Keseimbangan Sebagai Fondasi Langit Dan Bumi

20/05/2011 0 Comments

Penciptaan Alam Yang Serasi

Keberadaan alam semesta adalah sesuatu yang nyata. Alam berate dunia fisik, yaitu sesuatu yang dapat ditangkap dengan indra. Dalam Al Qur’an terdapat lebih dari 750 ayat yang berbicara tentang fenomena alam. Hampir semua ayat itu memerintahkan manusia untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan penciptaan dan merenungkan isinya. Bidikan Al Qur’an terhadap fenomena alam dimaksudkan untuk menarik perhatian manusia pada Pencipta Alam Yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana, dengan mempertanyakan dan merenungkan wujud-wujud alam, dan untuk mendorong manusia agar berjuang mendekatkan diri kepada-Nya.

Dalam perspektif Islam, fenomena alam merupakan tanda-tanda Yang Maha Kuasa, dan suatu pemahaman tentang alam adalah analog dengan pemahaman tanda-tanda yang bisa membawa kita meraih pengetahuan tentang Tuhan. Al Qur’an telah mensinyalir hal ini.

{Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang mengetahui.} (QS.30: 22).

{Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air  itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya} (Qs : 30 : 24).

Uraian di atas, dapat dipahami bahwa apa pun penjelasan Al Qur’an tentang fenomena alam selalu mempunyai tujuan transenden, yaitu memahami hakikat di balik penciptaan untuk meraih pengetahuan tentang  Yang Maha Pencipta. Pemahaman tentang alam bukanlah usaha yang bernilai, kecuali jika ia membantu kita memahami Pencipta dunia ini Yang Maha Bijaksana  dan dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Alam, dalam konteks ini, merupakan “alat untuk menggapai akses kepada kearifan Ilahi“. Memahami alam dapat mengembangkan wawasan manusia bagi pengenalan Allah dan memungkinkannya untuk dapat lebih memanfaatkan dalam arti mensyukuri semua pemberian Allah SWT.

Demikian tujuan hakiki pencipta alam. Karena itulah, alam diciptakan Tuhan untuk tujuan yang benar [bi al-haqq ], tidak sia-sia dan tidak untuk tidak sia-siakan. Atas dasar itu pula, segala sesuatu diciptakan menurut ukurannya. Ayat-ayat berikut memastikan bahwa Tuhan menciptakan alam dengan sebenar-benarnya. Tuhan tidak menciptakannya secara “main-main“ [ la’b ] dan tidak pula secara “palsu“ [bathil] atau tampa hikmah Al Qur’an menyebutkan.

[Dia menciptakan langit dan bumi dengan [ tujuan ] yang benar…..[ QS.39 : 5 ]

[Dan tidaklah kami ciptakan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.[ QS. 21: 16 ].

[Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan yang ada diantara keduanya tanpa hikmah….[ QS. 38 : 27 ]

Pada gilirannya, pengertian bahwa alam ini diciptakan secara benar [bi al-haqq], tidak main-main, dan tidak pula untuk sesuatu yang palsu, mengisyaratkan bahwa alam ini tidak kacau, melainkan tertib dan teratur. Para penafsir Al Qur’an di masa klasik Islam, seperti al-Baydawi, menafsirkan ungkapan bil al-haqq [dengan kebenaran] sebagai “dalam kebijaksanaan dan dalam keadaan alam itu semestinya diciptakan, atau menurut ukuran, bentuk, posisi, atau sifat yang Dia takdirkan dan khususkan melalui kebijaksanaan-Nya, atau dalam kesesuaian  dengan kebenaran dan keadilan yang mengharuskan“.

Orang-orang Yunani pada masa lalu menyebut jagad raya ini dengan “kosmos“ yang berarti serasi, harmonis. Perspektif seperti ini menjelaskan bahwa alam yang membentuk sesuatu lingkungan diciptakan dengan sengaja dan secara terencana. Bukti kesengajaan dan kesesuaian  dengan rencana tersebut adalah adanya keteraturan, keseimbangan, keserasian, dan keindahan dalam ciptaan Tuhan. Didalam Al Qur’an dapat ditemukan ayat-ayat yang menyebutkan adanya aturan dan koordinasi. Di antaranya:

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihat berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah [QS. 67 : 3-4 ] (HIT ***)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!