Bagaimana Menyikapi Perubahan Iklim Ekstrim Yang Menimbulkan Bencana Lingkungan

13/05/2011 0 Comments

Asno  Sutarno SP. MP.

Semakin terasa perubahan iklim ekstrim, seperti hujan turun sepanjang tahun. Musibah dan bencana saling berganti. Bencana yang melanda belahan  dunia, terus terjadi hal itu terjadi juga di tanah air kita. Seperti banjir badang, tanah longsor semua itu tanpa terantisipasi dan terdeteksi lebih awal. Bahwa bencana itu, bisa terjadi secara tiba-tiba.

Apabila bencana  yang terjadi itu bisa akan teratasi sejak dini,untuk daerah-daerah yang rawan bencana. Pemerintah harus harus mengambil langkah sebagai berikut :

  • Pemerintah Daerah harus mengetahui dan mendeteksi lebih dini dengan membuat Master Plan Daerah Rawan Bencana.
  • Mensosialisasikan kepada masyarakat, tentang kondisi musim hujan yang ekstrim terus menerus yang berdampak dari pemanasan global, berakibat terjadinya bencana alam yang melanda lingkungan hidup.
  • Melaksanakan kaidah konsevasi tanah dan lahan dengan upaya yang direkomendasikan dari Leading Sektor terkait.
  • Pemerintah harus mau menyusun rencana dari sistem penanggulangan bencana di daerah-daerah.

Terus bagaimana kita, bisa menafsirkan kejadian-kejadian tersebut. Sehingga memprediksi lebih awal, pertanyaannya kenapa hutan yang tegak dan lebat bisa terjadi longsor. Banyak pihak berpendapat bahwa hutan yang lebat tidak akan terjadi longsor karena tegakan pohon cukup banyak dan kuat menahan atau menampung air. Sehingga tidak akan terjadi longsor dan banjir badang. Tetapi tidak demikian bila curah hujan, turun sepanjang tahun secara terus menerus seperti yang terjadi  saat ini.

Sebenarnya kejadian bencana, harus dilihat dari bergai aspek secara Biofisik bahkan secara sosial dan ekonomi. Secara Biofisik kita harus melihat dengan pendekatan, satuan tanah yang hilang atau dengan pendekatan USLE (Unit Soil Lost Erotion) dimana satuan terkecil tanah yang hilang dipengaruhi faktor-faktor curah hujan, erodibilitas tanah panjang lereng, penutupan lahan dan faktor pengelolaan (RKLsCP).

(R) Curah hujan mempunyai peranan yang cukup mempengaruhi kepada kondisi lahan/tanah (K) dimana tanah akan menyerap air bila kondisi tanah itu belum jenuh atas air yang ada dan air berlebih akan dilimpahkan ketempat yang lain dengan (Ls) kondisi lereng kemiringan lahan tersebut, tetapi peranan penutupan lahanpun akan mempunyai peranan yang akan berkorelasi terhadap curah hujan bila kondisi hujan cukup di bawah rata-rata, kurang dari 200 mm/hari, serta (CP) faktor pengelolaan dan penutupan lahan yang ada apakah memperhatikan kaidah-kaidah konservasi lahan dan hutan.

Sekarang kita melihat, kenapa hutan yang cukup baik stratanya tetapi terjadi longsor yang mengakibatkan  bencana. Bagi tatanan hutan itu sendiri atau masyarakat yang tinggal dibawahnya dan lahan-lahan pertanian lainnya  yang tertipa bencana longsor atau banjir badang.

Kita perhatikan lebih seksama kondisi saat ini musim hujan yang terjadi sepanjang tahun, sehingga faktor Biofisik akan berubah dan berdampak daya dukung lahan pada kondisi yang di permukaan, lebih detilnya bahwa lahan terbagi dari beberap lapisan yang terbentuk  dari bantuan induk asalnya,  secara geologi akan terkomposisi sebagai berikut adanya Top Soil atau permukaan tanah, sub Soil bagian lapisan kedua dimana masih efektifnya.

Pertumbuhan akar dan ketiga lapisan C yang merupakan rata-rata kedap terhadap air dan lapisan lanjutnya adalah batuan induk, serta bilamana terdapat pada kondisi lahan yang mempunyai kemiringan >45% maka kejenuhan air pada lapisan Top Soil dan sub Soil, serta penumpukan air pada permukaan lapisan kedap air .

Akan berakibat lemahnya kondisi tanah  tersebut serta menjadi semakin beratnya kondisi lahan tersebut, dan kemungkinan longsor itu terjadi. Dimana kondisi yang ada akan lebih mudah terlepaskan dan terpecahkan oleh kejenuhan air itu pada lapisan kedap air. Jadi kondisi volume lahan yang semakin berat pada kondisi tertentu atau dalam keadaan jenuh air akan berakibat mudahnya tanah dan bagian yang ada tumbuhannya turun  dan berakibat longsor.

Belum lagi dilihat dari aspek sosial bahwa tekanan penduduk terhadap penggunaan lahan yang semakin besar, dengan tidak mengindahkan fungsi kawasan yang dipaksakan untuk lahan-lahan pemukiman, pertanian dan kepentingan lain. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!