“Lahang Langensari Brrrrmmm”

25/03/2011 0 Comments

Februari 2011 yang lalu, saya membaca sebuah koran harian lokal di wilayah Priangan timur Jawa Barat. Melaporkan bahwa di wilayah itu di Kabupaten Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan Kota Banjar, banyak petani penyadap lahang (nira) dari pohon kelapa dan aren menjual hasil lahang (nira) ke bandar tuak.

Kenapa petani lahang itu menjual hasil lahang dari pohon kelapa dan aren ke bandar tuak, bukankah biasanya lahang itu disadap untuk bahan gula merah?. Selidik punya selidik harga jual gula merah di pasaran turun, soalnya kualitasnya tidak bagus seperti biasanya. Mengapa bisa begitu lahangnya tidak bagus, karena terlalu banyak kadar air sehingga rasa legit manisnya berkurang dan hasil gulanya gampang meleleh, tidak seperti biasanya yang makin lama semakin keras dan padat dan rasanya manis legit lagi.

***

Hujan yang turun sepanjang tahun, karena terjadinya perubahan iklim ektrem ini yang menjadi masalah. Membikin petani kecil (miskin) menjadi jatuh bangun untuk mempertahankan kehidupannya sehari-hari, kondisi ini dimanfaatkan oleh bandar tuak dengan memberikan harga Rp. 1.000 perliter cash. Dengan kondisi sulit tak ada pilihan bagi petani menyadap lahang/nira kelapa atau aren, hasil pajatannya bisa langsung jadi uang.

Itu tadi saat ini bila 10 liter lahang dibikin gula merah dijual dengan harga Rp. 60 ribu, dibikin dengan proses yang lama dan jelimet. Bila menjual lahang/nira kelapa atau aren ke bandar tuak 10 liter menghasilkan uang Rp. 100 ribu. Itu masalahnya! Harga bagus tapi tuak itu minuman yang memabukkan, dan Pemerintah Daerah mengambil tindakan agar tuak tidak menjadi minuman yang bisa membikin orang mabuk.

Pemerintah Daerah dan kepolisian, mengambil langkah untuk memusnahkan bahan tuak yang ada di pengepul-pengepul. Tidak tahu apa sebabnya, lahang yang sudah hampir menjadi tuak dibuang ke kolam ikan dan ke irigasi. Kejadiannya sudah jatuh tertimpa tangga pula, ikan di kolam sontak pada mati, tuak yang di buang ke irigasi untuk mengairi sawah terganggu pula membikin tanaman padi jadi layu. Itu kejadiannya!.

Kebetulan masalah tuak yang menghebohkan di media cetak dan menjadikan polemik di Kecamatan Langensari Kota Banjar, ceritanya di atas itu. Kita mencoba mengumpulkan informasi soal tuak dari Langensari, ternyata peredaran tuak lahang kelapa dari Langensari sudah mocer ke berbagai daerah, kualitasnya baik bahkan sudah terkenal sampai Cicaheum, Purbaleunyi dan Bogor itu ke arah barat, ke timurnya Purwokerto dan Yogyakarta.

Jelas tuak itu minuman yang memabukkan (haram hukumnya bagi Islam), di negeri kita yang Bhineka Tunggal Ika. Di Kota Banjar ada sebagian masyarakat yang ikut prihatin pada penyadap lahang/nira kelapa yang mendapat kesulitan untuk mempertahankan hidupnya. Sampai menjual lahangnya ke bandar tuak. Sebenarnya untuk mempertahankan hidup keluarganya, karena produksi gula merah sekarang ini kualitasnya jelek dari pengaruh perubahan cuaca ekstrem.

Ada pendapat di kelompok masyarakat Kota Banjar, untuk mengatasi kehidupan petani penyadap lahang silahkan lahang itu dijual kepada siapa saja, kepada bandar tuak pun jadilah, asal jangan beredar di wilayah Banjar, pihak yang berwajib men-sweeping bandar tuaknya. Jangan langsung ke petani, kasihan doong mereka miskin. Itu hanya sebuah pemikiran dari sebagian masyarakat. Salahkah bila punya pemikiran itu?.

Tidak hanya sampai disitu, tampung semua lahang/nira yang ada di Banjar oleh sebuah koperasi, lalu jual ke daerah-daerah yang memproduksi minuman dari bahan baku lahang/nira. Untuk meningkatkan kesejahteraan petani penyadap lahang kita yakin petani penyadap lahang tidak akan meninggalkan produksi gula merah yang berbahan baku lahang kelapa atau aren kalau kehidupannya sudah stabil. “Makanya kita Harus Mau Merawat Bumi dengan baik agar Bumi terjaga, Tentu kita harus memperbaiki Perubahan Iklim Ekstrem, Jangan Bumi dibiarkan rusak jagalah hutan biar tetap lestari untuk kehidupan Manusia”.

Bagaimana cara menanggulanginya, cari jalan terobosan untuk menyelamatkan kehidupan petani penyadap lahang/nira jangan sampai sekarat. Upaya Pemkot Banjar akan membentuk koperasi untuk menjegal tuak, menampung produksi lahang/nira untuk tetap sebagai bahan baku gula merah. Misalnya menghubungi pabrik-pabrik kecap. Itu terobosan yang baik, bikin peraturan daerah yang melarang minuman keras agar jelas hukumnya. Meskipun kita berteriak-teriak haram-haram terus, tidak mencari solusi pemecahannya cape kita, sakit hati jadinya. Buktinya minuman keras setiap saat diberantas, tapi pabriknya tetap ada. Akan tetap penyakit masyarakat tak akan hilang. Kuncinya tergantung pada moral setiap pribadi manusianya.

Apa yang terjadi di Kabupaten Karangasem Bali, lima kecamatan yaitu Abang, Kubu, Sidimen, Manggis dan Bebandem, petani penyadap nira kelapa dan aren mengolah nira menjadi arak sejenis tuak. Sudah terlanjur melambung citranya sudah menyasar konsumen mancanegara, dan arak Bali menjadi sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah) sekarang sudah tidak dibikin secara tradisional tapi sudah dibuat secara pabrikan.

Arak Bali berbahan baku nira kelapa/aren, sangat populer di kalangan wisatawan di Bali dan salah satu resep cocktail yang tersohor ke mancanegara yang terkenal adalah “arak attack” yaitu campuran arak Bali dengan Orange Juice. Menjadikan wisatawan mancanegara senang, keberadaan arak Bali mempromosikan Pulau Deawata ke seantero dunia. Dan memasukkan PAD yang besar untuk pembangunan berbagai sektor kehidupan masyarakat Bali. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!