Berbagi Pengalaman Mengenai Rehabilitasi Hutan

02/06/2011 0 Comments

Sekitar 12 juta hektar hutan hujan tropis di dunia hilang setiap tahunnya. Luas ini lebih kurang sama dengan luas negara Yunani. Perhatian dunia kini dicurahkan terhadap kegiatan rehabilitasi. Upaya rehabilitasi hutan di Indonesia dan di belahan dunia lainnya telah dilakukan selama beberapa dekade terakhir ini.

Pada bulan Agustus 2004, CIFOR telah menjadi tuan rumah penyelenggaraan seminar internasional berjudul: “Kajian terhadap kegiatan rehabilitasi hutan – Belajar dari pengalaman” (Review of forest rehabilitation initiatives – Lessons from the past), bertempat di kantor pusatnya di Bogor, Indonesia. Peserta seminar lebih dari 60 orang, yang mewakili lembaga-lembaga penelitian, pemerintah, lembaga donor, akademisi, sektor swasta, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Dalam seminar tersebut, CIFOR diberikan kesempatan untuk menyampaikan temuan-temuan hasil penelitiannya dalam mensintesakan, mengkaji ulang, dan mempelajari pengalaman rehabilitasi masa lalu serta dari proyek-proyek rehabilitasi hutan yang tengah berjalan. “Walaupun banyak orang kehutanan menyadari adanya kegiatan-kegiatan rehabilitasi yang tengah berjalan, informasi mengenai keberhasilan atau dampak kegiatan tersebut sangatlah sedikit. CIFOR berusaha untuk menjembatani kekuranglengkapan informasi ini melalui kerjasama dengan para pakar ternama dari beberapa negara untuk mengumpulkan data penting dan saling bertukar pemikiran”, ujar Mr Takeshi Toma, Project Manager kerjasama penelitian rehabilitasi antara CIFOR dan pemerintah Jepang.

Para mitra peneliti CIFOR dari Brazil, Cina, Indonesia, Peru, Filipina dan Vietnam saling berbagi pengalaman, berdiskusi serta saling mendengar dan belajar dari negara masing-masing. Menurut Murniati dan Lukas Rumboko dari Departemen Kehutanan, kegiatan rehabilitasi hutan di Indonesia akan berhasil apabila dilakukan sesuai dengan keadaan spesifik yang berbeda untuk masing-masing lokasi, termasuk hal-hal yang dibutuhkan masyarakat lokal, kondisi setempat dan pengaturan kelembagaan yang ada di lokasi tersebut.

Hal serupa berlaku juga untuk Filipina. Antonio Carandang dari Universitas Filipina di Los Banos mengatakan pentingnya untuk memperhatikan jenis mata pencaharian penduduk setempat dalam program-program rehabilitasi untuk menjamin adanya partisipasi masyarakat dan upaya rehabilitasi yang berkelanjutan.

Menurut Do Dinh Sam dan Pham Ngoc Mau dari Lembaga Ilmu Kehutanan Vietnam, program rehabilitasi yang dilakukan pemerintah telah berhasil merehabilitasi lahan seluas 450.000 hektar. Namun demikian mereka mengatakan bahwa keikutsertaan sektor swasta perlu lebih ditingkatkan untuk menjamin pendanaan yang lebih mapan.

Sektor swasta telah menunjukkan inisiatifnya di Guangdong, Cina. Zhou Zaizhi dari Lembaga Penelitian Hutan Tropis menyatakan bahwa inisiatif tersebut timbul berkat adanya perjanjian yang dengan jelas menguraikan pembagian hak-hak dan tanggung jawab mereka, legalitas, keterikatan, dan keuntungan yang akan diperoleh masing-masing pihak (stakeholders).

Di banyak negara Amerika Latin, inisiatif kelompok akar rumput merupakan kunci keberhasilan kegiatan rehabilitasi hutan. Menurut Silvio Brienza dan Everaldo Almeida dari Brazil serta Abel Meza dari Peru, petani kecil secara aktif turut terlibat dalam upaya rehabilitasi. Upaya mereka ini dapat ditingkatkan dengan melakukan penguatan organisasi petani lokal dan dengan menawarkan teknologi tepat guna kepada masyarakat sesuai dengan situasi dan kapasitas setempat.

Salah satu isu penting yang mengemuka pada waktu seminar tersebut adalah apa yang sebenarnya dimaksudkan dengan istilah “rehabilitasi”. Tim Nolan, Direktur Forest Liaison Bureau dari Uni Eropa, memicu diskusi dengan menyarankan kepada para peserta seminar untuk berhati-hati dalam mencampuradukkan istilah rehabilitasi dengan istilah-istilah agroforestry, reforestasi, dan penanaman pohon yang dilakukan dimana-mana. Hal ini serupa dengan membandingkan antara apel dan jeruk.

Unna Chokkalingam dari CIFOR mengatakan bahwa berbagai negara dan masyarakat telah melakukan pendekatan yang berbeda-beda untuk merehabilitasi lahan hutannya yang rusak, tergantung kepada kondisi sosial, ekonomi, dan politiknya masing-masing. Kelompok peneliti CIFOR berpendapat bahwa penggunaan istilah rehabilitasi tidak menjadi masalah sepanjang kegiatan yang dilakukan adalah melakukan penanaman pohon pada lahan yang dulunya berhutan. Membandingkan dan mempertentangkan pendekatan yang berbeda-beda dan hasil rehabilitasi di beberapa negara yang berbeda adalah sangat penting, walaupun situasinya selalu berlainan. Hal ini dapat memberikan pelajaran tentang pendekatan yang paling tepat untuk melakukan rehabilitasi yang berkelanjutan untuk kondisi-kondisi yang berbeda-beda.

Isu-isu lain yang berkembang pada saat diskusi dalam seminar tersebut adalah bagaimana menilai dan mengukur suatu proyek rehabilitasi yang berhasil, dan bagaimana membandingkan keberhasilan rehabilitasi antara negara-negara yang berbeda struktur pemerintahan, kebudayaan, dan geografisnya. Menurut Ani Adiwinata Nawir dari CIFOR, keberhasilan dan kegagalan rehabilitasi tidak dapat digeneralisir. Hal ini memerlukan pengkajian melalui sudut pandang yang berbeda-beda dari berbagai stakeholder yang kriterianya berlainan. Beberapa peserta menyarankan bahwa keberhasilan rehabilitasi juga dapat dikelompokkan ke dalam berbagai aspek, seperti aspek sosial, ekonomi dan biofisik. Disamping itu, tingkat pencapaian tujuan proyek merupakan hal terpenting dalam mengevaluasi hasil kegiatan rehabilitasi. Meneruskan saran yang dikemukakan Cesar Sabogal dari CIFOR, disetujui bahwa cara terbaik untuk mensintesakan dan membandingkan temuan hasil penelitian antara berbagai negara adalah dengan menggunakan sistem penguasaan lahan dan pengaturan kelembagaan, sebagai dasar pembandingnya, kemudian diikuti oleh tujuan rehabilitasi dan pilihan teknik-teknik rehabilitasi yang digunakan.

Pada sesi penutup seminar tersebut, Toma menekankan bahwa seminar ini merupakan cara yang baik untuk saling tukar menukar informasi, namun bukan berakhir sampai di sini saja. Partisipasi aktif yang terus menerus dan input yang berharga untuk penelitian kajian ini sangat diharapkan dan akan sangat dihargai.

Proyek ini akan mendesiminasikan pendekatan rehabilitasi hutan yang paling sesuai untuk masa datang dan sistem insentif yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi ekologi, dan sosial ekonomi yang berbeda-beda. Hasil proyek yang spesifik termasuk pengumpulan data dasar dan publikasi yang menggambarkan upaya-upaya rehabilitasi pada masa lalu, serta pelajaran yang dapat dipetik dari beberapa negara. Untuk mencapai hasil yang maksimal, para peserta telah sepakat untuk menterjemahkan publikasi-publikasi ini ke dalam masing-masing bahasa nasionalnya, karena hal ini amat penting untuk memberikan masukan kepada para pengambil kebijakan di negara-negara tersebut, khususnya yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. (Cifor)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!