Pemkot Diminta Jeli Gali Potensi Pariwisata

20/05/2011 0 Comments

Wilayah Sinartanjung dan Panatasan, Kec. Pataruman, menjadi sentra produksi bata merah. Tempat tersebut jika dikembangkan dapat menjadi salah satu potensi pariwisata di Kota Banjar. Foto : Eva Latifah/HR.

Wisata tradisional tarik minat turis mancanegara

Banjar, (harapanrakyat.com),- Sebagai kota transit, wilayah Kota Banjar mempunyai beberapa kawasan yang dinilai berpotensi untuk dikembangkan menjadi tujuan pariwisata, khususnya bagi turis mancanegara. Namun, perlu adanya inovasi dan kreatifitas dari para pemangku kebijakan.

Beberapa kawasan tersebut diantaranya, tobong atau tempat pembuatan bata merah di daerah Panatasan dan Sinartanjung, Kec. Pataruman. Kedua lokasi itu merupakan sentra pembuatan bata merah di Kota Banjar.

Kemudian, tempat produksi susu kambing Etawa, dan pembuatan genteng di daerah Rejasari, Kec. Langensari. Curug Balokang di wilayah Desa Balokang, pabrik pengolahan karet di PTPN Batulawang, dan tempat produksi gula merah di wilayah Batulawang, maupun di Langensari.

Selain itu, keberadaan terowongan kereta api peninggalan zaman penjajahan Belanda yang ada di daerah Binangun, serta banyaknya situs bersejarah di Kota Banjar, dapat pula dikembangkan menjadi daerah tujuan pariwisata.

Menurut Ujang S Bachyan, sebagai masyarakat Banjar yang peduli terhadap kemajuan daerahnya, dia menilai tempat-tempat tersebut sangat disukai oleh wisatawan asing.

Untuk itu, pemerintah daerah seharusnya bisa lebih jeli dalam menggali potensi yang ada di wilayahnya, termasuk potensi kepariwisataan.

“Kalau semua itu dikembangkan, ditata dan dikelola secara benar, sudah pasti Kota Banjar akan menjadi tujuan wisata turis asing, karena wisatawan mancanegara justru menyukai tempat-tempat seperti itu,” katanya, Kamis (12/5).

Lanjut Ujang, ketika temannya yang kini telah menjadi warga negara Australia berkunjung ke Banjar, dan dia tahu di Banjar ada perkebunan karet sekaligus pabrik pengolahan getah karetnya, dia mengatakan bahwa tempat tersebut sangat berpotensi untuk dijadikan tujuan pariwisata.

Terlebih saat Ujang mengatakan ada beberapa tempat pembuatan bata merah, genteng dan gula merah yang diproduksi masyarakat secara tradisional, serta keberadaan terowongan kereta api peninggalan zaman Belanda.

“Teman saya itu tadinya seorang guide, sehingga dia tahu betul tempat-tempat yang disukai oleh wisatawan asing. Bahkan dia tertarik ingin berinvestasi di bidang kepariwisataan, lantaran semua itu merupakan potensi yang sangat bagus untuk dikembangkan,” tuturnya.

Maka, dalam hal ini pemerintah harus bekerjasama dengan biro perjalanan pariwisata, yaitu jasa travel. Dengan demikian, jasa travel yang mengangkut rombongan turis mancanegara tujuan Pangandaran, dalam perjalanannya mereka bisa singgah dulu di Kota Banjar untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut.

Agar menjadi lebih manarik dimata para wisatawan, perlu pula dibangun sarana prasarana pendukung lainnya di sekitar lokasi. Seperti  kedai kopi atau rumah makan, dan tempat peristirahatan/bungalow.

Namun, semua arsitektur bangunannya harus mempertahankan kesan alami/tradisional, sehingga ciri khas daerah tanah Pasundan tetap terasa kental. Kemudian, ditampilkannya kesenian tradisional yang ada di Kota Banjar.

“Untuk itu, selain bekerjasama dengan jasa travel, pemerintah juga harus merangkul seniman dan budayawan yang ada di Banjar. Sangat disayangkan jika potensi-potensi tersebut tidak dikembangkan, karena itu merupakan salah satu potensi bagi sektor kepariwisataan di Kota Banjar. Selain untuk menambah PAD, perekonomian masyarakat pun ikut terdongkrak,” tuturnya.

Ujang mencontohkan, seperti halnya Kampung Sampireun. Tempat tersebut kini telah berubah menjadi tujuan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Padahal, jika melihat kondisi alamnya tidak terlalu bagus.

Tapi, setelah dikembangkan dan ditata dengan menciptakan karakteristik sebuah daerah perkampungan yang menonjolkan sisi tradisionalnya, maka Kampung Sampireun dinilai mempunyai daya tarik tersendiri oleh orang kota.

“Wisatawan asing itu ingin mencari tempat wisata yang alami atau tradisional, jauh dari kebisingan. Mereka benar-benar membutuhkan tempat untuk refresh. Kita tidak perlu menyediakan hotel berbintang atau tempat hiburan yang modern, karena di negara mereka juga sudah ada, bahkan jauh lebih modern. Jadi, manfaatkanlah potensi-potensi tersebut sebagai daerah wisata di Kota Banjar,” ucapnya.

Ditemui di tempat terpisah, Ketua DPRD Kota Banjar, Drs. Dadang R Kalyubi, mengakui, bahwa memang Kota Banjar memiliki banyak potensi di bidang kepariwisataan. Namun, yang menjadi permasalahannya para pejabat terkait tidak inovatif dalam menggali potensi kepariwisataan.

“Yang harus digaris bawahi adalah tinggal inovasi dari para pejabat yang bersangkutan. Jangan dulu bicara masalah anggaran, karena kepala daerah juga bisa menganggarkan kalau memang potensi itu dapat mendatangkan PAD bagi Kota Banjar, dan itu ada di DPA-nya. Jadi saya juga sangat setuju kalau potensi-potensi tersebut dikembangkan,” tegasnya, Senin (16/5).

Sedangkan, masalah besar kecilnya anggaran yang dianggarkan, itu nanti dilihat dari potensi itu sendiri. Dia mengatakan, jangan malah balik lagi ke kepala daerah, karena kepala daerah hanya merespon masukan dari bawah.

Dijelaskan Dadang, untuk pengembangan kepariwisataan, dalam DPA-nya masuk pada program pengembangan nilai budaya (pemeliharaan situs cagar budaya). Kemudian, program pengembangan pemasaran pariwisata, diantaranya promosi kepariwisataan.

Program pengelolaan kekayaan budaya, salah satunya pengembangan budaya pariwisata. Lalu, program pengembangan destinasi pariwisata/pengembangan objek pariwisata unggulan, serta program penggalian potensi pariwisata. (Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply