukkan bagi para korban. Bantuan sebesar 50 juta rupiah ini hanya untuk biaya perawatan para korban,” kata Endang.

Menkes menambahkan, untuk korban yang dirawat di RSUD Kota Banjar kebanyakan patah tulang di bagian kaki dan dada. Seluruhnya sudah ditangani oleh tim medis dari RSUD Kota Banjar, dan diperbantukan enam dokter ahli tulang.

“Keenam dokter itu untuk membantu tim medis di RSUD Banjar. Dan mereka semuanya berasal dari RSUD Hasan Sadikin Bandung,” jelasnya.

Sedangkan, untuk tiga korban meninggal dunia, lanjut Menkes, ahli waris mendapatkan tunjangan yang ditangani langsung oleh Jasaraharja.

Tak Mau Naik KA Lagi

Akibat peristiwa tabrakan antara KA 174 Kutojaya Selatan jurusan Kiaracondong-Kutoarjo, dengan KA Mutiara Selatan CC 20311 jurusan Surabaya-Bandung, Jum’at lalu (28/1), sekitar pukul 02.24 WIB di Stasiun Langensari, yang menelan 3 korban jiwa, 33 luka berat serta 11 luka ringan, semuanya adalah penumpang KA Kutojaya Selatan, hal itu membuat Giri (31) dan Irwan (29) merasa kapok menggunakan jasa angkutan tersebut.

Pasalnya, pada saat kejadian keduanya berada di bagian gerbong pertama KA Kutojaya Selatan, dan masing-masing menempati tempat duduk nomor 17 D dan 17 E. Meski Giri dan Irwan hanya mengalami luka ringan, namun mereka mengaku trauma atas kejadian itu.

Baik Giri maupun Irwan, keduanya mengaku warga Gombong-Jawa Tengah dan bekerja di salah satu perusahaan tekstil yang ada di Bandung.

“Kebetulan ada libur, maka saya gunakan waktu libur ini untuk menengok orang tua di kampung, yaitu di daerah Gombong,” katanya, saat ditemui HR di Puskesmas Langensari, sesaat setelah tabrakan terjadi.

Lebih lanjut dia menuturkan, sebelum kereta api yang ditumpanginya bernasib naas, dirinya sempat ke toilet yang letaknya tepat di belakang bagian lokomotif.

Namun, begitu kereta masuk Stasiun Langensari, Giri sudah duduk kembali di kursinya. Dan, baru saja dirinya menyandarkan punggungnya ke bagian sandaran kursi, tiba-tiba benturan sangat keras terdengar dan terlihat dari arah depan matanya.

“Saya melihat jelas bagaimana lokomotif meluluh lantakan hampir setengah bagian gerbong yang saya tumpangi. Saya sendiri tertimpa kursi dari depan yang tersorong ke belakang,” tutur Giri.

Hal senada dikatakan Irwan. Dia menceritakan kepanikan semua penumpang di gerbong pertama pada saat kejadian. Jeritan dan teriakan minta tolong dari para penumpang terus melekat dalam ingatannya.

“Tidak bisa diceritakan dengan kata-kata bagaimana kepanikan kami saat itu. Yang pasti, begitu hantaman keras terdengar, suasana di dalam gerbong sangat terlihat mengerikan, apalagi lampu penerangan langsung padam seketika, sehingga suasananya semakin mencekam,” tutur Irwan.

Namun, keduanya masih bersyukur karena mereka hanya mengalami luka ringan di bagian kaki dan tangan akibat tertimpa kursi penumpang dari depan.

Walau angkutan kereta api selama ini merupakan sarana transfortasi yang sering mereka gunakan ketika pulang ke kampung halamannya, tapi setelah mengalami kejadian tersebut, Giri dan Irwan mengaku enggan menumpang kereta api lagi.

“Jujur saja, ini untuk yang terakhir kalinya saya naik kereta api. Terus terang saya merasa trauma dan sepertinya tidak akan bisa melupakan peristiwa ini,” kata Irwan, diamini Giri.  (Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!