MEMBANGUN KOTA AGROPOLITAN [1]

19/06/2011 0 Comments

Dewasa ini konsep kawasan agropolitan semakin populer, bahkan beberapa daerah berani mencanangkan diri sebagai kabupaten/kota agropolitan, seperti Kota Banjar misalnya. Agropolitan didefinisikan dari gabungan kata Agro (Pertanian) dan Politan (Polis = Kota), sehingga agropolitan dapat diartikan sebagai kota pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis di desa/kelurahan dalam kawasan sentra produksi sebagai kota pertanian yang memiliki fasilitas yang dapat mendukung lancarnya pembangunan pertanian, yaitu: jalan-jalan akses (jalan usaha tani), alat-alat mesin pertanian (traktor, alat alat prosesing), pengairan/jaringan irigasi, lembaga penyuluh dan alih teknologi, kios-kios sarana produksi dan pemasaran.

Dede Herdiman, S.Sos

Secara lebih luas, pengembangan kawasan agropolitan diharapkan dapat mendukung terjadinya sistem kota-kota yang terintegrasi. Hal ini ditunjukkan dengan keterkaitan antar kota dalam bentuk pergerakan barang, modal, dan manusia. Melalui dukungan sistem infrastruktur transportasi yang memadai, keterkaitan antar kawasan agropolitan dan pasar dapat dilaksanakan. Dengan demikian, perkembangan kota yang serasi, seimbang, dan terintegrasi dapat terwujud (Ir. Ruchyat Deni Djakapermana, M.Eng: Pengembangan Kawasan Agropolitan Dalam Rangka Pengembangan Wilayah Berbasis Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, 2003).

Kota Banjar sebagai Daerah Otonom Baru berdasarkan Undang-undang Nomor 27 Tahun 2002, memiliki prospek yang sangat baik untuk cepat tumbuh dan berkembang. Posisi Kota Banjar yang strategis sebagai pintu gerbang Jawa Barat di sebelah Selatan, berbatasan dengan Jawa Tengah serta berada pada lintas selatan yang menghubungkan Jakarta–Bandung-Banjar dan kota-kota besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur diharapkan dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin, dalam hal ini Kota Banjar harus berperan sebagai kota transit dan pusat transaksi perdagangan, jasa dan industri yang berbasis komoditas pertanian sesuai dengan keunggulan produksi andalannya.

Mayoritas kegiatan perekonomian masyarakat di Kota Banjar yang sebagian besar masih berbasis pertanian, seperti perkebunan, peternakan, perikanan, dan lainnya harus dikembangkan secara lebih luas di masa depan. Oleh karena itu, visi Pemerintah Kota Banjar tahun 2009 – 2013 yang telah dicanangkan, yaitu :“DENGAN IMAN DAN TAQWA KITA WUJUDKAN BANJAR MENUJU KOTA AGROPOLITAN TERMAJU DI PRIANGAN TIMUR JAWA BARAT“ selayaknya terus mendapat dukungan dan masukan konstruktif guna mewujudkannya. Sebagai Kota Agropolitan, kegiatan perekonomian Kota Banjar sangat berpeluang dikembangkan lebih luas ke bidang bisnis berbasis pertanian (agrobisnis), seperti agroindustri, jasa-jasa pertanian, agrowisata, serta koleksi dan distribusi produk-produk pertanian. Pengembangan kegiatan pertanian sebagai basis ekonomi dapat menjadikan Kota Banjar menjadi pusat ekonomi wilayah Priangan Timur.

Untuk mencapai semua itu, salah satu misi pembangunan Kota Banjar yang terus diupayakan adalah meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi (LPE) secara maksimal dan berkelanjutan. Tuntutan kemajuan ekonomi  masyarakat mutlak diperlukan agar distribusi kemajuan ekonomi dapat dinikmati sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat.

Selama kurun waktu lima tahun terakhir laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Kota Banjar mengalami pergerakan dalam rentang yang cukup baik. LPE Kota Banjar periode 2005 – 2009 bergerak positif yaitu dari 4,63 persen di tahun 2005 tumbuh menjadi 4,71 persen di tahun 2006 dan 4,93 persen di tahun 2007. Meskipun capaian kinerja pertumbuhan ekonomi Kota Banjar sedikit mengalami pelambatan di tahun 2008 dimana hanya sebesar 4,82 persen, namun pada tahun 2009 pertumbuhan ekonomi Kota Banjar melejit mencapai 5,13 persen.

Kondisi ekonomi global di penghujung tahun 2008 hingga awal tahun 2009 cukup memberi dampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi baik di skala nasional maupun daerah.  Kota Banjar yang pada tahun 2008 sedang meretas jalan membuka peluang ekspor komoditas industrinya, seperti kayu olahan, relatif mengalami kendala yang cukup berarti dalam meningkatkan volume produksi karena peluang ekspor semakin kecil, sehingga pada tahun 2009 hasil produksi kayu olahan Kota Banjar kembali diorientasikan pada pemenuhan pasar dalam negeri yang relatif kompetitif. Kebijakan ini berhasil mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi Kota Banjar tahun 2009.

Di tingkat Provinsi sendiri, pertumbuhan ekonominya mengalami kemerosotan di tahun 2008  dan makin terpuruk sampai dengan tahun 2009, yaitu dari sebesar 6,48 persen di tahun 2007 menjadi sebesar 5,83 persen di tahun 2008 dan kembali melambat menjadi hanya 4,29 persen di tahun 2009. Hal ini terjadi karena sektor industri Jawa Barat yang selama ini mempunyai laju pertumbuhan yang sangat tinggi dan menjadi salah satu penyokong utama pembentukan PDRB Provinsi Jawa Barat mengalami kontraksi yang cukup hebat sehingga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Barat secara total.

Dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Barat secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Kota Banjar tergolong stabil dan terkendali. Pelambatan laju pertumbuhan ekonomi Kota Banjar dari tahun 2007 ke tahun 2008 ternyata relatif tidak lebih besar dibandingkan dengan kondisi rata-rata kabupaten/kota lain di Provinsi Jawa Barat pada umumnya. Orientasi pemenuhan pasar lokal ternyata lebih cocok untuk perekonomian Kota Banjar saat ini. Bahkan perjanjian pasar bebas Cina Asia (ACFTA) yang diberlakukan sejak akhir tahun 2009 pun tidak memberikan dampak yang cukup berarti terhadap perekonomian di Kota Banjar.

Selama periode 2005 – 2009, Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku (PDRB ADHB) Kota Banjar mampu meningkat lebih dari setengah triliun rupiah, yaitu dari hanya sebesar Rp. 973,96 milyar di tahun 2005 meningkat menjadi  Rp. 1.592,88 milyar di tahun 2009. Dibandingkan tahun sebelumya, pencapaian PDRB atas dasar harga berlaku di Kota Banjar tahun 2009 mengalami peningkatan sebesar 11,11 persen. Dimana sektor yang mengalami laju peningkatan paling tinggi adalah sektor konstruksi yang mencapai 12,45 persen, kemudian disusul sektor industri pengolahan yang mencapai sebesar 11,01 persen dan sektor pertanian sebesar 10,11 persen.

Sementara Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan (PDRB ADHK) tahun dasar 2000 juga tampak terus tumbuh dari tahun ke tahun. Selama periode 2005 – 2009, PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000 bergerak dari Rp. 588,21 milyar menjadi sebesar Rp. 712,21 milyar di tahun 2009 atau mengalami pertumbuhan sebesar 5,13 persen.

Semua sektor ekonomi yang membentuk PDRB di Kota Banjar tahun 2009 mengalami pertumbuhan positif kecuali sektor pertambangan dan penggalian yang menunjukkan pertumbuhan negatif yaitu sebesar -1,23 persen (negatif). Kemunduran pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian sangat bisa dimaklumi, karena sumber utama produksi penggalian di Kota Banjar yaitu pasir dan andesit adalah sumber daya alam yang tidak terbarukan.

Sektor yang tumbuh paling pesat di tahun 2009 adalah sektor bangunan sebesar 8,61 persen kemudian diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 7,05 persen, sektor listrik, gas dan air tumbuh sebesar 6,19 persen, sektor industri pengolahan sebesar 5,11 persen, sektor pertanian tumbuh sebesar 4,34 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi tumbuh sebesar 3,61 persen, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan tumbuh sebesar 3,22 persen dan yang agak lambat pertumbuhannya adalah sektor jasa-jasa yang hanya tumbuh sebesar 2,50 persen.

Perkembangan PDRB per kapita Kota Banjar selama 5 (lima) tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. PDRB per kapita Kota Banjar Atas Dasar Harga Berlaku tumbuh sekitar 14,5 persen per tahun pada periode  2005 – 2009 yang ditunjukkan dengan adanya kenaikan yang terus menerus tiap tahun dari Rp. 5,92 juta di tahun 2005 menjadi hampir 10 (sepuluh) juta rupiah (tepatnya Rp. 9,36 juta) di tahun 2009.

Salah satu yang yang menarik dikaji adalah jika membandingkan kekuatan ekonomi antar kabupaten/kota di Priangan Timur. Menurut Tipologi Klassen, dari 5 (lima) kabupaten/kota di Priangan Timur dapat dibagi menjadi 4 (empat) klasifikasi, yaitu : Kab. Ciamis termasuk dalam klasifikasi maju dan tumbuh, Kab. Garut sebagai daerah yang maju tapi tertekan, Kota Tasikmalaya dan Kota Banjar termasuk dalam klasifikasi daerah yang berkembang cepat, yaitu daerah yang laju pertumbuhan ekonominya tinggi atau di atas rata-rata wilayah tetapi PDRB per kapitanya masih dibawah rata-rata wilayah tetapi terus bertumbuh. Sedangkan, Kab. Tasikmalaya termasuk dalam klasifikasi daerah yang tertinggal secara ekonomi, yaitu daerah yang PDRB per kapita maupun laju pertumbuhan ekonominya lebih rendah dari rata-rata wilayah Priangan Timur. Fakta di atas menunjukkan bahwa daerah otonom baru, seperti Kota Tasikmalaya dan Kota Banjar mampu menunjukkan kinerja ekonomi yang positif, bahkan mampu bersaing dengan kabupaten/kota yang telah lama terbentuk.

Menuju Agropolitan

Melihat kemajuan Kota Banjar yang pesat secara fisik/infrastruktur maupun kekuatan ekonominya mutlak harus terus dipertahankan bahkan ditingkatkan. Salah satu upayanya adalah sesegera mungkin mewujudkan Kawasan Kota Agropolitan yang diidamkan. Semua gerak dan strategi pembangunan senantiasa ditujukan untuk melempangkan jalan meraih visi tersebut. Menjadi pertanyaan, apakah Kota Banjar telah siap menuju Agropolitan?  Perlu telaah lebih lanjut dan komprehensif dari semua pemangku kepentingan untuk menjawabnya. Butuh jawaban yang tidak mudah memang.

Dengan kemajuan infrastruktur dan kekuatan ekonominya, Kota Banjar harus menyiapkan diri menjadi kota Agropolitan yang termaju dan mandiri minimal di wilayah Priangan Timur. Langkah-langkah dan strategi telah disusun, selanjutnya peran pemerintah, swasta, LSM dan masyarakat untuk berbuat dan menyusun implementasi yang tepat sasaran. Tolok ukur dari setiap program pembangunan harus disiapkan sedini mungkin, sebagai dasar agar kinerja para stakeholder mudah dipantau dan dievaluasi. Semoga Sukses. Wassalam.

Penulis, Tinggal Di Banjar Kolot-Kota Banjar

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply