Di balik kesuksesan RM Cimenyan: Jangan Alergi Dikritik Konsumen

09/06/2011 0 Comments

Berbagai macam menu yang tersedia di RM. Cimenyan siap memanjakan lidah konsumen. Tampak, Kang Erus di dapurnya usai meracik nasi goreng yang menjadi menu andalan RM. Cimenyan. Foto : Eva Latifah/HR.

Kang Erus, pendatang dari Garut yang sukses membuka usaha kuliner di Kota Banjar.

Eva Latifah

Sejak duduk di bangku kelas 1 SMA, yaitu sekitar tahun 1993, Rustaya (35), atau biasa dipanggil Kang Erus, sudah terbiasa membantu orang tuanya berjualan nasi goreng yang mangkal di daerah Cimenyan, tepatnya samping Gang H. Holil.

Kang Erus mengaku, dia bersama kedua orang tuanya merupakan pendatang dari daerah Cikajang, Kab. Garut. Mereka mulai menetap dan menjalankan usahanya di Banjar tahun 1992.

Namun, selepas SMA, yaitu tahun 1995, usaha orang tuanya itu pakeum total. Dia pun akhirnya mencoba mencari pekerjaan ke Bandung dan Jakarta. Tapi, sebelumnya Kang Erus pernah mendaftarkan diri ke Secaba Polri, karena sejak kecil dirinya bercita-cita ingin menjadi Polisi. Sayang, cita-citanya tersebut tidak kesampaian.

“Setelah gagal menjadi Polisi, saya hijrah ke luar kota dengan harapan bisa mendapat pekerjaan yang baik. Waktu itu saya kerja di Bandung selama 6 bulan, kemudian pindah ke Jakarta, dan di sana cuma beberapa bulan saja,” tuturnya, Senin (7/6).

Pada tahun 1998, Kang Erus pun akhirnya memutuskan untuk kembali lagi ke Banjar, dan mencoba membuka kembali usaha yang pernah dijalani oleh kedua orang tuanya.

Agar menu dagangannya tidak monoton, maka dia mengembangkannya dengan menambah menu lain, yaitu mie goreng, capcay dan bihun goreng.

Selama satu tahun menjalankan usaha tersebut, dia mengaku mulai merasakan ada kemajuan. Terbukti tahun 1999, Kang Erus sudah bisa membeli sebidang tanah berikut bangunannya.

Meski dengan cara dicicil, karena memang sebelumnya ada kesepakatan antara pembeli dan penjual, akhirnya dia mampu melunasinya. Diakui Kang Erus, pada waktu itu usahanya tidak lagi menggunakan roda.

Walau memenpati bangunan heubeul, tapi dia merasa tenang lantaran sudah memiliki bangunan permanen untuk menjalankan usahanya tersebut.

“Untuk merombak bangunan ini saya harus kerja keras, tidak langsung bangun, tapi dengan cara menyimpan uang di toko material, toko besi, kemudian di tukang bata merah dan tempat penjualan pasir. Setelah punya biaya untuk membayar upahnya, baru saya berani membangun, dan hal itu bisa terlaksana tahun 2002,” kata Kang Erus, yang telah memiliki 4 orang anak dari hasil perkawinan dengan gadis Cikijing-Majalengka.

Selama menjalankan usaha, berbagai cobaan pasti ada, begitu pula yang dialami Kang Erus. Menurut dia, maju dan mundur dalam usaha itu sudah biasa, tinggal bagaimana menghadapinya agar usaha tetap berjalan, bahkan bisa lebih berkembang lagi.

Kang Erus mengaku tidak alergi terhadap kritikan dari para konsumen, sebab dia menganggap kritikan tersebut dapat lebih memajukan usahanya. Dengan adanya kritikan dari pembeli, maka dia selalu mencoba memperbaiki apa yang menjadi kekurangan di mata konsumen.

“Saya justru lebih suka dikritik, itu untuk membangun. Kemudian saya perbaiki dan berusaha lebih dikembangkan, karena ingin berubah menjadi lebih baik lagi. Dan alhamdulillah bisa berjalan sampai sekarang. Kalau ada pembeli yang komplein, biasanya saya ganti dan itu gratis,” ujarnya.

Dari hasil kerja kerasnya itu, sejak tahun 2004 usahanya lebih berkembang menjadi Rumah Makan (RM) Cimenyan, yang menyajikan berbagai macam menu makanan dan minuman segar. Namun, nasi goreng tetap menjadi menu utama.

Menurut pria yang memiliki hobi memasak dan otomotif ini, ada beberapa kiat untuk mempertahankan sekaligus mengembangkan usahanya tersebut. Diantaranya yaitu, kerja keras, jangan mengeluh, tapi harus selalu bersyukur.

Kemudian, pengelolaan manajemen usaha harus benar, tepat menentukan harga jual sehingga terjangkau oleh masyarakat banyak, jangan alergi terhadap kritikan dari pembeli, memberikan pelayanan yang profesional, artinya selalu memanjakan pelanggan dengan memberikan service sebaik mungkin.

“Selain itu, jangan menganggap orang yang memiliki usaha sama itu sebagai saingan, tapi anggap sebagai rekan. Lalu, kita juga harus punya menu andalan, menjaga kebersihan tempat usaha, menyisihkan keuntungan untuk pengembangan usaha, dan mengelola karyawan secara benar. Dan sekarang saya memiliki empat orang karyawan, dua diantaranya warga Banjar asli,” terang Kang Erus, yang juga sebagai bikers dan perintis Patroman Tiger Club (PTC).

Dia mengaku, ada keuntungan tersendiri dari hobi otomotifnya itu. Pasalnya, ketika ada anggota club motor dari daerah lain yang akan pergi maupun pulang dari Pangandaran, biasanya mereka mampir dulu ke rumah makan miliknya.

Dengan demikian, selain memiliki banyak rekan yang mempunyai hobi sama, tentu saja penghasilan dari usahanya pun akan semakin bertambah. Bahkan, setiap malam Minggu RM Cimenyan menjadi tempat nongkrong anggota club-nya.

“Tidak mungkin kan mereka cuma nongkrong saja tanpa makan atau minum, otomatis kalau lapar beli makannya ya di sini juga. Jadi saya rasa, semua yang telah saya alami dari awal membuka usaha sampai sekarang, itu merupakan nikmat dan anugerah bagi keluarga saya. Mudah-mudahan saya bisa lebih mengembangkan lagi usaha ini,” pungkasnya. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!