“B A J U”

20/05/2011 0 Comments

“Hai Bung HR… apa kabar? semoga sehat dan happy ya…” Pesan itu saya terima dari seseorang yang sudah lama sekali tak berjumpa. Pagi itu saya tengah berolahraga di halaman rumah, tapi nomer HP nya tak saya kenal, saya coba balas dari siapa nih. Teman lawas itu membalas lagi, masa lupa aah. Ya siapa atuh, dari mana tahu nomer HP saya dari Benny di Sangertalaud. Betul itu teman saya sahabat karib waktu di Jakarta dan Sangertalaud itu sebuah pulau di Sulawesi Utara yang berbatasan dengan Philipina. Maaf saya lupa, saya Sukmana. Oh saya ingat, bukan kamu itu tukang bubur kacang yaa..

Hai tukang bubur kacang di mana sekarang, saya pulang kampung di Kuningan. Yaa… tak jauh dari tempatku, aku tinggal di Banjar. Yaa ampun kita tinggal berdekatan kalau begitu. Saya sendiri lupa kapan terakhir saya bertemu, yang jelas pertemuan kami pertama adalah dua puluh sekian tahun yang lalu, saat kita bertiga saya, Benny dan Sukmana. Bersama-sama bekerja di sebuah media nasional di Jakarta. Waktu begitu cepat berlalu dan cepat pula saya lupakan.

Dalam libur bersama, Harpitnas (Hari Kejepit Nasional) yang baru lalu saya, istri, anak dan cucu berkunjung ke teman saya di Kuningan tepatnya Linggarjati. Sesampai di tempat itu, saya bertanya sama tukang ojeg, dupi bumi na Pak Sukmana palih mana, kaleresan nemba abdi ningal Pak Haji aya di kebon na nuju ngobrol sareng pangebon, lima ratus meter ti dieu aya saung joglo sae aya nami  na “Rumahku Sorgaku“.

Tak berselang lama Joglo itu ketemu, Pak Haji betul sedang bincang-bincang dengan beberapa orang. Saya ucapkan Assalamualaiqum, begitu melihat saya, Pak Haji itu langsung menyambut saya dan berpelukanlah kami. Sebuah pertemuan yang mengharukan antara sahabat. Kamipun di bawa ke rumahnya yang Asri di kaki gunung Ceremai.

Dulu, saya dan dia juga teman wartawan lain. Selalu berbaju non formal baju kaos bercelana jins, rambut aga gondrong dengan sepatu cats atau pakaian santai adalah baju jurnalis muda masa itu, Sukmanapun yaa berpakaiannya tak beda dengan teman-teman waratawan lainnya. Tapi Sukmana sekarang lain sudah jadi Haji tentu tak seperti dulu lagi, faktor usia pun bisa membedakan.

Baju tak sebatas penutup tubuh. Baju menghadirkan seribu yang mewartakan indentitas seseorang. Biografi seseorang terbaca melalui baju, baik biografi kultur, sosial, agama, maupun politik.

Baju menjadi pembeda kultur masyarakat kota dan masyarakat desa. Bagi masyarakat kota, baju menjadi persoalan kompleks. Masyarakat kota yang lebih awal dan lebih menerima modernisasi kerap direpotkan baju. Senang hati atau terpaksa, mereka ikut trend dan merek terkini, mulai baju kerja, liburan, pesta, hingga baju tidur. Perubahan desain baju bagi masyarakat kota pun cepat dan dinamis. Tak heran bila masyarakat kota mengoleksi beragam baju dalam jumlah banyak, melebihi kebutuhan.

Sementara masyarakat desa memaknai baju dengan sangat sederhana. Baju untuk kerja dan kegiatan lain yang tak formal hampir tak bisa dibedakan. Baju formal dipakai saat resepsi atau ritual-ritual tertentu. Itu pun tak direpotkan tren atau merek.

Baju juga pembedakan kesalehan seseorang. Seorang yang merasa saleh akan memakai baju yang mencitrakan indentitas agamanya. Bagi orang Islam, misalnya, mereka yang lelaki mengenakan baju koko dan sarung. Perempuannya mengenakan baju menutup seluruh badan kecuali muka. Baju mereka membedakan dengan masyarakat abangan atau non muslim.

Alkisah, Soekarno atau Bung Karno, pernah mendapat perlakuan tak menyenangkan dari penghulu. Saat itu, ia akan ijab Kabul dengan istri pertamanya Utari. Penghulu menolak menikahkan karena Bung Karno mengenakan pakaian model Eropa dan berdasi. Penghulu menilai bukan pakaian muslim (Cindy Adam,2001).

Baju juga menjadi kisah yang mewartakan status ekonomi seseorang. Realitas itu gamblang saat lebaran tiba. Hampir semua yang pergi ke masjid, kuburan, atau bersilalturahmi mengenakan baju baru, mulai anak-anak, dewasa, hingga orang tua. Tak peduli ekonomi mampan atau sebaliknya. Mereka yang mampan cenderung mengenakan baju beraneka ragam, mengikuti tren, dan mahal.

Bahkan satu keluarga bisa mengenakan baju, dengan model, warna,dan merek sama. Baju menjadi informasi kelas ekonomi dan status sosial seseorang. Realitas itu beda dengan masyarakat miskin, di kota maupun di desa. Masih segar diingatan, awal tahun 80 an, anak-anak gembira mengenakan baju baru. Namun, baju baru itu tak lain seragam sekolah kemeja putih dan celana merah. Orang tua mereka sengaja membelinya agar sekali gus bisa untuk seragam sekolah.

Tak berhenti disitu, kisah baju juga memasuki ruang kontestasi politik “martabat“. Baju adalah penanda pangkat atau strata tertentu dengan segala konsekuensi etik dan nilainya. Bagi para priyayi, baju yang dipakai sekaligus penjaga citra bahwa mereka bukan “rakyat biasa“. Bagi masyarakat biasa yang salah satu anggota keluarganya menjadi pegawai (priyayi), seragam pegawai menjadi kebanggaan tersendiri. Anggota keluarga itu, terutama orang tua, akan merasa terangkat martabatnya jika anaknya berseragam pegawai. Baju menjadi informasi sebuah prestasi.

Lebih ekstrem pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Baju jadi pembeda kaum kolonialis dengan pribumi. Baju dimaknai metafora kekuasaan dan kewibawaan. Bagi para penguasa pribumi yang hendek menemui utusan kolonial, maka harus berpakaian barat. Begitu juga para pelajar di sekolah kolonial, harus berseragam gaya Eropa.

Pada masa kolonial pula, perempuan-perempuan pribumi dilarang bergaun putih. Gaun putih hanya bagi kaum perempuan Eropa. Model berpakaian seperti itu sempat ditentang kaum pribumi. Mereka mengenakan sarung sebagai tandingan baju setelan gaya Belanda. Sebagaimana ditampak Sjarhrir. Ia meminta istrinya mengenakan sarung.

Baju, dalam setiap perubahan zaman, selalu membawa kisah yang mencerminkan (tingkat) peradaban atau kebudayaan yang berkembang di tengah manusia yang mengenakannya. Baju tak lagi sebatas alat penutup aurat atau penangkal perebuhan cuaca. Bukan pula sebatas komoditas ekonomi. Namun, menjadi medium informasi dan penanda yang tak lagi bebas di nilai. Mulai baju kita menegaskan diri kita, eksistensi, respons, hingga perlawanan pada kekuatan tertentu. Ada sejarah disana, yang sering dilupakan, bahwa pada tingkat tertentu, bukan kita yang menentukan. Namun, (siapa) kita justru ditentukan oleh selembar baju. Seperti Pak H Sukmana teman saya waktu muda, lain dulu lain pula sekarang. Baju, menjadi ciri atau indentitas seseorang. Untuk mendinginkan otak kita setelah bergelut dengan baju. Ada lagunya; *Baju baru……..alhamdulilah. Tuk dipakai………di hari raya. Tak punya pun……tak apa-apa. Masih ada baju yang lama*      ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply