Saron Kalah Bersaing dengan Mainan Modern

25/03/2011 0 Comments

Iwan pedagang Saron (gamelan sunda) nampak lesu, karena tak ada pembeli meski dagangannya dijajakan di tempat ramai. Foto : Eji Darsono/HR.

Eji Darsono

Akibat maraknya jenis mainan anak-anak yang lebih modern, Iwan, pedagang mainan berupa gamelan (saron), warga Beber, Kab. Cirebon, yang mangkal di komplek terminal lama Kawali, Minggu (20/3), tertunduk lesu karena dagangannya belum juga laku.

Dia mengaku, baru kali ini barang dagangan yang dibawanya masih menumpuk hingga sore hari. Padahal, jarak yang harus ditempuh ke komplek terminal lama tidak kurang dari 40 kilometer.

Bukan hanya lesu yang dirasakan Iwan, namun kekhawatiran pun mulai menghinggapi perasaannya. Lantaran, untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga, dia hanya mengandalkan dari hasil jualannya.

“Satu buah saron mainan ini saya jual seharga 15 ribu rupiah, dan saya hanya mengambil keuntungan dua ribu rupiah saja. Biasanya saya bisa mendapatkan keuntungan setiap hari itu sekitar 20 ribu rupiah perhari,” katanya.

Pendapatan sebesar itu harus bisa mencukupi kebutuhan makan sehari-hari dan kebutuhan sekolah tiga orang anaknya.

Kebingungan pun semakin tampak di wajah Iwan. Matanya sesekali memperhatikan barang dagangannya. Dia berharap ada orang yang berminat untuk membelinya.

Meski hanya satu orang perbeli, namun hal itu akan sangat mengurangi beban fikirannya. Dia berfikir, jika satu saja barang dagangannya laku, maka uang tersebut dapat digunakan dulu untuk kebutuhan makan anak dan istrinya.

Iwan yakin, keluarganya di rumah saat itu tengah menunggu kepulangan dia, dan tentunya mereka berharap Iwan pulang dengan membawa uang yang cukup.

Kelesuan yang dirasakan Iwan sedikit hilang ketika Atang bersama dua orang anaknya menghampiri Iwan. Kemudian Atang menanyakan harga mainan tersebut pada Iwan.

Namun, karena harga yang ditawarkan Iwan terlalu mahal, Atang pun urung membelinya. Selain itu, kedua anaknya terlihat kurang menyenangi jenis permainan tersebut.

Harapan Iwan untuk bisa membawa uang ke rumah pun sirna seketika. Raut wajahnya kembali terlihat murung. Pandangannya seolah kosong dan penuh kebingungan.

Sementara waktu terus merambat semakin sore, dan barang dagangannya masih saja utuh seperti saat dia berangkat dari rumahnya.

“Mainan yang saya jual harganya lebih murah bila dibandingakan dengan mainan yang dijual di toko. Tapi mungkin hari ini bukan hari keberuntungan buat saya, namun saya juga tidak akan putus asa akan terus berusaha dan berdoa agar hari ini ada barang yang laku. Kalau pun tidak, terpaksa saya harus pulang dengan tangan hampa,” keluhnya. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!