Penyuluh dari Pelosok Negeri Kunjungi Sukamantri

14/04/2011 0 Comments

Para Peserta Studi banding saat mengiktui di lokasi Aula Pertemuan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Karangsari Cibeureum Sukamantri. Foto: Eji Darsono/HR.

Berkat Keberhasilan Komoditas Cabai

Sukamantri, (harapanrakyat.com),- Pertanian di Kec. Sukamantri kembali menjadi bahan pertimbangan bagi daerah-daerah lain di pelosok Negeri. Salah satunya pertanian cabai, keberhasilan komoditas pertanian ini mengundang decak kagum berbagai daerah, dan membuat mereka ingin melakukan studi banding.

Hal itu dibuktikan dengan kehadiran 60 Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dari berbagai daerah yang melakukan studi banding bersama petani cabai Sukamantri, beberapa waktu lalu, di Desa Cibeureum Kec. Sukamantri.

Ketua Gapoktan Karangsari Desa Cibeureum, Pipin, mengatakan, pelatihan dan studi banding yang dilakukan di wilayahnya, merupakan upaya untuk memfasilitasi tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) petani.

Dengan begitu, masyarakat petani yang terlatih, dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam pengembangan agribisnis serta manajemen kelembagaan. Tapi, Pipin menjelaskan, ide studi banding tersebut muncul dari Kementrian Pertanian (Kementan) RI, yang difasilitasi pihaknya.

Irwan Waluya, Pendamping dari Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang Bandung, mengatakan, kegiatan itu ditujukan untuk peningkatan SDM bidang tanaman cabai. Dan merupakan rangkaian pelatihan pengayaan meteri teknis yang dilakukan sebelumnya di BBPP Lembang Bandung.

“Kami berharap, para penyuluh dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan perekonomian nasional di bidang tanaman pangan atau holtikultura. Khususnya bagi pengembangan pertanian di daerah masing-masing penyuluh,” katanya, beberapa waktu lalu, di lokasi kegiatan.

Sementara itu, Penyuluh asal Maluku, Fiter BT, mengatakan, dirinya ingin mengetahui secara mendalam mengenai teknis budidaya cabai, termasuk dari mulai penanaman, panen dan pasca panen.

“Kami ingin mengetahui bagaimana Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Good Agricultura Trakties (GAT), khususnya dalam komoditas ungggulan yang layak dikembangkan didataran tinggi,” katanya.

Penyuluh asal Indramayu, Yayan Suryana, mengatakan, studi banding ini dia jadikan sebagai tempat berbagi informasi dan wawasan pengembangan pertanian. Menurutnya, informasi-informasi yang bermanfaat, bisa diaplikasikan di daerah masing-masing.

Sementara itu, kepala BP3K Kec. Sukamantri, Itang SPKP, mengatakan, bahwa tindak lanjut  dari studi banding tersebut adalah peningkatan SDM petani, pengetahuan, wawasan dan pola pikir terhadap teknologi usaha tani yang bisa dikembangkan di tingkat pedesaan. (dji)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!