“Yang Miskin Bertambah Anak“

09/06/2011 Berita Terbaru
“Yang Miskin Bertambah Anak“

Di muka bumi ini ada banyak manusia. Mungkin itu sebabnya tampak sedikit ruwet. Indonesia kehilangan banyak pemimpin yang berintergritas karena saat ini segala sesuatu ditimbang dengan uang. Para pemimpin dan penguasa cenderung melupakan rakyat, yang sejatinya menjadi pemilik sah bangsa Indonesia.

Dari jumlah yang banyak itu, ada orang-orang yang baik yang bisa hidup apa adanya dan berbahagia. Kalau tak ada orang yang serakah, niscaya Bumi akan atau sudah merupakan hamparan kemakmuran yang adil dan manusiawi. Namun, tak sedikit orang yang serakah yang membuat keadilan tak terwujud dan kemanusian hanya kata-kata saja.

Dari sudut ekonomi, sejak dulu kita bicara, mengenai ketimpangan antar warga negara, antar kelompok masyarakat, dan juga antar pribadi. Sejak dulu yang kaya bertambah kaya, yang miskin bertambah miskin. Ini untuk menggambarkan perbedaan yang menyedihkan. Banyak orang yang bercanda, ”yang miskin bertambah anak “.

Maaf maksud saya begini, orang miskin hanya bisa menghibur diri untuk menghindari frustasi. Tidak bisa berbuat lain untuk menghibur diri, sudah tidak bisa berbuat lain, kecuali ”membuat“ anak. Memang sangat memprihatinkan, bahwa kemiskinan selalu melahirkan kemiskinan. Dan ketidakadilan pun melahirkan ke tidakadilan yang nyata. Terus menurus Presiden datang silih berganti, tetapi kemiskinan tetap abadi.

Masalah sosial, kita bicara, mungkin mengeluh lebih tepat, mengenai jarak sosial antara si kaya dan si miskin di atas. Si kaya membangun terus menerus kekayaan, tembok-tembok tinggi membentengi pekarangan rumahnya di bentengi kawat-kawat berduri. Dan nyaris tak ada komunikasi dengan si miskin.

Sikap dan tingkah laku ini menyuburkan kecemburuan sosial yang tak lagi tertahan, juga rawan kriminilitas. Disini yang kaya sudah curiga terhadap yang miskin dan kecurigaan menjadi warna utama kehidupan.

Dari sisi politik, jurang menganga ini menegaskan kegagalan pemerintah menata hidup warganya. Presiden dipilih rakyat secara langsung tetapi tak ada rasa hutang budi kepada rakyat. Otonomi daerah digalakan. Banyak daerah dipersempit dan muncul kabupaten/kota atau provinsi baru.

Namun, kedua pemimpin daerah itu pada akhirnya tak mampu juga mendekatkan pelayanan publik lebih mudah, lebih singkat, dan lebih murah kepada rakyat yang sudah lama miskin dan mengharapkan pelayanan yang lebih manusiawi.

“Para founding father“ kita membangun bangsa dan negara ini mempertaruhkan segalanya. Mempertaruhkan nyawa tampa pamrih memperkaya diri, mereka menyumbang sampai titik darah penghabisan dengan nyawa sendiri. Semuanya ikhlas. Sekarang ini sangat sulit menemukan pemimpin berintregitas dan mau berjuang untuk kepentingan seluruh rakyat tanpa membedakan latar belakangnya. Saat ini uang mengatur segala-galanya, termasuk intergritas pemimpin.. iyaakan.

Kita melihat sejumlah intelektual dan aktivis prodemokrasi yang masuk dalam partai politik justru ikut terseret dalam arus politik pragmatis. Idialisme mereka semestinya dapat menyuntikan pengaruh positif sehingga partai akan benar-benar menjadi pilar demokrasi, mengkader politikus yang berintregritas, serta memperjuangkan kepentingan rakyat.***

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles