MEMBANGUN KOTA AGROPOLITAN (2)

28/07/2011 Berita Terbaru
MEMBANGUN KOTA AGROPOLITAN (2)

Kota Dengan Dukungan Pertanian Yang Maju

Langkah dan strategi pembangunan Kota Banjar terus diretas, secara bertahap upaya membangun Kota Banjar sebagai Kawasan Agropolitan yang termaju dan mandiri di Priangan Timur kian menuju kemajuan. Pada tahun 2011 misalnya, Pemerintah Kota Banjar melakukan revitalisasi pasar tradisional di Kawasan Pataruman yang menelan biaya cukup besar sekitar Rp. 20 milyar lebih, dan diharapkan menjadi pasar sub terminal agro termaju di Priangan Timur. Begitupun juga wisata kuliner makin digiatkan, dan beragam ikhtiar lain terus digagas dan dikembangkan agar ekonomi Kota Banjar semakin tumbuh dan kuat.

Beberapa kalangan menyiratkan keraguan, apakah potensi yang dimiliki Kota Banjar mampu menjawab tantangan besar menjadi Kawasan Agropolitan yang disegani? Telaah berikut mencoba memberikan perspektif baru tentang Kota Banjar.

Dede Herdiman, S.Sos

Daerah kota biasanya identik dengan lemahnya potensi pertanian, namun berbeda dengan Kota Banjar. Luasnya lahan pertanian yang subur serta dukungan irigasi yang bagus membuat Kota Banjar maju dalam pertanian.  Meskipun berstatus daerah perkotaan, sebagian penduduk Kota Banjar masih mengandalkan pertanian sebagai mata pencahariannya. Hal ini tidak mengherankan karena Kota Banjar memiliki areal pertanian yang cukup luas, kurang lebih duaperlima wilayahnya adalah pesawahan, perkebunan dan hutan rakyat. Di samping itu, fasilitas irigasi yang memadai turut memajukan sektor ini, terutama untuk pertanian padi sawah.

Produktivitas padi dan palawija di Kota Banjar terus mengalami peningkatan. Rata-rata produksi padi Kota Banjar setiap tahun mencapai sebanyak 37 ribu ton, dengan produktivitas mencapai 6,1 ton per hektar. Jika diasumsikan produksinya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat Kota Banjar sendiri, maka dapat menjamin kebutuhan penduduk sekitar 0,25 kg beras per kapita per hari (setara dengan 0,6 kg GKG). Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan Kota Banjar relatif kuat dan mampu berdiri dari kekuatan pangan sendiri.

Produk pertanian lainnya yang menjadi unggulan di Kota Banjar antara lain pisang, rambutan, kelapa, karet dan kayu. Dalam kurun waktu setahun terakhir, juga terjadi peningkatan yang sangat pesat terhadap produksi durian, melinjo dan jamur. Pada tahun 2009, budidaya jamur mulai dikembangkan sebagai alternatif pertanian hortikultura. Produk perikanan darat juga mengalami peningkatan dengan adanya penambahan luas kolam.

Profil Industrinya

Saat ini Kota Banjar sedang menuju industrialisasi. Meskipun industri besar dan sedang di Kota Banjar bisa dihitung dengan jari, namun pertumbuhan industri kecilnya sangatlah pesat dan tidak gampang goyah. Bahkan dengan adanya industri-industri kecil inilah, perindustrian di Kota Banjar tidak merasakan dampak krisis global di akhir 2008 sampai dengan awal 2009 bahkan bergerak mampu menopang industri besar dan sedang di sekitarnya. Mayoritas industri kecil di Kota Banjar adalah industri kerajinan yang memanfaatkan produk pertanian seperti bambu, kayu dan lainnya. Industri kecil lainnya yang juga maju adalah industri makanan dan batu bata. Sisanya sekitar 20 perusahaan adalah industri tekstil/konveksi dan industri peralatan rumah tangga dari logam.

Keberadaan industri kecil harus tetap dilestarikan meskipun nantinya di Kota Banjar tumbuh banyak industri besar. Hal ini dikarenakan kinerja industri kecil yang tidak rentan terhadap krisis dan mampu menyerap banyak tenaga dengan tanpa banyak persyaratan terutama tingkat pendidikan formal. Industri kecil lebih mengutamakan keterampilan yang bisa dipelajari sambil bekerja.

Kedepan, industri kecil Kota Banjar harus diarahkan menjadi entitas kekuatan ekonomi yang kuat dengan membentuk zona-zona kawasan industri sesuai dengan spesifik wilayahnya. Wilayah Kec. Banjar misalnya, sangat identik dengan industri kerajinan bambu (angklung dan anyaman), tahu tempe dan olahan batu bata. Sedangkan Wilayah Kec. Pataruman sudah mulai terkenal dengan industri olahan makanan (oleh-oleh). Sedangkan Kec. Langensari mulai menjamur usaha industri tekstil, bulu mata, bordir, mute, olahan gula kelapa dan lainnya.

Jika diniatkan mengembangkan kawasan agrobisnis dan agroindustri, Kota Banjar harus terus menciptakan terobosan, misalnya membentuk sentra produksi agro yang kuat dan sustainable, dengan memanfaatkan potensi pertanian di wilayahnya seperti: pisang, rambutan, durian, melinjo dan jamur. Masyarakat Kota Banjar harus diberi kesadaran bahwa potensi yang dimiliki selama ini harus terus dikembangkan, dan Pemerintah Kota sendiri memberi fasilitas yang cukup agar  masyarakat mampu meningkatkan produksi dan berkontribusi nyata dalam entitas kawasan agropolitan yang unggul. Dan jika memungkinkan, wilayah potensi agro sekitar Kota Banjar, seperti: Lakbok, Banjarsari, Cisaga dan Majenang secara bertahap dipersiapkan menjadi bagian besar Kawasan Agropolitan sebagai penyuplai kebutuhan bahan baku olahan industri di Kota Banjar.

Hingga saat ini, di Kota Banjar hanya terdapat satu perusahaan industri besar yaitu PT. Albashi Parahiyangan, industri pengolahan kayu papan yang bertempat di Kelurahan Hegarsari, Kecamatan Pataruman. Keberadaan perusahaan ini mampu menggerakkan perekonomian Kota Banjar di sektor industri dengan memanfaatkan sebesar-besarnya produk pertanian terutama kehutanan yang merupakan salah satu potensi terbesar Kota Banjar. Dalam hal penyerapan tenaga kerja, perusahaan dengan jumlah tenaga kerja hampir 2 ribu orang ini cukup mampu mengatasi masalah pengangguran di Kota Banjar.

Selain itu, terdapat beberapa perusahaan yang tergolong industri menengah di Kota Banjar  sebanyak 14 perusahaan dimana sebagian besar adalah industri makanan antara lain industri gula kelapa, roti, tempe dan tahu. Industri tekstil yang terdapat di Kota Banjar sebanyak 2 perusahaan, bergerak di industri pembuatan pakaian dan aksesori pakaian seperti mute yang mensuplai industri-industri tekstil di Kota Tasikmalaya.

Besarnya potensi industri kecil dan menengah yang sangat mungkin terus dikembangkan dan kaitannya dengan pembentukan Kawasan Agropolitan memang membutuhkan investasi yang sangat besar, dan hal itu sangat sulit dipenuhi jika hanya mengandalkan dana APBD, sehingga perlu peran swasta yang lebih besar. Promosi dan jemput bola dana investasi harus terus dilakukan, serta penciptaan iklim investasi yang nyaman dan kondusif harus secepatnya diwujudkan. Semoga Sukses. Wassalam.

Penulis, Dede Herdiman, S.Sos

Tinggal Di Banjar Kolot-Kota Banjar

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles