Nafsu Digedein, Iman Digadein (Karena Uang)

19/06/2011 0 Comments

Ada banyak ungkapan yang menyatakan, uang kerap menggelapkan mata manusia. Urusan uang seringkali mengundang permusuhan dan pertengkeran yang tiada habisnya. Uang dapat menjelma menjadi gairah dan nafsu membara untuk memporak-porandakan tatanan sosial, hubungan kekeluargaan atau persahabatan. Dengan uang nafsu bisa di gedein, tak kepalang juga iman bisa digadein.

Di dalam uang tersembunyi berbagai macam kepentingan dan hasrat menguasai. Dalam kehidupan manusia sehari-hari uang sangat diperlukan, juga untuk membangun infrastruktur yang diperlukan oleh manusia/masyarakat. Uang punya peranan penting, tak ada uang paling cuma bisa mimpi saja. Ingin banyak uang banyak orang nekad, melakukan korupsi, menggarong dan banyak lagi jenisnya.

Mungkin kita ini termasuk bangsa yang paling lemah. Sebagian besar kasus hukum yang seharusnya dibereskan dengan sengaja diterlantarkan demi uang, jabatan, kursi, kekuasaan. Banyak koruptor mati membawa dosa karena selalu sukses kabur dari jeratan hukum. Tapi dosa sang koruptor di lain dimata Tuhan.

Siapa lagi kalau bukan Tuhan, yang harus mengurus kasus para koruptor di Republik ini secara langsung? Kita sedih bila Hakim, Jaksa, Polisi, birokrat, politisi dll, di negeri ini banyak oknumnya menjadi koruptor. Padahal, penguasa dan segenap perangkatnya sudah diberi mandat untuk menyelesaikan kasus kriminal dan korupsi nyatanya sekarang masih banyak bergentayangan di alam dunia ini. Kasus semacam ini seperti jenggot dipangkas sekarang besok tumbuh lagi. Jadi koruptor-koruptor ini, jangan sampai dibiarkan mati dengan tenang di Singapura atau di lain-lain negara tanpa dijamah Jaksa, Polisi dan KPK.

Idealnya setiap kejahatan patut dituntaskan di Pengadilan, kemudian si pelaku menjalani hukuman semestinya. Jika insaf, mungkin dia akan bertobat. Tuhan pun tentu lebih senang. Begitulah cara manusia sepatutnya menunjukan sikap tahu diri kepada Sang Penguasa Agung. Bukankah katanya, manusia adalah wakil Tuhan di muka Bumi ini?.

Bagaimana pertanggung jawaban para penguasa, aparat pemerintah, aparat hukum, pamong praja sampai aparat di kantor Kelurahan/Desa dan para politisi di depan Tuhan nanti jika penegakan hukum di negeri ini terbengkalai? Malah mereka cenderung enteng korupsi setiap hari dari yang berkadar miliaran rupiah sampai yang “recehan” takala melayani pembuatan kartu keluarga dan KTP warga desa.

Bangsa yang konon, mengaku beragama dan sangat menentang ateisme ini nampaknya tidak peduli apabila tingkah laku mereka kerap kali melanggar larangan agama. Seperti sang mencuri buah coklat di kebun, hukuman penjara tak beda amat dengan koruptor yang sudah bergelimang harta, tapi masih tega merampok uang rakyat dalam jumlah yang maha gede?.

Apakah kita masih percaya ada efek jera dengan gajaran hukuman penjara tiga-empat tahun saja bagi koruptor dan pengedar narkoba yang melumpuhkan penerus generasi bangsa, dan itu pun masih dipotong remisi berkali-kali? Belum lagi selaku penghuni hotel pordeo mereka tetap leluasa kelayapan, bertamasya ke mana pun suka, atau sekedar ingin tidur di rumah.

Juga terhadap ketidakacuhan kita kepada kemiskinan yang menyergap berjuta-juta di  pelosok negeri yang busung lapar, kurang gizi, menderita penyakit yang gawat tanpa pernah dibawa ke rumah sakit karena tidak punya biaya, putus sekolah, dan ternista di ruang-ruang Pengadilan karena lemahnya posisi mereka di depan para pejabat dan pemilik uang khianat : Di negeri Nusantara yang gemah ripah loh jinawi ini ! Sebabnya kerana uang juga .***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply