KM FPSKB, “Kami Bukan Eks, Akan Membangun Banjar Jadi Kota Sebenarnya”

28/07/2011 Headline
KM FPSKB, “Kami Bukan Eks, Akan Membangun Banjar Jadi Kota Sebenarnya”

Acara dialog Kabanjaran yang digelar KM FPSKB dengan tema "Dialetika Perubahan: yang dilaksanakan di salah satu rumah makan di bilangan Jalan Husen Kartasasmita, Senin (25/7). Foto : Subakti Hamara/HR.

Banjar, (harapanrakyat.com),- Komunitas Muda Forum Peningkatan Status Kota Banjar (KM FPSKB) menggelar sebuah dialog Kabanjaran, dengan mengusung tema awal Dialektika Perubahan, dibilangan Jalan Husein Kartasasmita (25/7). Acara dialogis komunitas muda ini, bukan sekedar nostalgia semata, atau bahkan bak layaknya baru bangkit dari alam kubur.

Dan tentunya, komunitas muda ini yang pernah menjadi motor penggerak perubahan status Kotif Banjar menjadi Pemerintahan Kota Banjar, tak juga mau dibilang Eks. Sebab, kini mereka telah ikut berkiprah dalam mengisi kemajuan kota terbungsu di selatan Jawa Barat.

Meski memang forum ini dibubarkan tanpa alasan yang jelas, namun, sejumlah penggiat muda didalamnya tak lantas bubar. Mereka berkiprah dijalur kemampuan masing-masing, bahkan sejumlah nama telah duduk menjadi legislator, akademisi, praktisi, PNS, media, usahawan dll.

Atas dasar itulah, dua orang penggagas KM FPSKB, Sulyanati, SH., M.Si., dan Ir. Soedrajat Argadireja, menghimpun kembali para penggiat muda yang telah menghantarkan Banjar menjadi Pemerintahan Kota.

Tujuan utama dari pembentukan KM FPSKB, menurut Sulyanati, dimaksudkan untuk mengawal dan membantu pencapaian misi awal pembentukan Kota Banjar delapan tahun lalu. Yaitu, dengan meningkatnya status menjadi daerah otonom, masyarakat Banjar mampu mendapatkan pelayanan publik yang optimal dari pemerintah, kesejahteraan bagi masyarakatnya dan menciptakan Banjar menjadi wilayah perkotaan yang dinamis.

Menciptakan wilayah perkotaan yang sebenarnya, menjadi topik dialogis menarik pada kesempatan itu. Para penggiat muda mengkhawatirkan Kota Banjar akan terpuruk hanya menjadi sebuah desa yang besar (Big Village), meski saat ini pembangunan infrastruktur telah mumpuni.

Bahkan, salah seorang legislator, Ir. Sudarsono, sempat mengungkapkan, masih berbelitnya pelayanan publik dalam pemberian perizinan. Hal itu, akan membuat perkembangan Kota Banjar menuju wilayah perkotaan mengalami kelambatan.

Tidak hanya itu, visi kota Banjar yang mengusung Banjar Agropolitan pun sempat menjadi tema menarik dalam rembug penggiat muda itu. Mereka menilai, penetapan visi Banjar Agropolitan terlalu dipaksakan. Terlebih lagi, upaya untuk mencapai visi tersebut dinilai tanpa aksi yang jelas dari pihak pemerintah.

“Saya sebetulnya sempat menolak penetapan visi agropolitan, karena memang dirasakan kurang sesuai dengan tujuan pembentukan Kota Banjar,” ucap Soedrajat.

Kemajuan di kota Banjar saat ini, diharapkan lebih dititik beratkan kepada kesejahteraan masyarakatnya. Sebab, menurut Solihin, masih ditemukan warga yang kesulitan untuk mengisi perut mereka.

“Banjar harus berkembang menjadi kota sebenarnya, tapi jangan sampai ada warganya yang kesulitan untuk makan. Untuk itu, kemajuan kota Banjar harus bermanfaat bagi warganya,” tegas Solihin, yang juga mantan legislator itu.

Harapan atas terbentuknya KM FPSKB disampaikan, Suharjono SH., jangan sampai dijadikan alat counter pergerakan politik. “Sebab, hal itu akan merendahkan tujuan baik dari pembentukan KM FPSKB. Wadah ini harus menjadi tempatnya orang-orang berpikir dalam membangun kota Banjar,” harapnya.

Dialog pun sempat membahas sosok pemimpin Kota Banjar mendatang. Mereka berharap, pemimpin selanjutnya dapat lebih membawa perubahan mendasar dalam memajukan Kota Banjar. Akan tetapi, topik itu tak terlalu panjang dibahas dalam dialog tersebut.

Pada kesempatan akhir dialogis, dicapai kesepatakan bahwa komunitas ini akan menggelar dialog dalam satu bulan satu kali, dengan lebih memfokuskan tema pembahasan mengenai kemajuan pembangunan di Kota Banjar di segala aspek kehidupan masyarakat. Dan mewujudkan masyarakat perkotaan yang dinamis. (SBH)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles