Tukang Ngalio Merana Ditengah Pembangunan Pasar Banjar

05/05/2011 Headline
Tukang Ngalio Merana Ditengah Pembangunan Pasar Banjar

Seorang pengrajin bata merah di Blok Gorda, Desa Balokang tengah menjemur bata mentah. Meski para pengrajin mendapatkan orderan dari pemerintah, namun hal itutidak berimbas pada penghasilan mereka. Foto : Eva Latifah/HR.

Dengan adanya proyek pembangunan Pasar Banjar, permintaan bata merah kepada para pengrajin meningkat. Namun, hal itu tidak berimbas pada meningkatnya penghasilan mereka.

Eva Latifah

Sebanyak 63 pengrajin bata merah yang berada di Blok Gorda, Desa Balokang, Kec. Banjar, merupakan salah satu penyuplai kebutuhan bata merah dalam proyek pembangunan Pasar Banjar.

Ketika HR menyambangi lokasi, para pengrajin tampak sibuk dengan aktifitasnya. Sebagian menyiapkan adonan, atau disebut ngalio, dan sebagian lagi menyetak adonan.

Satu pasang pengrajin, yaitu terdiri satu orang bagian ngalio dan satu orang bagian mencetak adonan menjadi bata merah, rata-rata perhari dapat menghasilkan 500 bata merah. Tapi, bagi pasangan yang masih muda, mereka dapat menghasilkan 600-700 buah/hari, sehingga dalam satu bulan mencapai 15.000 buah.

Menurut Nurdin, salah seorang pengusaha sekaligus pengrajin bata merah, mengatakan, meski saat ini pengrajin mendapatkan orderan dari pihak pelaksana pembangunan pasar, namun mengenai penghasilan sama saja seperti biasanya.

“Saat ini dapat orderan dari pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pembangunan pasar. Tapi tidak serta-merta penghasilan meningkat, lantaran dibelinya dengan harga rendah, sampai tempat itu hanya 420 rupiah/buah,” kata Nurdin, saat ditemui, Selasa (3/5).

Padahal, di wilayah Kota Banjar harga normal satu bata merah jika diantar sampai tempat berkisar antara Rp450-Rp460, tergantung jauh dekatnya jarak angkut. Kalau diambil sendiri, harganya lebih murah Rp.360/buah.

Diakui Nurdin, harga bata merah mengalami penurunan, sehingga ketika pemerintah membelinya dengan harga rendah, maka pendapatan pengrajin justru malah menurun.

“Menjual harga segitu, kalau dihitung ternyata pendapatan malah turun, karena harus membayar ongkos tenaga angkut, bensin dan membayar pekerja. Di  proyek pembangunan pasar banyak perman minta jatah. Dikira pengrajin bata kebanjiran order dari pembangunan pasar dapat keuntungan besar. Justru sebaliknya, tukang bata kagencet, akhirnya ditawar murah, tapi tetap ngalah, da itu mah pamarentah,” keluhnya.

Dalam melakukan produksi, kata Nurdin, sama seperti biasa. Meski dapat orderan dari pemerintah, tapi hasil produksi setiap harinya tetap karena terbatas tenaga kerja.

Jika harus menambah pekerja, kata Nurdin, bukan merupakan solusi untuk meningkatkan penghasilan. Sebab, ada faktor lain yang mengakibatkan hasil produksi tetap, atau bahkan mengalami penurunan.

Misalnya, faktor cuaca sangat mempengaruhi tersendatnya proses penjemuran, kemudian terbatasnya bahan baku berupa tanah dan kayu bakar. Terkadang bahan baku tersebut mengalami keterlambatan pengiriman.

Bila dihitung bata merah dari Blok Gorda ke pembangunan Pasar Banjar mencapai rata-rata 5.000 buah per-hari.

Sementara Eroh, pengrajin bata lainnya, tampak tengah sibuk memasukan adonan ke dalam citakan bata yang terbuat dari kayu. Sesekali dia menyeka keringat di keningnya dengan bagian ujung lengan bajunya.

Menurut Eroh, saat ini para pengusaha bata masih tetap melayani pemesanan dari konsumen lain, selain order pemerintah.

“Pengusaha maupun pengrajin bata merah disini tidak terikat kontrak dengan pemerintah, jadi bebas mau mendahulukan konsumen mana juga. Dan biasanya mendahulukan pesanan dari luar, karena harga sesuai  yaitu, dikisaran 450 sampai 460 rupiah,” tuturnya.

Jika penjualan sesuai harga normal, pendapatan pekerja menjadi sedikit meningkat. Namun, Eroh enggan menyebutkan berapa jumlah penghasilannya sebagai buruh pengrajin bata merah.

Dia hanya mengatakan, bila sesuai harga, setidaknya upah yang diterimanya itu dapat mencukupi kebutuhan makan keluarganya. Karena, hasil penjualan bata merah selalu dinanti kebutuhan dapur.

“Kalau tukang bata mah mana we nu wantun meser sesuai harga pasaran, ya pasti lebih diutamakan,” kata Eroh, memungkas perbincangannya. ***

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles