Ohim : Lebih Baik Jual Suara Daripada Mengemis

14/04/2011 0 Comments

Ohim (46), pengamen tunanetra yang biasa mangkal di Terminal Bis Banjar, tampak sedang mencoba tape-nya sesaat setelah diperbaiki di bengkel elektonik langganannya, Minggu (10/4). Foto: Eva Latifah/HR.

Meski kedua bola matanya mengalami kebutaan sejak lahir, tapi bagi Ohim (46), pengamen tunanetra, pantrang mencari uang dengan cara mengemis.

Eva Latifah

Dengan berbekal taperecording rakitan dan dilengkapi sebuah mix, Ohim, warga Desa Balokang, Kec. Banjar, pengamen tunanetra yang setiap harinya mangkal di Terminal Bus Banjar, siang itu, Minggu (10/4), dia terlihat menaiki salah satu mobil bus antar kota dalam propinsi (AKDP) yang masih ngetem nunggu penumpangnya penuh.

Tapi, tidak lama kemudian dia turun lagi sambil sedikit menggerutu akibat tape rakitan yang diselendangkan ke badannya itu tidak mau nyala. Dia mengaku, sebelumnya tidak ada masalah dengan alat kerjanya itu.

Padahal, Ohim sangat berharap bisa lebih banyak lagi mengumpulkan rupiah untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dia, dan istrinya yang telah menunggu di rumah.

Kedua tangannya mencoba meraba beberapa bagian tombol sambil mengutak-ngatik tape rakitannya itu. Sesekali dia mengeluarkan kaset yang telah terpasang, lalu memasukannya kembali. Namun tetap saja tidak dapat menyala.

“Kumaha atuh ieu teh teu daek disada wae, mangkaning mobil parinuh ku penumpang ari poe minggu mah, sok lumayan rada mucekil kekengingan ge. Piraku kudu kabengkelkeun deui wae, isin puguh sok tara ditarima ari bade dibayar teh,” ujar Ohim, yang mengaku menggeluti profesi tersebut sudah dijalaninya sekitar 17 tahun.

Sebelumnya dia hanya menjadi tukang pijat panggilan, namun pekerjaan itu tidak bisa dijadikan andalan lantaran panggilan untuk memijat tidak datang setiap hari. Sementara, biaya kebutuhan hidup, terutama untuk makan, harus tetap terpenuhi, meskipun kehidupannya jauh dari kata mewah.

Biasanya, dia berangkat dari rumah untuk memulai menjalani rutinitasnya sehari-hari sebagi pengamen sejak jam 7 pagi, dan pulang sekitar jam 5 sore, tergantung ramainya penumpang kendaraan umum di terminal. Kalau sedang ramai, bisa saja Ohim pulang ke rumah jam 7 malam.

Diakui Ohim, kalau sedang mujur, dalam sehari dirinya bisa mendapatkan uang dari hasil ngamennya itu mencapai Rp50.000. Dan jika sedang sepi, atau terjadi gangguan pada alat kerjanya, maka uang yang terkumpul hanya sekitar Rp15.000 sampai Rp20.000 saja.

Seperti yang dialaminya siang itu, dia terpaksa harus membawa tape-nya ke bengkel elektronik langganannya, karena menurut Ohim, hari minggu biasanya terminal ramai oleh calon penumpang sampai malam hari.

Namun sayang, niat Ohim harus tertunda sejenak karena siang itu tiba-tiba hujan turun cukup lebat. Akhirnya dia pun menunda rencana tersebut dan kembali ke tempat duduknya di terminal.

Setelah hujan sedikit mereda, Ohim memutuskan untuk pergi ke bengkel elektronik, diantar salah seorang tukang ojeg yang sama-sama mangkal di terminal.

“Mumpung hujan rada raat bade maksakeun bae, bisi kabujeng sonten, penumpang nuju rame deuih, lumayan tiasa nambih-nambih candakeun kanggo ka bumi,” katanya.

Kemudian, sesampainya di bengkel elektronik yang ada di daerah Lingkungan Banjarkolot, Kel. Banjar, Ohim pun langsung menjelaskan kerusakan tape-nya. Hanya beberapa menit saja tape milik Ohim sudah kembali normal. Ketika dia menanyakan berapa ongkos perbaikannya, seperti biasa pemilik bengkel menolak dibayar.

Akhirnya Ohim bergegas kembali lagi ke terminal untuk menjalani pekerjaannya sebagai pengamen. Dia berharap, penghasilan dari ngamen pada hari itu bisa bertambah.

“Lumayan aya keneh waktu dugi ka magrib, jadi tiasa nambahan kanggo setor ka istri di bumi. Daripada jajaluk katingali pisan teu aya damelna, mending ngamen, nyanyi unggal dinten jadi moal tereh kolot,” ujar Ohim, memungkas pembicaraannya dengan HR. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply