“Bangsa Ini Pelupa“

07/07/2011 0 Comments

Waktu saya ke Jakarta diawal Juni lalu, saya membaca surat kabar berbahasa Inggris The Jakarta Post, dijudul berita utamanya “I am forgotten : Megawati“ (Saya dilupakan : Megawati). Sehari menjelang peringatan hari lahirnya Pancasila, 1 Juni lalu, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri mengeluhkan bahwa bangsa Indonesia cenderung melupakan peranan yang dimainkannya dalam upaya mendorong Presiden Soeharto mundur dari jabatannya yang telah digenggamnya selama 32 tahun pada tahun 1998.

“Saya dilupakan,“ kata Megawati yang pada tahun 1996-1998 dianggap salah satu ikon penting dari gerakan yang pada akhirnya memaksa Presiden Soeharto mundur dari jabatannya pada 21 Mei 1998. Pernyataan itu dilontarkan Megawati dalam acara “Seminar Kebijakan Energi Nasional“ di Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta 31 Mei lalu. Namun, pernyataan Megawati nampaknya kurang mendapat perhatian. Dari sekian banyak media yang hadir pada acara tersebut, saya hanya membaca pada Koran edisi berbahasa Inggris The Jakarta Post.

Keluhan Megawati itu menarik, tetapi yang jauh lebih menarik adalah mengapa keluhan itu keluar dari ucapan seorang Megawati, yang menjadi saksi sejarah dari bagaimana bangsa ini memperlakukan  ayahnya. Presiden Soekarno pada masa akhir kepemimpinannya. Ia dan saudara-saudaranya pun mengalami sendiri bagaimana bangsa ini memperlakukan ayahnya dan keluarganya.

Ia menyaksikan sendiri bagaimana bangsa ini melupakan jasa ayahnya, Soekarno yang memproklamasikan  Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, dan menjadi Presiden pertama dari tahun 1945 sampai 1967, ditinggalkan oleh bangsanya sendiri. Setelah peristiwa G 30 S, Soekarno secara dipaksa surut kebelakang terasing dari lingkungannya, hingga ajal menjemputnya 21 Juni 1970.

Perlakuan yang hampir sama dialami Soeharto setelah ia mundur dari jabatannya sebagai Presiden  pada tahun 1998. Orang-orang yang tadi menyanjungnya, bahkan memberinya gelar bapak Pembangunan, meninggalkan dirinya. Bukan itu saja, mantan Presiden Soeharto pun dikecam, di hujat, dan terus diupayakan untuk terus diajukan ke Pengadilan. Upaya itu terus dilakukan pada saat kondisi Soeharto sudah tidak laik lagi diajukan ke pengadilan.

Perlakuan bangsa ini terhadap Soeharto membuat Megawati maju ke depan dan membela mantan Presiden kedua Indonesia itu. Ia berharap, jika ia yang mengalami sendiri perlakuan buruk pemerintah Soeharto saja dapat memaafkan, bangsa ini juga seharusnya bersedia memaafkan.

Sayangnya, bangsa ini tidak memiliki jiwa sebesar itu sehingga tidak mempu memaafkan Soeharto hingga ia meninggal 27 Januari 2008. Bangsa ini melupakan bahwa mantan Presiden Soeharto, mempunyai jasa yang besar bagi bangsa ini. Setiap koin itu mempunyai dua sisi, ada sisi yang baik dan ada sisi yang buruk bagi bangsa ini. Demikian juga dengan Soeharto, adalah naif jika menganggap tidak ada sisi yang baik dari dirinya.

Melihat kenyataan itu, ada dugaan bahwa melalui pernyataannya. Megawati ingin mengajarkannya kepada bangsa Indonesia untuk tidak melupakan sejarah. Megawati ingin mengingatkan kita untuk tidak melupakan orang-orang yang berjasa bagi Negara ini. Jadi kita memerlukan pemimpin yang berkarakter, untuk membawa negeri ini keluar dari semua kekacauan yang kita rasakan dan lihat sehari-hari.***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!