KEKUATAN “PARTAI“ BAKSO

09/06/2011 Headline
KEKUATAN “PARTAI“ BAKSO

Bakso menjadi salah satu makanan favorit masyarakat yang bisa didapatkan di kaki lima hingga hotel berbintang. Foto : Adi Karyanto/HR.

Mie bakso menjadi makanan rakyat dari berbagai lapisan. Bakso dibuat dari daging segar dipotong-potong, jangan dicuci terlebih dahulu. Pukul-pukul daging lalu masukan es batu, blender hingga lembut. Angkat dagingnya yang sudah lembut, tambahkan sagu tani dan air sambil diuleni dengan tangan berputar se arah. Uleni daging agak lama untuk hasil yang baik. Masukan bawang goreng, garam, dan merica lalu bentuk bulat-bulat atau lonjong menggunakan ujung sendok. Rebus bakso dalam air mendidih hingga terapung, angkat, sisihkan. Lalu membuat kuah bakso, didihkan air, masukan tulang kaki sapi, rebus hingga mendidih. Tumis bumbu halus sampai harum, lalu tuang ke dalam rebusan tulang kaki sapi. Tambahkan kaldu blok, daun seledri dan daun bawang. Kuah ini dapat juga digunakan untuk kuah mie.

***

Bachtiar Hamara

“Mau ke bakso Jakober?” tegur seorang tukang parkir di depan RSUD Kota Banjar, Selasa siang (7/6). Bakso Jakober, termasuk salah satu Bakso legendaris di kota Banjar. Usaha ini dirintis oleh Suarto (51) 25 tahun yang lalu bersama istri Umiati (49) keduanya asli Solo. Jakober sendiri singkatan “Jawa Koek Bersaudara“. Kisah bakso Jakober, dari tangan dingin pemuda Suarto muda urban dari Solo ke Banjar untuk berjualan bakso di Banjar. Suarto berjumpa dengan tambatan hatinya Umiati yang berjualan jamu gendong. Mata bertemu mata lalu turun ke hati, pendek cerita pemuda lanjang Suarto bertemu dengan gadis Umiati, langsung kepelaminan dan menikah di kampung halamannya di Solo.

Dua sejoli itu setelah menikah, kembali ke perantaunya kota Banjar. Itu cerita Umiati waktu HR bertandang ke tempat jualannya sekaligus rumahnya di depan RSUD Banjar, waktu itu Suarto tak ada di tempat sedang bermain volley dengan tim volley RSUD. Lebih lanjut Umiati mengisahkan awal hidupnya Bakso Jakober. Nama yang membawa rejeki itu, berasal dari beberapa orang Solo yang menjadi pegawai di Proyek Citanduy (Procit). Dari grup volley itu  kumpulan dari orang Jawa Solo yang merantau ke kota Banjar, disebutlah Jakober.

Bila ada turnamen Volly, Suarto selalu hadir dengan membawa dagangannya bakso sebelum pertandingan dimulai jualannya sudah habis. Bahkan kalau menang turnanamen volley timnya, dan jualan bakso tak habis dibagikan gratis. Umiati bercerita tentang kelakuan suaminya, menggratiskan bakso. Sebabnya tim vollynya menang dan Suarto kebagian Rp.60.ribu juah lebih besar dari modal dan keuntungan sehari-hari. “Itukan uang halal jadi saya terima”, kenang Umiati, “kalau dari hasil haram pasti saya marah sama suami”, ucapnya sambil tertawa mengenang masa lalunya.

Menyantap hangat mie bakso Jakober, berusia yang telah seperempat abad itu, kita juga bisa menikmati sejarah sosial. Betapa tidak, predikat sosial “bakso“ itu bagai bercerita tentang sebuah massa Orde Baru usaha di sektor informal mulai berdenyut hampir 200 orang urban dari Solo ke Banjar untuk mengadu nasib berjualan bakso keliling baik yang menggunakan pikulan maupun dengan roda. Dari Banjar sebagain menyebar ke Ciamis, Banjarsari dan Pangandaran. Dikenal dengan sebutan bakso Jawa untuk membedakan dengan bakso China di restoran.

Cita rasanya juga berbeda, bakso Jawa rasanya pas dengan lidah pribumi tidak terlalu gurih, bila dibandingkan dengan bakso di restoran China hanya sayurannya sawi, sisikan bawang daun, lain dengan bakso Jawa sayurannya lebih banyak selain sawi, toge, bawang daun dan bawang goreng, harganya juga lebih murah. Harga satu mangko bakso Jakober cuma Rp. 8 ribu satu porsi , setengah porsi Rp.6 ribu dengan bakso besar-besar, di dalamnya ada cincang daging sapi.

Kisah bakso menjadi bukti, telah menjadi bagian dari kehidupan di daerah sampai kota besar, bakso dikonsumsi rakyat dari bos-bos sampai anak balita di kampung-kampung. Mas-mas menjajakan bakso di kampung-kampung pakai gerobak dorong atau sepeda bahkan sepeda motor. Bakso juga dijual di kaki lima sampai ke hotel berbintang.

Perhatikan juga di gedung-gedung perkantoran, atau di gedung-gedung bertingkat di kota besar di salah sutu sudutnya pasti ada yang berjualan bakso. Mereka mencegat pegawai atau karyawan yang makan siang.

Penjual bakso dimana-mana :

Mari kita lihat pemandangan di halaman Masjid Agung Kota Banjar. Suatu siang gerobak bakso mangkal di situ waktu ba’da sholat dzuhur. Belum genap lima menit mangkal, tukang bakso bernama Mas Pio (52) sudah sibuk melayani pembeli mulai dari orang dewasa, anak-anak sekolah. Mereka lahap menyantap mie bakso, mas Pio pun dengan senyum ramah melayani.

Pio, laki-laki asal Solo Jawa Tengah, itu mematok harga resmi Rp.5 ribu untuk semangkuk bakso. Namun rupanya harga itu bisa dinego, pembeli boleh membeli dengan harga Rp.3 ribu semangkuk. ”Kalau belinye Rp.3 ribu, baksonya yang kecil…. Kalau beli Rp.5 ribu baksonya ditambah yang besar,” ujar Pio yang berpenghasilan bersih Rp.2 juta sebulan. Dan sebulan sekali pria itu pulang ke Solo karena anak dan istrinya tinggal di kampungnya. Bila kebetulan sedang ada di kampungnya, Pio menyibukan dengan bertani kebun dan sawah.

Pio dan ribuan orang lain berpenghidupan sebagai tukang bakso. Belum ada data pasti tentang jumlah penjual bakso. Namun sekedar gambaran, di hampir setiap sudut kampung di daerah dan di kota besar dan sekitarnya mudah ditemui penjual bakso. Mereka datang dari sejumlah daerah seperti Brebes, Pemalang, Solo Jawa tengah dan Gunung kidul dan Sleman (DI Yogyakarta). Bakso juga dikonsumsi warga kampung, selebriti, pejabat dan politisi juga seneng bakso.

Kisah Pio, Suarto bakso Jakober adalah kisah rakyat merebut kehidupan. Ribuan orang yang berjuang hidup di jalur penjual bakso. Tercatat H Oding di Ciamis, Enclang, Semer, Bakso Surabaya di Banjar, bakso Aweng, bakso Pesat di Ciamis dan Banjarsari dan mas-mas lain yang setiap hari berkeliling kampung-kampung. Pasukan tukang bakso tersebut merupakan bagian dari fenomena urbanisasi prematur. Setidaknya itu menurut HR. Idealnya, dalam urbanisasi, orang berpindah ke kota karena adanya permintaan tenaga di sektor-sektor formal.

“Akan tetapi mereka penjual bakso ke kota karena mereka sudah tidak bisa hidup di pedesaan”, aku mereka para pedagang bakso yang dijumpai  HR. Kontribusi sector in formalI, termasuk para tukang bakso, HR setuju dengan para pengamat akedemisi cukup besar. Khususnya dalam kemandirian ekonomi rakyat kecil. Dalam struktur tenaga kerja di Indonesia saat ini, sebanyak 65 persen tenaga kerja terserap di sektor in formal. Sedangkan sebanyak 35 persen berada di sektor formal. Sampai saat ini kalangan akademisi menilai pemerintah belum berhasil menafkahi kelompok pencari kerja di lapangan sektor in formal yang berjumlah 65 persen.

“Yang 65 persen itu sebenarnya juga tanggungjawab pemerintah. Akan tetapi, mereka mencari jalan sendiri, tanpa bantuan pemerintah, untuk menafkahi diri sendiri dan keluarga“.

“Bakso sudah menjadi bagian kehidupan saya”. Ucap Mas Pio, tukang bakso keliling di kota Banjar. Bakso itu menafkahi rakyat, tanpa janji-janji seperti janji-janji partai politik disaat kampanye.***

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles