Di Perut Bumi Impian Masa Old Colonialism di Selatan Ciamis Masih Tersimpan?

20/05/2011 0 Comments

Peta Kabupaten Ciamis dan sekitarnya. Foto : molluscan

Deni Supendi

Jawa Barat bagian selatan tergolong memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa. Kekayaan itu berupa panorama, hutan, sungai, pantai dan samudra, begitupun potensi yang berada di balik perut bumi, seperti aneka mineral emas, perak, tembaga, fosfat, batu bara dan banyak lagi.

Jika kita kaitkan antara kekayaan alam Jabar bagian selatan dengan keberadaan kereta api bisa jadi dugaan itu tidak meleset. Pemerintah kolonial Belanda pernah membangun jalur kereta api ke wilayah selatan, termasuk dari Banjar ke Cijulang Kab. Ciamis.

Pembangunan jalur KA tersebut lebih banyak menyimpan misteri daripada memberikan kenyataan dalam kenyamanan moda angkutan modern yang murah meriah bagi penduduk setempat.

Coba saja kita renungkan, nilai investasi yang mereka keluarkan lebih besar ketimbang manfaat yang mereka petik. Bila ditinjau dari aspek sumber daya manusia saat itu, kereta api mungkin hanya memperlancar lalu lintas ke kawasan selatan yang curam dan kurang potensial.

Tapi, sejarah old colonialism abad ke-16 hingga ke-20 mengatakan hal lain, bahwa setiap kolonialis-imperialis mengemban misi glory yakni kemenangan secara fisik dan geografis terhadap tanah jajahannya). Selain itu, misi gold atau bisa diartikan upaya mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya dari jajahan tersebut.

Negara-negara kolonialis-imperialis Benua Eropa seperti Spanyol, Portugis, Inggris, Perancis, Belanda, Belgia, Jerman, dan Italia kerap menjejakkan cakar kaki mereka di benua Asia, Afrika dan Amerika dengan bentuk kekuatan militer, politik, sosial dan budaya.

Mereka berhasil mengeruk apa saja dari permukaan bumi hingga ke perut bumi. Ketika negara yang sudah dikuras habis itu ditinggalkan dan dimerdekakan, yang tinggal adalah hampas garing dan pertarungan berlarut-larut.

Padahal, secara tidak langsung, negara itu masih berada dalam penjajahan ideology, bahkan administrasi, walaupun secara militer dan politik sudah tidak lagi mengalami penjajahan.

Masa Old Colonialism

Dalam rentang tiga abad setengah menjajah Indonesia, Belanda tidak punya cukup waktu untuk menggali kekayaan mineral yang terpendam di kawasan terpencil, terutama di selatan pulau Jawa, khususnya di Jabar, dari kab. Ciamis bagian timur, hingga Kab. Sukabumi sebelah barat.

Belanda hanya sempat meng-eksploitasi sejumlah perkebunan-perkebunan teh terkenal kala itu, seperti di Batulawang (masih Ciamis), Taraju (Tasikmalaya), Papandayan, Dayeuhmanggung, Giriawas, Cisaruni, Pamegatan (Garut), dan Malabar (Bandung).

Pemanfaatan kekayaan bawah tanah di wilayah tersebut, baru sebatas reka rencana masa kolonial, yang saat ini menjelma menjadi semacam mitos atau dugaan belaka.

Sebagian kecil yang sudah pernah terbukti, munculnya pertambangan rakyat di wilayah Salopa Tasikmalaya. Sementara potensi lainnya masih tersembunyi di balik cerita rakyat yang berbau mistik dan misteri.

Dibalik itu, jika benar cerita rakyat dan impian masa old colonialism itu ada, tentang wilayah yang mengandung kekayaan alam menggiurkan, kawasan Ciamis selatan bisa jadi menyerupai kawasan Papua yang di garap habis oleh PT. Freeport.

Fakta menunjukkan, bahwa setiap daerah yang memiliki kekayaan mineral bukan menguntungkan, justru malah merugikan penduduk sekitarnya. Mereka akan terusir dari pemukiman dan harus hengkang ke tempat lain karena tanah mereka akan diekploitasi dan dieksplorasi.

Keberadaan PT Freeport di Papua cukup menjadi contoh nyata. Meski emas, perak dan tembaga mengalir menjadi devisa, namun rakyat yang semula hidup aman, dan damai, menjadi teraniaya.

Di tempat lain juga sama, penduduk asli harus menjadi korban pertama untuk menebus kekayaan alam yang dicari entah untuk siapa. Penduduk terpaksa harus mengalah, demi pembangunan bendungan, penyedotan gas alam, hingga penggalian mineral logam. Tidak heran, di kalangan penduduk kawasan selatan beredar perasaan sarkastis. Lebih baik tanah papa hampa, daripada kaya raya membawa sengsara.

Inventarisasi dan Evaluasi Mineral Non Logam

Dalam websit resmi Pusat Sumber Daya Geologi (PSDG) menyebutkan, bahwa Kab. Ciamis memiliki Potensi Sumber Daya Alam meliputi, Lempung, Tras, Kalsit, Fosfat, Batu Gamping, Zeolit, Andesit, pasir, dan gambut.

Endapan lempung terdapat di Kec. Pangandaran dan Parigi. Untuk di Pangandaran, endapan lempung terdapat di Kamp Pasuruan, Desa Purbahayu, lokasi endapan lempung ini tersingkap di sepnajang jalan perbatasan Purbahayu dan Desa Pagergunung. Sementar di Parigi, lempung terdapat di Kamp. Karangpetir, Desa Cintakarya.

Potensi lainnya, berupa endapan tras terdapat di beberapa daerah seperti Cintakarya kec. Parigi, Pasirmuncang, Limusgede, Pagerbatu, dan Cikondang Kec. Cimerak. Juga di daerah Pasiripis, Tenjojaya Kec. Kalipucang; dan Pasirangin Kec. Padaherang.

Selanjutnya potensi SDA kalsit terdapat di Kamp. Karangmukti Desa Selasari, Kec. Parigi, Desa Sulanjana Kec. Banjarsari, Desa Batukaras Kec. Cijulang, dan Desa Tunggilis Kec. Kalipucang.

Kemudian SDA Fosfat terdapat di Desa Cigugur Kec. Cigugur, Desa Tunggilis Kec. Kalipucang, Desa Cikadu Kec Parigi, daerah Krapyak Kec. Banjarsari, Ciganjeng, Karangmulya dan Pangkalan, Kec. Padaherang.

SDA alam lainnya yakni Batugamping terdapat di Kec Cimerak, Parigi, Kalipucang, Cijulang, Padaherang, Banjarsari dan Pamarican. Kemudian, Endapan zeolit terdapat di Kamp. Munggangsempu Desa Tunggilis Kec. Kalipucang.

Untuk potensi SDA berikutnya, Andesit terdapat di daerah Cimerak dan daerah Pasirkanji Kec. Banjarsari. Endapan pasir terdapat juga di Kec. Cimaragas, Sukaresik, Pangandaran, Cibenda Parigi, Sindangrasa dan Pasirmandeg Kec. Banjarsari.

Terakhir, potensi Gambut terdapat di Kamp. Sukaharja, Desa Sukamulya, Kec Lakbok. Kualitas dan kwantitas potesnis SDA di Kab Ciamis mempunyai nilai prospek untuk dikembangkan. PSDG juga menyarankan, Kab. Ciamis lebih meningkatkan pendataan dan pengawasan kegiatan penambangan, terutama masalah kapasitas penambangan. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply