Kolam Cai Kawali Tak Surut Meski Kemarau Panjang

10/03/2011 0 Comments

Seorang pengunjung sedang melemparkan koin ke dalam kolam cai kawali. Foto : Eji Darsono/HR.

Merupakan Kolam Peninggalan Kerajaan Sunda Galuh

Kawali, (harapanrakyat.com),- Peninggalan purbakala lainnya yang ada di Situs Astana Gede Kawali adalah Kolam Cai Kawali. Kolam Cai Kawali ini keberadaanya seratus meter dari lokasi situs, konon Cai Kawali ini ada kaitannya dengan tempat bersuci kraton dan Dyah Pitaloka Citraresmi, putri dari Maharaja Linggabuana, raja Sunda Galuh.

Kisahnya, Cai Kawali ini tidak pernah surut meski kemarau panjang, dan batang kayu yang berada di dalam Cai Kawali tidak lapuk meski usianya sudah beratus tahun. Hal itu terjadi lantaran dihuni oleh Maung (harimau.red) Astana.

H. Odin Suherman (90), Tokoh Desa Ciakar mengatakan, dirinya pernah melihat keberadaan Maung Astana. Maung ini keluar dari Cai Kawali dan menuju Cai Barani yang lokasinya juga tidak begitu berjauhan.

Mea, peternak bebek yang pernah mengalami keanehan, dia mengaku mendapati dua telur bebek ternaknya selalu kosong bak bola ping-pong, jika sedang di-angon di sekitar Astana Gede.

Yayat Hidayat (60), warga yang hobi berburu ular, saat ditemui HR, mengaku pernah menangkap seekor ular Cobra dari Kawasan Cai Kawali. Hanya saja, ular yang ditangkapnya bisa menari kala ditiupkan seruling.

Selain itu, keanehan juga terjadi ketika ular yang telah dibunuh dan dikubur  kembali hidup. Bahkan, pemilik lokasi penguburan ular menjadi mendadak sakit.

Atong (30) Juru Pelihara Cai Kawali menceritakan, tradisi nyawer ikan pada kolam Cai Kawali masih tetap dilakukan. Namun dia mengaku tidak pernah menemukan uang setiap kali membersihkan kolam Cai Kawali.

Selain itu, ia juga mengaku keheranan, kadang ikan mas tiba-tiba muncul dengan jumlah banyak di kolam tersebut, padahal tidak ada yang menanamnya.

Mengenai keberadaan maung, Said Juru Pelihara Astana Gede mengatakan, bahwa maung yang ada di Astana Gede menghuni Dalem Cibulan. Said juga menjelaskan keanehan lainnya yang sering ditemui adalah sinar tiga warna di kawasan situs, yakni kuning, putih dan biru.

Lain halnya Ika Martinah, pengunjung asal Lawanggintung Bogor, saat ditanya HR mengatakan kedatangannya ke Situs Astana Gede berawal dari sebuah mimpi. Tidak hanya itu, Ika diketahui baru pertama kali datang ke tempat tersebut, tapi sudah mengetahui semua yang ada di Situs Astana Gede. (dji)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!