Sehat & Selamatkan Lingkungan dengan Ber-Fixie Ria

07/07/2011 0 Comments

Komunitas sepeda Fixie turut meramaikan kembali minat masyarakat Kota Banjar, untuk menggunakan sepeda dalam melakukan aktifitas, khususnya kalangan anak muda. Foto : Eva Latifah/HR.

Selain hobby, manfaat bersepeda dapat menyehatkan tubuh dan mengurangi polusi lingkungan. Hal itu yang mendorong terbentuknya komunitas sepeda Fixie di Kota Banjar.

Eva Latifah

Disadari atau tidak, pertumbuhan komunitas sepeda di Kota Banjar saat ini tampak semakin marak. Selain komunitas sepeda onthel dan sepeda gunung (mountain bike/MTB), kini komunitas sepeda Fixie turut meramaikan kembali minat masyarakat untuk menggunakan sepeda dalam beraktifitas, khususnya kalangan anak muda.

Ketua Komunitas Sepeda Fixie Kota Banjar, Iwan Babeh, Senin (4/7), mengatakan, komunitas dibentuk sebagai wadah kreatifitas anak-anak muda, salah-satunya sebagai upaya menumbuhkan kecintaan mereka terhadap lingkungan dan berolah raga.

Lantaran, dampak dari pemanasan global sudah dirasakan di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Perubahan iklim adalah salah satu tantangan serius untuk kelangsungan hidup dan pembangunan umat manusia. Sehingga, berfikir global dan bertindak lokal merupakan kunci untuk menanganinya.

“Ya salah satunya dengan bersepeda, sebab dengan seringnya kita menggunakan sepeda, maka tingkat pencemaran polusi yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor akan berkurang,” kata Iwan.

Setelah sepeda Fixie menjadi trend di kalangan masyarakat, khususnya anak-anak muda di beberapa kota besar, kini di Kota Banjar sendiri mode sepeda tersebut mulai digandrungi anak muda.

Dalam jangka waktu satu bulan dari dibentuknya Komunitas Sepeda Fixie Kota Banjar, yaitu awal Juni 2011 lalu, yang hanya 15 orang saja, saat ini jumlah anggotanya mencapai 50 orang.

Secara tidak langsung, kehadiran komunitas ini telah merubah mindset mereka, sebab yang tadinya mempunyai hobby mengutak-ngatik motor, sekarang mulai ditinggalkan dan beralih menggunakan sepeda.

“Mereka tidak menyadari secara langsung bahwa mereka tengah melakukan penyelamatan bumi dari dampak pemanasan global,” tuturnya.

Dikatakan Iwan, mereka sudah tidak lagi merasa gengsi melakukan aktifitasnya dengan menggunakan sepeda. Penggunaan kendaraan bermotor hanya dilakukan ketika mereka akan pergi ke luar kota saja.

“Dibentuknya Komunitas Sepeda Fixie di Kota Banjar lebih terfokus pada penyelamatan lingkungan. Bukan hanya sebatas abring-abringan sasapedahan. Dengan bersepeda bisa menyehatkan tubuh si pengendaranya, juga lingkungan,” ujarnya.

Cukup pesatnya minat masyarakat terhadap penggunaan sepeda, dirinya berharap kepada pihak Pemerintah Kota Banjar, dalam hal ini Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Pariwisata (Dishubkominfopar) Kota Banjar, supaya membuat jalur khusus untuk sepeda (bike to work).

Selain itu, ruas jalan di wilayah perkotaan memungkinkan untuk dibuat jalur sepeda lantaran cukup lebar. Sedangkan, mengenai penempatan di jalan mana saja jalur tersebut dibuat, itu merupakan kebijakan pemerintah.

Menurut dia, saat ini pelaksanaan car free day di Kota Banjar dinilai belum diharuskan, sebab tingkat polusi dan kebisingan kendaraan belum begitu tinggi, tidak seperti di kota-kota besar.

Tanpa kegiatan car free day, kata Iwan, lambat laun juga masyarakat sadar sendiri akan pentingnya bersepada, baik untuk kesehatan tubuh maupun lingkungan. Sebab, komunitas sepeda di Kota Banjar sudah begitu banyak, dan itu mempunyai daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Dishubkominfopar Sambut Positif Komunitas Sepeda

Di lain tempat, Kepala Dishubkominfopar Kota Banjar, Drs. H. Yoyo Suharyono, mengaku, dirinya menyambut positif dengan perkembangan komunitas sepeda di Kota Banjar.

Secara pribadi, kata Yoyo, selain hobby, kebiasaan anak muda yang sebelumnya selalu menggunakan kendaraan bermotor, kemudian kini telah beralih ke sepeda, tentu hal itu merupakan salah satu perubahan positif bagi mereka, dan dapat diterima oleh semua kalangan masyarakat.

“Kalau saya berbicara secara birokrat, mungkin saja keberadaan komunitas sepeda Fixie maupun Onthel dijadikan alat kepariwisataan di Kota Banjar, karena modelnya menarik,” katanya, Selasa (5/7).

Namun demikian, Yoyo menyarankan agar saat ini jangan dulu berbicara masalah program, tapi harus ditentukan terlebih dahulu wadah bagi mereka. Setelah terbentuk, baru kepada program, baik itu kegiatan yang menarik kreatifitas dan kegiatan yang diselaraskan dengan program pemerintah.

Sedangkan, mengenai car free day, menurut Yoyo, hal itu bisa saja dilakukan, tapi harus mengkaji dulu tempat yang akan dijadikan car free day. Jangan sampai mengganggu aktifitas lain, misalnya upaya pencapaian PAD dari sektor perparkiran.

“Tapi, kalau kegiatan car free day dianggap belum diharuskan di Kota Banjar, apalagi penyediaan bike to work, karena di Kota Banjar tidak terjadi tingkat kemacetan, semua jalan masih layak untuk dilalui. Kecuali di jalan nasional yang tingkat kecepatan kendaraannya tinggi. Namun, disini hanya terdapat 10 kilo saja panjang jalan tersebut, dan itu belum dilalui oleh komunitas sepeda, karena mereka masih bersepeda di dalam kota,” jelas Yoyo. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply