Kemarau Datang, Petani Sawah Tadah Hujan Mengeluh

07/07/2011 0 Comments

Suparni (56), seorang penggarap sawah di komplek pesawahan Pintusinga, sedang membersihkan rumput yang tumbuh diantara tanaman padi berumur sekitar 1 bulan. Tidak adanya hujan selama tiga pekan, tanaman padi di areal tersebut terancam mati. Foto : Eva Latifah/HR.

Masa tanam baru satu bulan dan terancam mati

Banjar, (harapanrakyat.com),- Kurang lebih tiga pekan kemarau mulai menerpa, para petani yang memiliki lahan pesawahan tadah hujan di wilayah Dusun Pintusinga, Kelurahan Banjar, mengeluh akibat tanaman padinya terancam tidak dapat tumbuh sempurna, bahkan bisa mati.

Suparni (56), seorang penggarap sawah di tempat tersebut, mengatakan, rata-rata usia tanaman padi yang ditanam di komplek pesawahan Pintusinga masih berumur sekitar 1 bulanan.

“Di sini lahan sawah tadah hujan, jadi tidak turun hujan tiga minggu saja tanahnya sudah kering, sehingga tanaman pun tumbuhnya tidak sempurna, bahkan bisa saja mati kalau dalam waktu dekat ini tidak ada hujan,” tuturnya, Selasa (5/7).

Menurut dia, kondisi seperti ini tentu membuat para petani di wilayah Pintusinga merasa bingung. Lantaran, selain dari hujan, mereka tidak bisa mendapatkan pasokan air, karena memang jauh dari sumber air.

Keberadaan selokan di wilayah tersebut tidak dapat berfungsi untuk mengairi lahan pesawahan mereka, sebab selokan pun kondisinya kering. Berbeda dengan selokan-selokan di komplek pesawahan teknis.

“Di sini kami juga bukannya tidak berusaha membuat susumuran, tapi volume air yang dihasilkan hanya sedikit, dan itu tidak mungkin bisa mencukupi kebutuhan. Jangankan untuk berhektare-hektare, untuk lahan sawah 10 bata saja tidak memungkinkan,” keluhnya.

Hal senada juga diungkapkan Muhidin (65), yang mengaku menggarap lahan seluas 300 bata. Sebagai seorang penggarap, tentu ikut dirugikan dengan kondisi seperti sekarang ini.

“Selain bekerja sebagai buruh serabutan di waktu musim penyelang, seperti misalnya ada yang nyuruh ngecat pagar rumah. Tapi saya lebih banyak menggantungkan hidup untuk mencukupi kebutuhan keluarga dari hasil buburuh tani. Jadi, kalau musim kemarau datang saya suka kebingungan harus cari kerjaan apa lagi, yang nyuruh ngecat rumah kan tidak setiap hari,” keluhnya.

Namun Muhidin enggan menyebutkan berapa keuntungan dari hasil buruh tani. Dia hanya mengatakan, meski hanya bisa panen dua kali dalam setahun, tetapi pada musim panen biasanya hasil yang diperoleh cukup untuk kebutuhan makan keluarganya sehari-hari.

Menurut mereka, upaya untuk mendapatkan pasokan air sudah dilakukan, yaitu dengan membuat sumur resapan di sekitar lahan sawah, tapi tidak berhasil. Dengan demikian, maka saat ini yang bisa dilakukan petani di wilayah Pintusinga hanya berdoa, dan berharap agar tahun ini tidak terjadi musim kemarau. (Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!