“Siapa Menabur …… Akan Menuai ….”

05/03/2011 0 Comments

Sering tidak disadari, benih-benih yang mengarah pada perilaku korupsi justru ditebar dari dalam keluarga. Hal-hal yang dianggap sepele, ketika dilanggar dan dibiarkan, akhirnya menjadi kebiasaan yang bebas dari rasa salah.

Ketika anak sulungnya, telah lulus menjadi sarjana (S1) Abidin pensiunan PNS (Pegawai Negeri Sipil) tentu bukan nama sebenarnya. Cerita sama saya dia akan menemui temannya yang mempunyai posisi penting di pemerintahan negeri ini. Tujuannya untuk agar bisa anak sulungnya yang telah bergelar titel sarjana (S1) itu bisa diterima jadi PNS. Masalah untuk uang pelican sudah siap. “Berapa? Seratus juta atau dua ratus juta, itu bukan masalah”. Ia memutuskan untuk mencari peluang melalui “jalur belakang”.

Singkat cerita, sang anak sulung Abidin yang mantan pejabat yang berduit itu diterima jadi PNS. Namun masuk membayar dengan sejumlah uang yang tak sedikit, tentu saja bukan lewat jalur normal.

Namun, Abidin tidak merasa apa yang dilakukan itu keliru. “Loh saya kan melakukan itu, karena saya sayang sama anak. Saya ingin dia hidup mempunyai masa depan yang baik, uang yang saya keluarkan meskipun jumlahnya besar. Nanti juga akan kembali lagi, setelah anak saya mempunyai jabatan penting di PNS. Soal itu saya sudah cukup makan asam garamnya menjadi pajabat penting. Zaman sekarang kalau engga mau begitu, mau jadi apa anak saya nanti?,” kata Abidin dengan nada tinggi.

Kadang atas nama cinta atau sayang anak. Tak sedikit orang tua rela menabrak rambu-rambu yang kebetulan di negeri ini dimungkinkan apa pun bisa, yang hangat dalam ingatan kita. Contohnya, kasus Gayus Tambunan yang sangat popular hanya seorang PNS eselon IIIA, bisa begitu hebatnya, iya kan. Cuma resikonya itu, “Siapa yang menabur angin, akan menuai badai”. Banyak orang tua yang seperti Abidin, bahwa perilaku itu akan diinternalisasi oleh anak-anak.

***

Di tengah perilaku koruptif yang mengepung kita, masih ada orang yang memilih bersikap anti korupsi. Dimulai dari hal-hal yang sederhana yang dilakukan diri sendiri, prinsip antikorupsi lalu disebar ke lingkungan sekitar.

Ketika menemukan uang yang tak bertuan di lingkungan sekolah, Sulaeman (15) segera memungut dan memasukannya ke kotak temua yang diletakkan di kanton kejujuran di sekolahnya. Kenapa uang lembaran dua puluh ribu yang tergeletak di halaman sekolahnya tak diambil saja oleh Sulaeman. Berarti tambahan uang lebih banyak dari biasa-biasanya.

Sulaeman mengaku telah terbiasa jujur, padahal ketika itu peluang untuk tidak jujur terbuka lebar. Sebagai wujud perlawanan terhadap korupsi, beberapa sekolah di daerah-daerah negeri ini menanamkan kejujuran kepada siswa antara lain dengan membuka kantin kejujuran. Tapi bagu Sulaeman disiplin pada kejujuran, dibawa dari sikap hidup keluarga yang selalu menekankan kejujuran. Begitu di sekolah membuka kantin kejujuran, bagi Sulaeman bukan sesuatu yang baru baginya.

***

Penyair Acep Zamzam Noor menulis puisi bergaya jenaka, sebagai pelepasan rasa karena dengan bahasa keras sekalipun si terkritik sudah sangat kebal. “Kita bersama-sama tertawa, mentertawakan diri sendiri, karena kita bagian dari persoalan,” kata Acep.

“Ada banyak cara untuk pamer kekuasaan. Salah satunya usir KPK dari Senayan… Ada banyak cara untuk menjadi Mafia. Salah satunya memakai wig dan kacamata!. Itu penggalan lagi “ABC” (Ada Banyak Cara) dari Bimbo yang sejak dua pekan lalu diputar di televisi. Lagu berlirik sinikal karikatur itu diangkat dari puisi karya Acep Zamzam Noor.

Lewat lagi itu,. Bimbo merespon secara jenaka situasi negerinya digambarkan sebagai bertatanan porak poranda, termasuk korupsi yang merajalela.***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply