“ Menimbang Kembali Tujuan Hidup “

29/04/2011 0 Comments

Beberapa waktu lalu, saya bersama teman yang lama bermukim di Amerika Serikat, datang ke suatu tempat latihan meditasi di Jakarta. Pasalnya teman saya ini pikirannya acap kali terserang stress akibat kesibukan kerja yang menghimpit dirinya. Ibarat organisme, kota selalu menyerap energi. Penduduknya seperti hidup dalam labirin (tempat yang penuh dengan jalan dan lorong yang berliku-liku dan simpangsiur) yang membentur-benturkan tubuh mereka pada dinding kesibukan, kemacetan, dan sulitnya mempertahankan kehidupan yang ketat berkompitisi, dan akhirnya kelelahan…..

Dimana energi itu di daur ulang agar seluruh aktivitas bisa berjalan kembali esok hari. Sebagian orang mencari jawaban dengan menyadarkan diri kepada kekuatan spiritualisme yang ditawarkan yoga, meditasi, reiki, hypnosis dan akhir-akhir ini q-rak (quark, reiki, atomoc, kundalini).

Teman saya sejak di negeri Paman Sam (USA) sekitar tahun 1990 mencoba mendalami meditasi dari orang Jepang. Hasilnya dalam meditasi, dia mengerti seorang manusia itu pada hakikatnya seperti apa. Dia juga belajar bahwa ketika seseorang berbuat baik dan selalu berpikir positif, akan menimbulkan kebahagiaan. Ucap teman saya, hal itu membuat dan membikin penasaran saya begitu beratnya hidup di zaman modern.

Tak main-main aku teman saya, sering sekali menjalani laku, yang disebutnya sebagai tapa brata. Laku ini mensyaratkan si pelaku berdiam diri dan menjalankan vegetarian. Selesai melakukan tapa brata, kata teman saya, ia lebih berkonsentrasi dan nyaman dalam menjalani kehidupan. “Rasanya enak sekali…” ujarnya. Ilmu ini mengajarkan kita untuk tahu siapa diri sendiri, selalu berpikir positif dan berperasaan positif.

Materi, kekayaan, dan kemampanan nyatanya tak selalu memberikan ketenangan hidup. Misteri spiritualisme yang “menyembuhkan“ dan melapangkan diri dari sesaknya kehidupan materialistis menjadi magnet. Di Amerika Serikat muncul yang disebut “Generasi Bunga “, yang jenuh akibat dampak.

Perang Vietnam. Dan di berbagai negara lainnya, beramai-ramai mengejar spritualisme ke  Timur. Mereka memang belajar sampai menyentuh sisi idologi dari aliran seperti yoga di India.

Kejenuhan hidup yang dialami teman saya, pada tahun 2009 melengkapi kepahitan hidupnya. Di negeri Paman Sam, seorang teknik sipil dan peraih gelar MBA dari salah satu Universitas ternama di Amerika Serikat itu, bekerja di salah satu kelompok perusahaan berkelas Internasional. Sebagai analis  teknologi di perusahaan raksasa. Dengan gaji besar, hidup serba kecukupan, dan bisa melakukan apa saja yang diinginkannya.

Namun, gilasan mesin dunia kerja mengasingkan teman saya dari kehidupan pribadinya hingga  ia justru merasa berada dalam titik rendah kehidupannya. Pada 2009 istri tercinta berpulang ke pangkuan Ilahi. Dapak pada diri teman saya, mengakibatkan stress berat. Kembali ke Jakarta dan berlatih yoga. Kepercayaan dirinya tumbuh kembali dan dilengkapi dengan sholat tahajud dan berzikir mendekati diri dan mohon ampun kepada  Allah SAW.

“Saat teman saya ada di titik terendah, dalam putaran hidupnya, sholat dan yoga harus menjadi jalan hidupnya“. Tutur teman saya. Desember 2011 yang akan datang, ia akan keluar dari pekerjaannya di sebuah perusahaan Internasional di AS melepas gaji besar dan kemapanan hidupnya demi sholat dan beryoga. Teman saya ini akan kembali ke kampung halamannya di Ciwidey Bandung, dia akan hidup kembali di tanah airnya, akan menjalani hidup kembali dengan bahasa ibunya.

Pertama, hari ketika ia menunaikan perintah-perintah Allah secara berjamaah, dan ia tidak melakukan kemaksiatan. Kedua, hari ketika bertaubat dari segala dosa, ketika melepaskan diri dari tindakan-tindakan durhaka, dan ketika kembali kepada sang khaliq. Ketiga, hari ketika dia menemui Tuhannya dengan akhir perjalanan yang baik dan amal yang diterima. Itulah mimpinya teman saya.

Selama belas tahun dia mengembara di negeri orang (AS) hanya kerja dan kerja sampai mencapai kehidupan mapan dan gaji besar, tidak memberikan ketenangan hidup. Dan banting setir menapaki jalan hidup yang lain. Selama berlangsung pembicaraan dengan teman saya, saya hanya jadi pendengar aktif di sebuah kantin di tempat latihan yoga di Jakarta. Menjadi pendengar yang baik berpikir positif dan perasaan positif.

Dua hari setelah melakukan pembicaraan panjang  teman saya kembali ke Amerika Serikat, entah beberapa lama dia mengirim SMS (Short Message Service), yang berbunyi. “Konsep dari sebagian besar ajaran spiritualisme yang bermain di wilayah kesehatan adalah bagaimana membuat keselarasan diri dengan semesta. Ini sebenarnya konsep ajaran leluhur di Timur yang senantiasa ingin hidup selaras dengan alam. Manakala keselarasan dalam diri dan semesata itu terwujud,diyakini terjadi keseimbangan di dalam hidup. Segala hal positif seperti mengalir.***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply