Koordinasi & Sinergitas Organisasi Perangkat Daerah

19/06/2011 0 Comments

Tematik RPJPD Kota Banjar Tahun 2005-2025.

Kunci Menggapai Visi Banjar Agropolitan

Subakti Hamara

Penetapan visi Banjar Agropolitan merupakan penerapan visi jangka panjang Pemerintah Kota Banjar. Namun meski begitu, visi tersebut telah dituangkan dalam Peraturan Daerah (Perda) Kota Banjar, Nomor 9 tahun 2009, tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Banjar tahun 2005-2025.

Maka dalam pencapaian visi tersebut diperlukan langkah-langkah yang dituangkan dalam tahap pembangunan 5 tahunan, atau dikenal Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD).

Tahapan pembangunan yang tertuang dalam RPJMD tentunya harus mengedepankan satu tema untuk menjadi isu strategis. Skema Tematik itu bisa dilihat pada gambar 1.

Tema RPJMD periode pertama kurun waktu (2005-2008); Mewujudkan sumber daya manusia yang agamis, sehat dan produktif. Dengan meningkatkan derajat pendidikan dan kesehatan, diharapkan masyarakat Kota Banjar menjadi lebih produktif. Pondasi utama ini yaitu, derajat pendidikan dan kesehatan yang tinggi akan sangat mendukung pencapaian visi Banjar Agropolitan di tahun 2025.

RPJMD periode kedua kurun waktu (2009-2013); dengan berbekal kualitas sumber daya manusia dan alam, tema yang dikedepankan yaitu, mewujudkan perekonomian kota berbasis pertanian (Agribisnis) seperti, agroindustri, jasa-jasa pertanian, agrowisata, dan distribusi produk-produk pertanian. Sebab, Agribisnis menjadi salah satu pilar menjadikan Kota Banjar sebagai kawasan Agropolitan, yang kelak harus tercapai di akhir tahun RPJPD pada tahun 2025.

Setelah tahapan pertama dan kedua terpenuhi, maka melanjutkan eksistensi sebagai kota agribisnis termaju di priangan timur, ada pada periode (2019-2023); pada periode ini memantapkan Kota Banjar menjadi kawasan Agroindustri. Sebab, menjadi konsekuensi setelah kota Banjar meletakkan pondasi sebagai kota agribisnis harus mengembangkan potensi perekonomian lain yang berkaitan erat dengan pencapaian visi Banjar Agropolitan di tahun 2025, yaitu terjadinya aktivitas ekonomi industry lebih besar dengan tetap menjaga kearifan local yang selama ini tumbuh pada sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Pencapaian Banjar sebagai kawasan Agroindustri menimbulkan konsekuensi lain yaitu pada periode (2019-2023); aktifitas industry akan berimplikasi terhadap kualitas udara dan lingkungan. Oleh karena itu, harus dipersiapkan untuk mengantisipasi perubahan udara dan lingkungan. Untuk itu, perlunya perlindungan dan peningkatan kualitas serta ketersediaan lahan, air dan udara. Ditempuh pula pengembangan agribisnis dan agroindustri ramah lingkungan, dengan demikian kualitas hidup tidak menurun dan dapat member jaminan hasil produksi pertanian sehat, sehingga memiliki daya saing.

Koordinasi & Sinergitas Organisasi Perangkat Daerah Kunci Utama

Saat ini Kota Banjar memasuki periode kedua, berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 11 tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) tahun 2009-2013, ditetapkan indikator kinerja pembangunan daerah. Peningkatan kualitas sumber daya manusia terus menjadi prioritas, hal ini dibuktikan dengan target Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dikisaran 76-77. (pasang gambar 2. Perkembangan IPM Kota Banjar sampai dengan tahun 2010).

Pemaparan tahapan itu tentunya tidak akan terlaksana apabila organisasi perangkat daerah (OPD) yang baik secara langsung menjadi leading sektor atau tidak, luput melakukan koordinasi dan sinergitas. Pada tahapan pertama Pemerintah Kota Banjar telah dengan baik melaluinya, akan tetapi pada tahapan kedua ini masih dirasakan terjadinya ego sektoral dalam pembuatan program di setiap OPD.

Hal itu berakhir dengan tidak adanya sinergitas antar program dari OPD dalam pencapain tahapan kedua kurun waktu (2009-2013). Dimana akhir tahapan itu harus terwujudnya perekonomian kota berbasis agribisnis dan berkembang menjadi agroindustri, jasa-jasa pertanian, agrowisata dan terciptanya Kota Banjar menjadi pusat distribusi produk-produk pertanian.

Pembangunan infrastruktur untuk mendukung program itu sudah jelas kentara dengan keberhasilannya Kota Banjar dalam pembangunannya dalam kurun waktu 7 tahun terakhir. Terciptanya jalan hingga ke pedesaan serta pembangunan jaringan irigasi dan pembangunan embung/situ buatan merupakan tahapan infrastruktur untuk pencapaian visi tersebut.

Akan tetapi, beberapa program untuk menciptkan agroindustri, jasa-jasa pertanian, agrowisata dan menjadi pusat distribusi produk-produk pertanian, hingga memasuki tahun 2011 dirasakan belum optimal dilakukan oleh OPD terkait.

Penelusuran beberapa program yang telah digelontorkan untuk mewujudkan hal tersebut, terkesan lepas dari pengawasan dan pembinaan yang berkesinambungan dari OPD yang mencanangkan program tersebut.

Sebuah kiasan atas tindakan tersebut sering kita dengar seperti ini, Cul Dogdog Tinggal Igeul, artinya pihak OPD yang mencanangkan program tidak hanya mampu mengalokasikan anggaran dan memberikan begitu saja kepada masyarakat, justru yang terpenting yaitu melakukan pembinaan yang berkesinambungan. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!