Keripik Singkong, Talas, Pisang, Cisaga Tembus Pasar Amerika & Jerman

22/07/2011 1 Comment

Uju (kaos puitih), Udin (kaos merah) dan ibu-ibu rombongan dari Jakarta, pelanggan keripik Uju yang membuka outlet di bekas garasi di Cisaga Kab. Ciamis. Foto : Pepep Riswanto Akbar /HR.

Keripik, singkong, talas, dan pisang. Rasa, kemasan, dan cita rasa direka. Hasilnya makanan  rakyat tradisional bisa bertahan melintasi zaman bahkan benua dan diterima sebagai makanan urban.

P. Riswanto Akbar & Yadi Ismayadi

Pada tahun 1997 Uju Sarju (60), memulai usahanya dari iseng membuat keripik singkong. Setelah ada pembeli, tidak hanya membikin keripik singkong saja, berkembang ke keripik talas dan pisang  di rumahnya. Bahkan tempat menyimpan barang jualannya di sebuah garasi yang bersatu di samping rumahnya di Cisaga Kabupaten Ciamis Jawa Barat. Ketika ditemui HR, Senin (11/7) pekan lalu.

Sekarang berjualan produksi keripiknya, tidak lagi dikirim ke pasar dan ke warung-warung. Tinggal menunggu di rumah dan pabrik berada di belakang rumahnya. Berkat ketekunan usahanya, Uju dapat menghidupi keluarganya, dan menyekolahkan 4 anaknya. Uju bekerja dibantu istri dan 8 pegawai, sebuah mesin potong keripik dan 3 penggorengan besar.

Keripik singkong, talas dan pisang buat Uju kuat tahan lama tanpa pengawet, dibuat dengan bumbu rempah-rempah lokal. Dengan begitu Uju tidak bingung. Dia telah mengemas kripiknya dalam kantong plastik yang higienes, yang tahan lama tidak apek. Mau dibawa keluar negeri juga bisa dipenuhi.

Keripik kemasan plastik tebal? Ya, inilah kemasan inovasi yang diterapkan Uju untuk memenuhi pasar. Selain tahan lama, kemasan plastik lebih cocok bagi konsumen yang kian terbiasa dengan gaya hidup praktis dan instan.

Bahan baku singkong, talas dan pisang tersedia di daerahnya. Dengan bahan baku pilihan, sehari menghabiskan singkong, talas, dan pisang sebanyak 2 kwintal, dengan minyak kelapa  klentik yang buatan rumah, wangi lagi. Untuk bahan bakar penggorengan tidak menggunakan kayu bakar, melainkan pakai serbuk gergaji dari potongan kayu yang cukup tersedia di daerahnya. Karena pengapiannya sangat bagus, menghasilkan kematangan keripik yang pas dan renyah bila dimakan.

Harga serbuk gergaji dari potongan kayu perkarung Rp.2.500, modal produksi perhari Uju mengeluarkan dana Rp. 700 ribu dengan meraup keuntungan 40%. Modal awal Uju mengeluarkan Rp.5 juta, termasuk mencakup peralatan dan bahan-bahan kebutuhan produksi.

Harga jual keripik singkong dan talas Rp.15 ribu/kg, keripik pisang Rp.20 ribu/kg, dan tersedia juga keripik balado pedas manis dan asin harga Rp.20 ribu. Pelanggan tidak hanya lokalan Banjar dan Ciamis, tapi juga keluar daerah sebagai oleh-oleh. Bahkan sampai ke kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan Sumatera, Kalimantan bahkan ke Papua. Juga ke luar negeri, tembus ke Amerika dan Jerman. Itu semuanya dibawa oleh para pelanggan yang datang sendiri, kata Uju bangga. Lumayan juga sekarang mulai banyak permintaan dari toko-toko yang khusus menjual oleh-oleh dan Swalayan yang memesan keripik buatan Uju. Dan impian Uju, berharap usaha keripiknya makin maju, dan bisa membuka cabang-cabang diberbagai kota. Ketika HR menemui salah satu pelanggan Udin dan rombongan dari Bekasi, mengatakan rasa keripik buatan Uju memang enak dan gurih dan Udin membeli keripik Uju dalam jumlah banyak sebagian untuk dijual lagi. Itung-itung ganti ongkos jalan sambil jalan-jalan, dari tangan Udin keripik Uju sampai ke berbagai daerah. Jadi pembeli yang merasa ketagihan banyak yang pesan, ucap Udin. Syukur-syukur bila pemerintah Kabupaten Ciamis bisa memfasilitasi usaha para pengrajin keripik, untuk dapat bantuan dari perbankan dengan mendapat kridit usaha rakyat (KUR).***

About author

Related articles

1 Comment

  1. Shella November 03, at 13:22

    Boleh minta kontak ibu Uju gak? kebetulan saya sedang mencari supplier keripik talas. Terima kasih

    Reply

Leave a Reply