“13 Tahun Reformasi Dipersimpangan Jalan “

28/05/2011 0 Comments

Boedi Oetomo didirikan oleh mahasiswa STOVIA sekolah dokter pribumi, dan tujuh sekolah menengah di Jawa. Pelopornya Dr Soetomo dan Dr Wahidin Soedirohoesodo pada 20 Mei tahun 1908, kegiatan tersebut dikenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pada 1998, 20 Mei merupakan awal kejatuhan Orde Baru dan lahir yang disebut Orde Reformasi.

Setiap kali Orde Reformasi diperingati pada 20 Mei, setiap kali pula muncul gugatan bahwa reformasi belum membawa perubahan seperti yang diharapkan. Ada yang bahkan menilai reformasi telah mati suri. Reformasi 1998 berhasil menumbangkan Presiden Soeharto, dan mendorong lahirnya pemimpin baru.

Namun, 13 tahun setelah reformasi, kini masih banyak agenda lain yang belum terlaksana, terutama pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Korupsi juga tidak ada habis-habisnya kendati terus dikikis. Bahkan sebaliknya mega skandal kasus korupsi dari waktu-kewaktu terus bermunculan.

Celakanya, selain banyak kasus korupsi yang tengelam dipeti eskan, atau tidak terungkap tuntas, penegakan hukum juga melempem. Yang dijaring cuma kelas teri, tapi pelaku-pelaku kelas kakap masih bisa hidup nyaman dengan memainkan kekuasaan dan duit. Jadi, selama 13 tahun reformasi belum mampu sepenuhnya mewujudkan Indonesia Baru. Yang menjadi harapan rakyat. Demokrasi yang dibangun, menjadi kebablasan.

Kita mengharapkan, generasi muda sekarang harus mau tampil melanjutkan agenda-agenda reformasi yang belum tuntas. Jangan serahkan agenda reformasi kepada generasi muda yang hanya berpikir pragmatis dan kepada politisi busuk. Kita melihat bahwa reformasi dalam persimpangan khususnya dalam masalah hukum.

Namun, kendati reformasi masih mengundang berbagai gugatan, kembali ke masa Orde Baru jelaslah itu bukan pilihan. Kita, misalnya, tidak ingin kebebasan berpendapat kembali dibelenggu, pers dibredel, kaum oposisi di jebloskan ke penjara, dan orang bisa menjadi Presiden selama 32 tahun.

Apa kata dunia, memang reformasi belum selesai masih banyak yang harus dibenahi. Termasuk kualitas para pemimpin masa sekarang yang memimpin negeri ini. Jangan sampai sejarah kemudian mencatat, pemimpin di masa reformasi lebih buruk dari zaman Pak Harto.***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!