Merantau, Berbekal Keahlian Produksi Mie Ayam

10/03/2011 0 Comments


Teguh Supriyanto (30), tengah memperlihatkan mie hasil produksinya yang siap dipasarkan kepada para pelanggannya. Foto: Abdulloh Mukhlis/HR.

Usaha membuat mie untuk kebutuhan pedagang mie ayam di Kota Banjar cukup menjanjikan, seperti dilakukan Teguh Supriyanto (30), warga pedatang dari Solo, Jawa Tengah.

Abdulloh Mukhlis

Selama enam tahun Teguh Supriyanto menjalani usahanya dalam membuat mie untuk kebutuhan pedagang mie ayam. Warga Solo yang kini tinggal di RT 02 RW 06, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Banjar, mengaku bahwa usaha tersebut sudah menjadi mata pencaharian keluarganya.

Berawal dari orang tuanya yang membuka usaha di dearah Purwokerto dan Purbalingga, sedangkan kakanya di Majenang. Bahkan, bukan hanya itu, bapak dan kakaknya pun menyewakan roda dorong kepada para pedagang mie ayam yang ada di daerah tersebut.

Teguh mencoba membuka usaha yang sama di wilayah Kota Banjar. Pada awalnya, ketika Teguh pertama kali datang ke Kota Banjar, dirinya hanya membuat mie untuk kepentingan dagang mie ayam sendiri. Selama kurang lebih dua bulan dia menjadi penjual mie ayam keliling.

“Hal itu dilakukan karena saya belum mengetahui persis wilayah Kota Banjar. Sekalian survei lokasi, saya juga mulai mencari konsumen lain, seperti pedagang mie ayam,” kata Teguh, ketika ditemui HR di rumahnya, Selasa (8/7).

Dengan modal awal sekitar Rp.2 juta, pada saat itu Teguh hanya mampu memproduksi mie sebanyak 5 kilo gram setiap harinya.

Seiring dengan berjalannya waktu, kini dia sudah mampu memproduksi mie sebanyak 1 kwintal perharinya. Setiap hari Teguh mulai melakukan pekerjaannya mulai jam 3 dini hari sampai jam 5 pagi, atau terkadang bisa lebih awal, sehingga jam 6 pagi hasil produksinya sudah bisa dipasarkan.

Teguh juga sudah bisa menyewakan roda dorong kepada para pedagang mie ayam sebanyak 17 unit.

Hasil produksi sebanyak 1 kwintal itu untuk memenuhi permintaan dari para pelanggannya yang berjumlah 40 orang. Baik pedagang mie ayam, maupun konsumen lainnya.

“Saya di Banjar baru bisa menyewakan 17 unit roda mie ayam, dan 40 pelanggan, karena rencana awalnya saya hanya akan jadi pembuat mie khusus untuk mie ayam saja. Untuk konsumen dari luar Kecamatan Mekarsari, seperti dari daerah Langen dan Pamarican, mie yang mereka pesan saya antarkan sampai kerumahnya,” tutur Teguh.

Dirinya mengaku sempat merasa pesimis kalau usahanya tersebut tidak akan bisa berkembang. Tapi, dia tidak pernah putus asa untuk terus berusaha, karena menurutnya, untuk mencapai kesuksesan itu butuh waktu dan harus melalui perjuangan, yaitu berusaha semaksimal mungkin.

“Kedepannya saya ingin merekrut pelanggan sebanyak mungkin. Di Purwokerto bapak sudah mempunyai pelanggan sebanyak 500 orang, tapi bagi saya, setengah dari jumlah tersebut sudah sangat membanggakan,” pungkas Teguh. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!