Lagi, Petani Keluhkan Serangan Hama Tikus & Burung

17/03/2011 Berita Banjar
Lagi, Petani Keluhkan Serangan Hama Tikus & Burung

Titi (60), petani penggarap, tengah menarik tali rapia yang dibentangan di atas lahan pesawahannya. Hal itu dilakukan untuk mengusir burung Pipit agar tidak menyerang tanaman padinya. Foto : Eva Latifah/HR.

Banjar, (harapanrakyat.com),- Sebagian petani di komplek pesawahan Lingkungan Sukamanah, Kel/Kec. Pataruman, mengeluhkan serangan hama tikus dan burung pipit. Maka dipastikan pada musim panen pertama tahun ini para petani akan merugi.

Titi (60), salah seorang petani penggarap, Sabtu (12/3), mengatakan, hama tikus menyerang ketika usia tanaman padi sekitar dua bulan, atau saat bulir padi mulai merekah. Hama tersebut diakuinya susah untuk diberantas.

Para petani sebetulnya telah berupaya melakukan penangkapan, yaitu dengan menggunakan jaring. Namun, upaya mereka sia-sia karena hama tikus malah semakin meluas.

“Selain menggunakan jaring, juga dengan memberikan singkong. Tujuannya supaya tikus tidak memakan padi, tapi tetap saja gagal. Bahkan singkong habis padi juga habis,” katanya.

Menurut dia, hama tikus memang tidak mungkin bisa diberantas bila sawah masih ditumbuhi tanaman padi, lantaran tidak akan ketahuan di mana lubang tikusnya.

Untuk itu, kata Titi, rencananya setelah masa panen petugas penyuluh dari Dinas Pertanian Kota Banjar, akan melakukan penyuluhan kepada para petani mengenai pemberantasan hama tikus.

“Sekarang mah saya biarkan tikus-tikus itu, karena percuma diberantas juga, malah besar biaya. Dan pada panen pertama tahun ini sudah pasti rugi. Jangankan buat setor ke yang punya lahan, untuk biaya mengolah sawah juga tidak tahu. Kondisi seperti ini, berharap ada kebijakan dari yang punya lahan,” tuturnya.

Titi mengaku, dirinya menyewa sawah seluas 200 bata. Biasanya, dari luas 100 bata, dia setor kepada pemiliknya sebanyak 2 kuintal gabah kering setiap kali panen. Berarti, setiap panen Titi harus membayar 4 kuintal gabah kering.

Kalau tidak terserang hama, lanjutnya, hasil yang didapat dari luas lahan garapan 100 bata yaitu sekitar 4-4,5 kuintal gabah kering. Penghasilan sebesar itu cukup menguntungkan, karena lahan garapannya merupakan sawah teknis yang bisa panen tiga kali dalam setahun.

Hal serupa dikatakan Isah (70), petani penggarap lainnya. Serangan burung Pipit akan memperparah kegagalan panen mendatang, yang kini tinggal dua minggu lagi.“Hama burung menyerang tanaman sejak jam enam pagi sampai jam lima sore. Kalau hama tikus sebetulnya baru ini, sekarang jumlahnya lebih banyak dari biasanya,” kata Isah.

Meski waktu panen masih dua minggu, lanjut Isah, bulir padi terlihat banyak yang belum merekah akibat pertumbuhannya terganggu.

Tapi, baik Titi maupun Isah, mereka tetap berusaha menjaga tanamannya dari serangan burung pipit, yaitu dengan memasang jujurigan di lahan garapannya, dan bentangan tali rapia yang lengkapi kaleng bekas. (Eva)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles