Pasca Tragedi Maut KA di Stasiun Langen, “Ada Suara Merintih Kesakitan & Menangis”

10/02/2011 Headline
Pasca Tragedi Maut KA di Stasiun Langen, “Ada Suara Merintih Kesakitan & Menangis”

Pasca tabrakan KA Kutojaya dengan KA Mutiara Selatan, Daop 5 Purwokerto menggelar acara tahlilan dengan warga sekitar yang bertempat di Stasiun Langensari. Foto : Eva Latifah/HR.

News, (harapanrakyat.com),- Pasca peristiwa tabrakan KA Kutojaya Selatan dengan KA Mutiara Selatan pada 28 Januari lalu di Stasiun Langensari, Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto menggelar acara tahlilan dengan warga sekitar. Doa bersama itu ditujukan untuk mendoakan korban yang meninggal, maupun korban luka berat dan ringan.

Acara tersebut berlangsung selama tujuh hari, terhitung dari mulai hari kejadian, yaitu Jum’at (28/1), sampai Kamis (3/2), bertempat di ruangan Kepala Stasiun Langensari.

Berdasarkan kultur masyarakat setempat yang mempercayai mitos bahwa roh para korban tewas masih berada di lokasi kejadian hingga 40 hari kedepan, sehingga jika tidak dilakukan tahlilan maka roh tersebut akan bergentayangan di sekitar stasiun.

Namun, menurut Kepala Stasiun (KS) Langensari, G Setyo Wahono, saat ditemui HR, mengatakan, acara tahlilan sebetulnya merupakan salah satu bentuk keprihatinan pihak PT KAI terhadap para korban.

“Mengenai kultur masyarakat di sekitar sini yang mempercayai mitos seperti itu saya belum begitu tahu, sebab saya sendiri tugas di Stasiun Langen baru sekitar tiga bulanan, jadi belum begitu mengenal budaya masyarakat di sini,” katanya.

Tetapi, lanjut Setyo, bisa saja mitos itu benar, sehingga acara tahlilan yang telah dilakukan dapat membuat masyarakat di sekitar stasiun merasa tenang. Dengan begitu maka apa yang dikhawatirkan mereka tidak akan terjadi.

Dikatakannya, pada saat itu masyarakat sekitar juga terlihat sangat antusias ketika mereka diberitahu bahwa setelah sholat Magrib akan diadakan tahlilan di stasiun.

“Acara tahlilan juga bertujuan untuk keselamatan setiap perjalanan kereta api. Dan kami juga belum tahu apakah pada 40 harinya akan diadakan tahlilan lagi atau tidak, karena kami belum menerima pemberitahuan dari pihak Daop 5 Purwokerto,” tuturnya.

Sementara di lain tempat, Ai (37, warga RT 01/05, yang rumahnya paling dekat dengan lokasi kejadian, tepatnya berada di seberang Stasiun Langen, mengaku, setelah tragedi maut terjadi, dirinya tidak pernah mendengar suara-suara aneh dari lokasi kejadian.

Padahal, setiap pukul 12 malam dia sudah bangun lantaran harus mempersiapkan bahan yang akan diolah untuk keperluan dagangannya, yaitu sebagai penjual kupat tahu di Pasar Langensari.

“Alhamdulillah saya tidak takut dan tidak pernah mendengar suara-suara aneh, itu mungkin karena sudah diadakan acara tahlilan. Kalau orang lain memang pada cerita, seperti tukang ojek yang biasa mangkal dekat stasiun kalau malam hari, katanya ada yang mendengar suara orang merintih seperti kesakitan dan menangis,” ujar Ai.

Suara-suara tersebut juga sempat didengar oleh Kris, salah seorang petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) di Stasiun Langen, yang kebetulan bagian piket malam.

Menurut Kris, yang saat itu kebetulan piket pada Senin malam, bahwa dirinya mendengar suara tangisan dari arah jalur dua, yaitu lokasi terjadinya tabrakan KA Kutojaya Selatan dengan KA Mutiara Selatan, yang membuat tiga orang penumpangnya tewas di tempat. (Eva)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles