JALAN HIDUP : REZEKI DALAM SEMANGKUK BAKSO

10/06/2011 0 Comments

Mas Pio, pedagang bakso yang biasa mangkal di halaman masjid agung Banjar mengandalkan rezekinya dalam semangkuk bakso. Foto : Adi Karyanto/HR.

Semangkuk mie bakso Jawa bisa mengubah jalan kehidupan. Meski begitu, hanya kerja keras dan ketekunan yang bisa mendorong roda rezeki berputar.

***

Hanya berbekal pendidikan sekolah dasar, Kasimin (50) atau yang dikenal dengan sapaan Dodo atau Mas Rano kata orang saya mirip aktor Rano Karno yang sekarang menjadi Wakil Bupati Tanggerang Prov Banten. Berkelana dari kota kelahirannya Kebumen Jawa Tengah ke Kota Banjar pada 1982. Tiba di Banjar Kasimen alias Dodo alias Mas Rano yang semula buruh tani itu, beralih  menjadi tukang bakso pikul.

Mie bakso Jawa, yang pertama kali dijualnya sampai sekarang tidak berubah resep masih seperti yang dulu. Setelah menjual bakso pikul keliling, berganti dengan bakso gerobak dorong di Kota Banjar, sekarang sudah punya lapak sendiri/tempat berjualan tenang engga bakalan kena operasi Satpol PP. Mas Dodo punya tempat sendiri di Jl. Tentara Pelajar pinggir Gang Nangka dulu dikenal dengan sebutan pertigaan RCA, tapi sekarang RCAnya pindah, “Alhamdullilah langganan yang dulu sekarang nyatronin sendiri ke tempat saya mangkal,” ucap Mas Dodo. Di gerobak bakso tertulis “Bakso Dodo“ mulai berjualan dari pkl. 09 sampai dengan pkl 16.00.

Awalnya dengan modal pinjaman dari kakak Rp.10 ribu, kenang Mas Dodo untuk modal beli  pikulan dan alat-alat mangkok bakso, kompor minyak tanah dan keperluan lainnya bertahan sampai sekarang. Mas Dodo mendapatkan cinta abadinya gadis Solo penjual jamu gendong bernama Ngatiem (49) dan dikaruniai tiga anak perempuan, si sulung Sri Wahyuni (27) tamat SMK Negeri Banjar kini bekerja di Cikarang telah menikah dan punya anak, anak kedua Sri Lestari (20) masih kuliah, dan si bungsu Intan Ramdhani (13) sekolah di SMP Negeri.

Dari hasil berjualan bakso, sekarang sudah punya rumah sendiri dan motor saya sudah menjadi urang Banjar, hanya setahun sekali pulang ke mertua di Solo karena di kampung pun saya punyah rumah, ladang dan sawah warisan orang tua istri saya dan sebagian lagi membeli dari hasi berjualan bakso. Sekarang baksonya sudah punya pelanggan tetap. Setiap hari, dia menjual 50-60 mangkok bakso Jawa terdiri mie, dan bihun putih, sawi, toge, kulit, dan dengkul sapi, bakso kecil dan besar harga perporsi Rp.6 ribu, setengah porsi Rp.4 ribu. Pada Sabtu dan Minggu atau hari libur penjualan meningkat, apa lagi bila ada libur Harkitnas (Hari kejepit nasional) yang datang banyak sampai cape meladeninya. Tapi gimana kan itu rejeki, harus lebih ramah kepada pembeli.

Filisopi bakso :

Bahan dasarnya sama. Namun beda tangan, beda pula kenikmatan semangkuk bakso Jawa. Menjadi tukang bakso yang sukses, ada “resepnya“. Mereka yakin paduan hidup itulah yang telah mengubah nasib mereka. Mas Dodo mengaku prinsip hidupnya sangat sederhana. ”Saya akan berupaya matimatian dengan tangan sendiri”. Saya pantang meminta-minta bantuan kepada orang lain tapi siap membantu orang lain, tegasnya. Mas Dodo pun selalu ingin memuaskan konsumen karena di tangan konsumen nasib bergantung. Kepercayaan dari pembeli yang membuat usaha saya bisa bertahan hampir memasuki 30 tahun, katanya. Bahkan konsumennya sudah merambah ke mana-mana. Ada langganannya urang Banjar asli asal Sumanding yang sekarang mukim di Jepang, setiap dia kembali ke Banjar hampir saban hari ngabaso di Mas Dodo.

Bahkan bakso sudah sampai ke Jepang, ibu Henny namanya setiap bulan suka pesan bakso buatan saya, bakso di kirim ibunya ke Jepang juga saya berikan resepnya. Katanya selain untuk dimakan sendiri, juga suka dibagi-bagi pada teman-temannya yang rindu tanah air.

Kiat serupa juga diterapkan bakso Jakober, tukang bakso khas Solo yang memulai usahanya dengan satu gerobak yang kini mempunyai tempat permanen di depan RSUD Banjar, bahkan anak sulungnya membuka bakso Jakober di Jakarta. Saya bersyukur, ucap Umiati istri Suarto pemilik bakso Jakober, membuahkan hasil seperti sekarang. Begitu juga anak yang kedua sedang kuliah di STISIP Banjar, anak yang ketiga akan kuliah di UNSIL Tasikmalaya, dan si bungsu masih di SD.

Dari hasil jerih payah selama 25 tahun berjualan bakso di Banjar, di kampung halamannya sudah memiliki rumah permanen, juga ladang dan sawah sebagai tabungan untuk hari tua dan anak-anak untuk bekal hidup bila kelak dewasa. Sebuah mimpi yang indah dari kehidupan masyarakat yang bergerak di bidang informal, menghidupi diri sendiri tanpa menjadi beban pemerintah. Cita rasa bakso Jakober terkenal sampai Bali, Makasar, Bandung, Jakarta dan kota-kota lainnya di Jawa Barat. (Bachtiar Hamara) ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply