Meski Harga Selangit, Oman tak Tergiur Jual Nira ke Bandar Tuak

25/03/2011 0 Comments

Oman (60), pengrajin gula, warga Dusun Priagung, Desa Binangun, Kec. Pataruman, tampak tengah memproses nira hasil sadapannya untuk dijadikan gula merah. Foto : Pajar Martha/HR.

Meski nira ditawar mahal oleh bandar tuak, tapi Oman pengrajin gula tidak tergiur. Kesungguhan dengan disertai rasa syukur dan ikhlas dalam menjalani kehidupan dan pekerjaan, akan membuahkan hasil yang manis semanis gula.

Pajar Martha

Rayuan pembuat tuak untuk membeli nira dari pengerajin gula dengan harga tehitung mahal, tidak membuat Oman (60), pengrajin gula, warga Dusun Priagung, Desa Binangun, Kec. Pataruman, Kota Banjar, lantas tergiur untuk menjual nira hasil sadapannya kepada mereka.

Sore itu, Minggu (20/3), saat HR menyambangi rumahnya, kawihan lagu Sunda terdengar dari radio tua menemani Oman menjalani aktifitasnya membuat gula di dapurnya yang sederhana.

Tubuhnya yang renta dimakan usia, Oman masih tampak kuat menjalani pekerjaannya itu. Tangannya terlihat cekatan saat mengaduk-aduk nira hasil sadapannya di atas wajan besar, untuk dijadikan gula merah.

Menjadi pengrajin gula merah ditekuni Oman sejak usianya masih belasan tahun, dan hingga usianya mulai senja, pekerjaan tersebut masih tetap dijadikan mata pencaharian untuk menghidupi keluarganya.

“Saya sama sekali tidak tergiur ketika ada pembuat tuak yang akan membeli nira dengan harga yang cukup mahal. Nira aren milik saya dihargai lebih mahal ketimbang dengan nira kelapa, yaitu 2.500 rupiah per liter. Namun saya berfikir, jika menjual nira untuk dijadikan tuak, secara tidak langsung telah meracuni anak saya,” tuturnya.

Lebih dari tiga puluh lima tahun Oman menjadi pengrajin gula. Dengan umurnya sekarang yang telah lebih dari setengah abad itu, tentu hal tersebut berpengaruh pada kemampuannya memproduksi gula. Karena, untuk menghasilkan nira yang berkualitas, tentunya membutuhkan ketelatenan dan tenaga yang tidak sedikit.

Oman mengaku, dengan bertambahnya usia, maka hasil yang bisa didapat pun menjadi berkurang. Sekarang dia hanya mampu menyadap tidak lebih dari lima pohon saja, yaitu tiga pohon aren dan dua pohon kelapa.

Maka tidak heran, dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Oman hanya mampu memproduksi gula merah sebanyak satu bonjor, atau dua belas butir setiap harinya, sedangkan gula kelapa hanya mampu memproduksi setengah kilo saja.

“Saya sudah sangat bersyukur dengan keadaan sekarang, walaupun sudah tidak bisa memproduksi gula banyak, namun dengan ketekunan dan ketelatenan, saya bisa menjual gula dengan harga yang lebih mahal dibanding pengerajin gula lain,” tuturnya.

Menurut Oman, proses pembuatan gula juga berpengaruh terhadap daya saing penjualan. Jika prosesnya asal-asalan, maka hasil produksi tidak akan baik, dan tentunya akan mengecewakan pelanggan.

Untuk itu, setiap pekerjaan harus dilakukan dengan ikhlas, penuh kesabaran dan ketelatenan, sehingga hasilnya dapat memuaskan, begitu pula dengan pengrajin gula. Selama ini, Oman belum pernah merasa kesulitan saat menjual gula hasil produksinya.

Oman yang mengawali usahanya menjadi buruh sadap pada pohon aren milik orang lain, namun atas ketekunan dan jerih payahnya selama ini, akhirnya kini dia sudah memiliki sebidang tanah yang telah ditumbuhi pohon aren siap produksi.

“Saya sangat mensyukuri nikmat yang diberikan Alloh. Dengan kerja keras, sekarang sudah memiliki rumah, sedikit tanah, dan telah mampu menyekolahkan kedua anak. Bahkan saat ini saya masih mampu memberi sedikit uang untuk jajan cucu,” katanya. (pjr)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply