Jika Jumlah Penduduk Tidak Dikendalikan, Maka Kota Banjar Akan Seperti di Santa Cruz, Bolivia

25/03/2011 0 Comments

Ledakan penduduk memerlukan lebih banyak sandang, pangan, papan dan Fasum

News, (harapanrakyat.com),- Perubahan iklim adalah salah satu tantangan serius untuk kelangsungan hidup dan pembangunan umat manusia. Berfikir global dan bertindak lokal merupakan kunci untuk menanganinya.

Berkaitan dengan hal tersebut, Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Lingkungan Hidup Kota Banjar, bekerjasama dengan The Climate Project Indonesia, menggelar acara Presentasi Perubahan Iklim, bertempat di Aula Setda Kota Banajr, Kamis (17/3).

Selain melibatkan unsur pemerintahan dan tokoh masyarakat, acara juga diikuti oleh para kader PKK. Pasalnya, salah satu penyebab utama perubahan iklim adalah terjadinya ledakan jumlah penduduk yang tidak terkendali. Dan, kaum perempuan dapat membantu menstabilkan pertumbuhan penduduk.

Presenter Climate Change, Ir. A. Dudi Krisnadi, mengatakan, ada 4 faktor yang dapat membantu menstabilkan pertumbuhan penduduk dunia. Diantaranya, pendidikan kaum perempuan, pemberdayaan perempuan, angka anak hidup yang tinggi, serta manajemen kesuburan kaum perempuan.

Dan, konsekwensi dari ledakan penduduk tentunya memerlukan lebih banyak sandang, pangan, papan dan fasilitas umum. Jika jumlah penduduk tidak dikendalikan, maka Kota Banjar akan seperti di Santa Cruz, Bolivia.

Pada 1990-an, pemerintah Bolivia mulai membuat program yang dua kali lipat tingkat penggundulan hutan untuk lahan pertanian komersial di sisi Sungai Amazon, dataran tinggi Andes. Selain radikal penurunan hutan penutup, praktik ini juga telah menyebabkan peningkatan erosi dan streaming sedimen.

Di seluruh dunia, lebih dari satu miliar orang sangat bergantung pada hutan untuk mata pencaharian mereka, dan lebih dari 2 milyar orang (sepertiga populasi dunia) menggunakan biomassa untuk bahan bakar (terutama kayu bakar untuk memasak dan pemanas rumah mereka).

Sementara itu, sebagian besar emisi rumah kaca Indonesia berasal dari hutan dan gambut tanah (konversi). Di Indonesia, hanya 10 % energi listrik berasal dari sumber terbarukan bersih dan aman, seperti matahari, angin, hidro dan biomassa.

“Sisanya berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara dan gas. Padahal tidak harus seperti itu. Daya perekonomian kita bisa dengan sumber-sumber energi yang bersih,” jelas Dudi.

Dengan demikian, lanjut dia, hal paling penting yang dapat dilakukan perempuan Kota Banjar untuk mengurangi dampak perubahan iklim yaitu, menanam pohon. Lebih cepat bertindak, lebih baik bagi keselamatan anak cucu kita.

Karena pohon dan tanah, mampu mengunci karbon atmosphere. Sementara hutan memiliki peran penting dalam mengurangi konsentrasi karbon gas rumah kaca yang utama.

Total wilayah hutan di dunia hanya di bawah 4 milyar hektar, atau hampir 30% wilayah bumi. Dan 56% wilayah hutan di daerah tropis dan sub tropis. IPCC memperkirakan 1,7 milyar ton karbon dikeluarkan secara tahunan berkat perubahan, sebagian besar adalah penggundulan hutan tropis.

Dampak dari pemanasan global sudah dirasakan di berbagai negara yang ditandai oleh meningkatnya frekuensi, dan dampak bencana alam. Di Indonesia dapat dilihat dari tingkat bencana alam yang disebabkan faktor perubahan iklim dan faktor kegiatan manusia.

Peningkatan frekuensi dan dampak bencana dapat meningkatkan kerentanan masyarakat, terutama kelompok miskin. Selain itu, pemanasan global dan perubahan iklim menyebabkan di satu bagian bumi terjadi banjir bandang, tapi di bagian lainnya justru terjadi kekeringan panjang.

“Meningkatnya suhu bumi dipengaruhi oleh meningkatnya kadar CO2 di atmosphere. Aktivitas manusia juga dapat meningkatkan suhu bumi dan naiknya permukaan air laut,” kata Dudi.

Dia menjelaskan, bahwa dampak dari pemanasan global yaitu meningkatnya suhu bumi hingga mencairkan es di Kutub Utara. Karena, semakin tinggi kadar karbondioksida di udara, maka bumi akan semakin panas.

Pemanasan global terjadi akibat radiasi sinar matahari dalam bentuk gelombang panjang menembus atmosphere bumi. Sebagaian besar dari radiasi sinar matahari diserap oleh bumi dan menghangatkan bumi, sehingga layak untuk dihuni mahluk hidup.

Dan, sebagian radiasi itu dikembalikan ke angkasa dalam bentuk infra merah. Sebagian dari radiasi infra merah terperangkap gas rumah kaca di atmosphere dan dikembalikan ke bumi.

Gas rumah kaca semakin tebal, sehingga lebih banyak radiasi infra merah yang terperangkap di atmosphere, dan dikembalikan ke bumi, yang menyebabkan suhu bumi meningkat.

Menurut Dudi, ilmuwan yang telah mempelajari hubungan antara pohon-pohon dan perubahan iklim mengatakan, bahwa saham karbon yang tersimpan di hutan lebih besar dan dapat diandalkan, daripada karbon yang tersimpan di perkebunan komersial.

“Dengan demikian, perubahan iklim adalah masalah global dan membutuhkan upaya yang terkoordinasi internasional untuk memecahkannya. Untuk itu, menanam pohon merupakan salah satu upaya mengurangi dampak dari perubahan iklim dan pemanasan global,” pungkasnya. (Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply