Ki Demang Pertanyakan Motif Batik Kota Banjar

24/02/2011 0 Comments

Dari kiri ke kanan : Tanaman tarum di pekarangan rumah Ki Demang, Batik Sidamukti Pataruman, Merak ngibing plus daun tarum dan Ampel koneng plus daun tarum. Foto : Eva Latifah/HR.

Sejak 1917 sudah miliki ciri khas, Gondang & Daun Tarum tidak merambat

Banjar, (harapanrakyat.com),- Salah seorang budayawan Kota Banjar, sekaligus sebagai anggota Paguyuban Sekar Jagat, yaitu pecinta, pengrajin, pengusaha, dan kolektor batik kuno, Ki Demang Wangsafyudin, SH., mengkritik soal gambar ebeg pada motif/corak batik yang akan dijadikan ciri khas batik Kota Banjar.

Dia mempertanyakan, kalau memang ebeg itu merupakan perpaduan antara budaya Sunda dan Jawa, sehingga masyarakatnya terdiri dari dua kultur, lalu seni Sundanya apa.

“Sebetulnya, ciri khas kesenian di Banjar mah gondang buhun. Memang di daerah lain juga ada, tapi beda. Ciri khas gondang buhun di Banjar syairnya menggunakan bahasa buhun yang tidak ada di daerah lain. Jadi, boleh saja gambar ebeg disertakan, tapi harus pula disertakan gambar gondang, atau lisung. Dan kata siapa daun tarumnya merambat, ko gambarnya seperti daun kacang,” jelasnya, Senin (21/2).

Lebih lanjut dia mengatakan, bahwa ciri khas batik Banjar harus ada unsur gabungan batik Sukapura dan Banyumasan. Karena, sebelumnya Banjar masuk wilayah Sukapura, yang juga berbatasan dengan wilayah Banyumasan, yaitu Cilacap.

Meski demikian, kata Ki Demang, motif daun tarum harus tetap ada. Dan sebetulnya, sebelum bergabung dengan Ciamis, yaitu tahun 1917, Banjar sudah mempunyai motif batik khas sendiri.

Bahkan, pembuatan batik tersebut dikerjakan oleh pengrajin asli orang Banjar, yaitu Ibu Odah, putra Kuwu Batulawang ke III, Bapak Murtama. Tapi memang usaha itu tidak turun temurun seperti di daerah lain, lantaran si pengrajin sendiri tidak memiliki anak.

“Dulu, motif batik yang biasa dipakai oleh wadana dan menak Banjar yaitu motif daun tarum, merak ngibing dan awi ngarambat. Motif merak ngibing di Sukapura dan Banyumas juga ada, tapi sebagai ciri khas Banjarnya yaitu adanya unsur daun tarum. Sedangkan awi ngarambat jenisnya ampel koneng, itu ciri khas syair gondang buhun. Kemudian, pada kain batiknya terdapat warna biru saulas,” paparnya.

Ki Demang juga mengaku mempunyai beberapa bukti batik khas Banjar, yang dulu biasa digunakan oleh para menak dan Wadana Banjar.

Diantaranya batik Sidamukti Pataruman, batik ini menggunakan pewarna asli dari daun tarum. Kemudian, batik bercorak merak ngibing dan daun tarum, serta batik bermotif ampel koneng dan daun tarum.

Batik bercorak merak ngibing plus daun tarum diperolehnya dari mantan putra Wadana Banjar, yang kini menjadi dosen di UGM Yogyakarta, yaitu Prof. Endang Sukarlan.

Sedangkan, batik Sidamukti Pataruman didapat dari nenek Ki Demang sendiri, dan batik bercorak ampel koneng plus daun tarum dari  Ibu Odah.

Selain itu, Ki Demang juga menunjukan tanaman tarum yang ditanam di pekarangan rumahnya. Menurut dia, tanaman tersebut merupakan jenis tarum yang dulu tumbuh di pinggiran Sungai Citanduy. (Eva)

Batik Khas Belum Disetujui DPRD Kota Banjar, Masih Terbuka Untuk Koreksi

Banjar, (harapanrakyat.com),- Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Banjar, membantah jika motif batik Kota Banjar tidak memuat unsur-unsur sejarah, dan kekhasan Kota Banjar.

Bantahan tersebut dikatakan Kasi. Bina Usaha Perdagangan Dalam dan Luar Negeri Disperindagkop, sekaligus Bendahara Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Banjar, Neneng Widiya Hastuti, S.Sos.

Saat dihubungi melalui telepon selularnya, Selasa (22/2), Neneng mengatakan, bahwa pembuatan motif batik khas Kota Banjar telah melalui konsultasi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kota Banjar.

“Kami tentunya tidak gegabah dalam menentukan motif batik khas Kota Banjar. Lomba yang kami gelar juga melibatkan orang-orang yang paham mengenai sejarah dan budaya Kota Banjar,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, motif batik tersebut hasil dari lomba desain batik Kota Banjar yang diselenggarakan oleh Dekranasda, bekerjasama dengan Disperindakop, dan telah lulus uji pihak Yayasan Batik Jawa Barat.

“Motif ebeg yang dimasukan ternyata tidak ada di daerah lain di Jawa Barat, hanya terdapat di Kota Banjar,”kata Neneng.

Menurutnya, dari hasil wawancara yang dilakukan dengan pemenang lomba tersebut, motif ebeg yang dimasukan merupakan bentuk asimilasi budaya antara budaya Jawa dan Sunda.

Sedangkan motif daun tarum, merupakan daun tarum khas Kota Banjar. Dimana daun tarum semacam itu hanya tumbuh di sepanjang Sungai Citanduy di Kota Banjar.

Diakui Neneng, sejauh ini pihaknya belum berani mempublikasikan lebih jauh mengenai motif  batik khas Kota Banjar, lantaran belum disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyar Daerah (DPRD) Kota Banjar.

Neneng menambahkan, dirinya sangat terbuka dengan kritik dan saran dari berbagai pihak. Namun, mengenai penambahan atau perubahan motif, itu bukan kewenanganya.

“Saya ini hanya pelaksana teknis, bukan pengambil kebijakan. Jika menyangkut penambahan atau perubahan motif, itu di luar kewenangan saya,” pungkasnya. (pjr)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply