Awas NII Hipnotis dan Cuci Otak Generasi Muda

05/05/2011 0 Comments

Kelompok Negara Islam Indonesia disebut-sebut berhasil menyusup menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) di sejumlah daerah di Indonesia, yang sekarang disinyalir telah mempunyai anggota binaan sampai 150.000 orang umumnya generasi muda kalangan pelajar dan mahasiswa. Kelompok yang menamakan dirinya disebut juga kelompok  NII alias N Sebelas.

Gubernur Banten Atut Chosiyah yang pertama kali mengungkapkannya. ”Saya sudah menerima laporan terkait anggota NII yang saat ini menjadi pegawai Negeri “. Katanya pekan lalu. Namun yang pasti masuknya anggota NII di birokrasi sudah sejak sepuluh tahun yang lalu.

Bupati Malang Rendra Kresna juga menduga jajaran birokrasinya disusupi anggota NII. Menurut dia, dua pegawai wanita lenyap dalam dua pekan terakhir. Mereka diduga terkait dengan kegiatan radikal itu. Tapi Menteri Dalam Negeri Gumawan Fauzi menyatakan belum mengetahui pegawai negeri yang menjadi anggota NII. ”Tanya saja Kapolri”, katanya.

Pepi Fernando { 32 },tersangka otak perencanaan pengeboman untuk aksi  di delapan lokasi di Jakarta dan Bogor, diduga berubah radikal setelah sempat terpengaruh oleh Gerekan Negara Islam Indonesia { NII }. Dalam pemeriksaan Polisi,Pepi mengaku pernah ikut aktivitas  NII pada 1998, tetapi belum diketahui dalam komandemen wilayah mana.

Bangsa Indonesia saat ini menghadapi ancaman serius terkait dengan terorisme,kekerasan horizontal,dan radikalisme yang terus terjadi di sejumlah tempat. Jika tak di tanggulangi secara serius,kondisi ini bisa berdampak pada harmoni bangsa kedepan.

“Rasa aman masyarakat terancam.Jangan dibiarkan. Semua bertanggung jawab dan bertugas  menanggulangi ancaman itu “. Presiden Susilo Bambang Yudoyono menegaskan,jika radikalisme itu terkait  dengan ideology yang mengancam empat pilar kehidupan bernegara, yaitu Pancasila,UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia,dan Bhineka Tunggal Ika. Presiden menegaskan, semua elemen bangsa bertanggung jawab, memiliki kewajiban,dan mesti mengemban tugas bersama untuk menghentikannya. “ Kita tidak boleh apatis,pasif, dan membiarkan begitu saja.” Ujarnya.

Menurut  mantan Wakil Presiden Yusuf Kalla,dengan munculnya gerakan radikalisme, baik melalui terorisme maupun jaringan Negara Islam Indonesia { NII} yang merekrut kaum muda,berarti tindakan pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut selama INI  belum cukup. Kalla mengakui, mengatasi radikalisme tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri. Semua komponen bangsa harus terlibat.

Di Bandung, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengingatkan,radikalisme agama,seperti penyebaran NII, mengancam keutuhan Negara. Meski hanya didukung pengikut yang  sedikit,paham itu menimbulkan keonaran. Diteksi dini harus dilakukan dengan bekerja sama dengan intelejen.

Heryawan mengakui, NII memiliki ikatan sejarah dengan Jawa barat karena menjadi daerah asal gerakan itu. Namun,pendukungnya tak banyak lagi di Jabar. Jum’at pecan lalu,dilaporkan seorang mahasiswa Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Siliwangi Tasikmalaya, Rita Esti Kurnia { 19 } hilang sejak dua minggu lalu. Ny Herti,ibu Rita, khawatir  anaknya itu hilang akibat terlibat dengan NII.***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!