T U A K

10/03/2011 Berita Terbaru
T U A K

Tiap kali ke luar rumah, saya sering mendengar orang yang mengutuk orang lain karena tingkah laku pura-pura mabuk, setengah mabuk atawa mabuk beneran. Pura-pura jadi preman atawa setengah preman, bahkan preman beneran apalagi kalau sudah mabuk dan menggertak orang supaya takut ujung-ujungnya malak.

Kata orang preman dan tukang mabuk, untuk mengundang supaya ada nyalinya dan rasa percaya diri harus minum-minuman yang beralkohol tinggi seperti MIRAS (minuman keras). Kejadian ini hampir terjadi diberbagai tempat di negeri ini. Tidak hanya di kota, sekarang sampai ke pelosok desa juga soal mabuk bukan lagi barang langka.

***

Di Jakarta, saya bersama kelompok teman dekat berkumpul di sebuah rumah makan yang sekaligus juga sebuah bar. Kemudian pembicaraan berakhir dengan seorang teman di luar negeri yang mendadak kaya. Mendadak mampu memiliki nyaris segalanya, bahkan melakukan hal-hal yang mengagetkan. Dan yang paling mengasyikkan, pembicaraan itu bukan hanya soal jumlah kekayaannya, melainkan juga gaya hidupnya setelah menjadi kaya. Dia menjadi pemabuk berat, yang mengganggu kejiwaannya. Kasihan sekali, kaya sih kaya kalau seperti begitu mah ogaah….ah.

Di atas kita bercerita soal yang teramat kaya, di daerah ada cerita lain soal preman tanggung dan mabuk. Suatu sore saya melihat seorang pemuda jalannya sempoyongan, di tangannya membawa kantong plastik yang berisi air agak kekuning-kuningan dengan sedotan plastic. Sebentar-bentar dia menyedotnya dan mengangkat kantong plastik yang berisi cairan dilihat dengan matanya yang sayu. Keluar ucapan, “Sautik deui euy, ieu teh tuak nyaho, urang boga tuak nu jiga kieu dua balong”. Rupanya pemuda itu sedang mabuk, dia bicara sendiri dan dijawab sendiri. “Tuak dua balong geus beak di inum ku urang sabalong, aya sabalong deui urang hoream nginum na aya eeean.” Dan dia tercerembat masuk got. “Aduh gue jatuh nih toloong dong, awas siah jing, bener nih engga mau nolong gue?”.

Orang yang berada di sekitar pemuda yang mabuk, cuek ajaa tak memperdulikan anak muda itu berikut saya juga. Malah saya asyiik mendengar celotehannya, jalan sudah repot tapi sesumbarnya seperti orang yang gagah perkasa. Dasar orang mabuk. Pemuda itu muntah-muntah, hidungnya mimisan, mata teller, selidik punya selidik, orang itu preman yang suka malak anak-anak sekolah. Dia pengangguran dari keluarga miskin, dan juga tak punya keterampilan yang positif yang bisa menunjang hidupnya.

Deraan kemiskinan yang membuat orang bisa berbuat apa saja, bisa menjadi kriminal dan nekad. Itulah kehidupan orang miskin, tak jarang mereka melakukan jalan pintas untuk tetap hidup. Kemiskinan mempunyai dampak sosial ekonomi, bahkan bagai perempuan karena kemiskinan bisa masuk pada jurang kenistaan, contohnya menjadi WTS (Wanita Tuna Susila) yang sekarang istilahnya lebih di manusiawikan jadi PSK (Pekerja Seks Komersial).

Kembali cerita soal TUAK minuman keras yang terbuat dari nira kelapa, sekarang mempunyai banyak penggemar minuman keras yang bernama tuak di daerah kita. Minuman tuak berasal dari ranah Batak Sumatera Utara, adalah minuman tradisional suku Batak. Dengan pengaruh urbanisasi suku Batak ke pulau Jawa dan pulau lainnya di Indonesia, tuak juga ikutan. Mencari lapak tuak (kedai tuak) di kota besar tidak sulit.

Bila sekarang tuak menjalar ke Priangan Timur, kita harus berhati-hati dan harus mencegahnya. Karena minuman tuak itu bisa memabukkan. Dengan bermunculan pengepul bahan tuak dari nira kelapa. Dengan harga yang tinggi dibanding bila nira kelapa itu diproduksi menjadi gula merah, mendapat jalan pintas cukup menjadi pengepul nira kelapa bahan tuak untungnya cukup menjanjikan.

Menurut pengrajin gula merah dari nira kelapa, untuk mendapat pinjaman uang Rp. 100 ribu, mudah dan cepat dari renternir yang sekarang banyak yang menjadi pengepul tuak. Menurut Firman (tentu bukan nama sebenarnya) misalnya kita meminjam uang untuk 100 liter lahang, kita mendapat uang misalnya Rp. 100 ribu, tidak usah membayar dengan uang cash cukup kita memberikan lahang jadi 120 liter sebagai bunganya kepada renternir itu, kata Firman.

Tinggi sekali bunganya sampai 20 %, yaa mau gimana lagi kita orang kecil butuh uang cepat buat makan hari-hari. Bikin gula merah ribet dan untungnya sedikit, bila sudah masuk ke pengepul gula merah jarang di bayar cash. Kebutuhan hidup harganya tak pernah turun, itu keadaan kami orang kecil sebenarnya. Katanya lahang itu dibikin tuak minuman yang memabukkan.

Ucap Firman, cari uang haram juga susah apalagi lebih susah cari uang halal ini kenyataan. Astaghfirullah, begitu miris ucapan di atas begitu sempitnya pikiran orang-orang kecil miskin lagi. Mereka tak berkutik bila sudah sampai soal perut. Kenyataan begitu sekarang ini orang kaya bertambah kaya, dan orang miskin semakin miskin. Bila minuman tuak dibiarkan, sangat berbahaya bisa menjadikan masyarakat kecil kecanduan.

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar (segala minuman yang memabukan) dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” (Al-Baqarah: 219) . ***

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles