“Dunia Semakin Bergoyang”

17/03/2011 0 Comments

Jum’at pekan lalu 11 Maret, saya bersama istri dan cucu berangkat ke Jakarta dari Banjar pukul 09, dalam perjalanan beristirahat di rest area km 97 Purbaleunyi untuk sholat Jum’at, dan beristirahat makan di kantin dan tiba di Jakarta pukul 16. Baru saja istirahat saya melihat berita tv, gempa berkekuatan 8,9 Skala Richter (SR) membuat Jepang lumpuh total. Selain memicu tsunami setinggi 10 meter yang menyapu sebagian Jepang Utara, jaringan listrik, telepon dan transportasi di Tokyo, ibu kota negara putus total. Astaghfirullah….laporan terakhir minggu lalu saya terima informasi korban tewas 2.000 orang dan hilang 10.000 orang.

***

Jepang, sebuah negara maju dan modern yang dijuluki “Macan Asia” tak berkutik bila Allah swt menghendaki terjadi jadilah (Kunfayakun) luluh-lantah seperti yang kita saksikan lewat layar tv.

Survei Geologi AS melaporkan gempa terjadi pukul 14.46 waktu setempat, dengan berpusat di kedalaman 15,1 kilometer, 130 km di timur Sendai ibu kota Prefektur Miyagi Jepang utara, di Pulau Honshu. Kota ini terletak sekitar 350 km di utara Tokyo.

Badan Meteorologi Jepang mengatakan, gempa ini paling dahsyat di “Negeri Sakura” dalam 140 tahun terakhir. Kekuatannya melebihi gempa Great Kanti 1 September 1923 yakni 7,9 SR yang menewaskan 140.000 warga Tokyo. Hingga Jum’at malam, jutaan orang masih berkeliaran di jalan atau bergerombol di tanah lapang, setelah terjadi guncangan hebat 8,9 SR, masih terjadi gempa susulan. Bahkan 50 kali gempa susulan berkekuatan paling rendah 6,0 SR.

Merujuk laporan dari sejumlah media asing, korban jiwa kali ini disebabkan oleh sapuan gelombang tsunami di Jepang utara. Bangunan, baik rumah, gedung tinggi maupun jembatan juga roboh atau rusak akibat terjangan tsunami hebat itu. Oleh tsunami Jepang utara luluh lantah.

Kita jangan bicara soal tsunami suatu kejadian langka di Negeri Sakura itu. Kita fokus amati pada gempa. Sebuah fenomena alam yang nyaris terjadi setiap hari di negeri itu, yang paling aktif dilanda gempa di dunia. Sekitar 20 persen gempa bumi di dunia terjadi di Jepang dan kekuatan lebih dari 6 SR.

Hebatnya, belum ada laporan tentang bangunan yang roboh akibat guncangan gempa hari Jum’at (11/3). Gempa paling dahsyat dalam kurun waktu 140 tahun terakhir itu. Gedung-gedung pencakar langit di Tokyo dan kota-kota di Jepang lainnya tak ada yang roboh secara signifikan.

Bandingkan dengan gempa 6,3 SR di Selandia Baru, tiga pekan yang lalu, menghancurkan ratusan rumah dan gedung. Bayangkan juga dengan gempa dahsyat dengan kekuatan 7,0 SR yang memporakporandakan Haiti, Januari 2010, setahun lalu membuat ratusan ribu warga hingga kini masih “mendekam” di tenda-tenda pengungsian.

Pada Rabu pagi 9 Maret lalu. Jepang juga dilanda gempa bumi berkekuatan 7,2 SR gempa yang juga menggoyang di Prefektur Miyagi, Jepang utara, itu berada pada peringkat kelima dari tujuh skala intensitas seismik di Jepang. Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu dan tidak ada bangunan yang roboh. Kali ini pun hanya tsunami yang menghancurkan kehidupan kota, bukan akibat guncangan gempa langsung.

Pemerintah Jepang selalu memberikan pelatihan rutin bagi warga dalam menghadapi bencana gempa bumi “Itu hebatnya Jepang”. Kesiapan pemerintah dan warga untuk mencegah kerusakan dan jatuhnya korban jiwa. Jepang memang hebat dan kita tidak bisa bayangkan apa yang terjadi jika gempa berkekuatan 8,9 SR itu mengguncang negara lain. Seperti Indonesia lima tahun lalu tsunami menghantam Aceh dengan kekuatan 9,3 SR korban meninggal 126 ribu yang hilang 37 ribu orang. Yang kehilangan tempat tinggal 517 ribu, sangat menyedihkan. Disusul gempa bumi 7,7 SR di Tasikmalaya 17 Juli 2006 korban tewas lebih dari 400 orang dan tahun 2009 gempa di Tasikmalaya 7,3 SR yang meninggal puluhan orang. Di Pangandaran, Tasikmalaya, Cilacap dan Kebumen di hantam tsunami menewaskan korban jiwa sekitar 500 orang dengn kekuatan 6,8 SR. tak banyak upaya yang bisa dilakukan.

Pada setiap 1 September, sekitar 795 ribu orang, termasuk Perdana Menteri ikut simulasi bencana. Pelatihan menghadapi bencana dilakukan sceara rutin, bahkan dijadikan mata pelajaran khusus di sekolah-sekolah dasar. Ketika terjadi gempa bumi berkeuatan 7,2 SR pada Rabu pagi 9 maret 2011, sekitar 120 warga kota Rizuken-Takata di Prefektur Iwate memimpin evakuasi penyelamatan diri dan orang lain, tidak terjadi adanya korban jiwa.

Tindakan yang dikenal dan populer adalah Jepang membangun gedung, rumah dan jembatan tahan gempa. Rumah dan gedung bertingkat di Jepang dibangun dengan material kayu, papan, aluminium, besi dan perabot lain yang memiliki suspensi tiang bangunan yang bisa bergerak menyesuaikan dengan goncangan gempa. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!