Siami & Ruyati, Jujur Itu Bagus, Meskipun Menyedihkan

03/07/2011 0 Comments

Kebohongan para elit di negeri ini sudah mewabah ke publik. Kebenaranpun dianggap sebuah aib. Seorang ibu melaporkan kecurangan ujian nasional di sekolah anaknya. Dia malah dikucilkan penduduk kampung. Keprihatinan melanda negeri ini, Ibu Pertiwi bersedih hati. Ada apa gerangan di negeri ini ?

KESEDIHAN  1

Seandainya Siami adalah kaca benggala skala keberadaban, harus diakui kita berada di titik paling rendah. Perempuan bersahaja itu mencoba mencari kejujuran dengan melaporkan kelancungan pelaksanaan ujian nasional di sekolah anaknya. Sekolah Dasar Gadel II, di Kelurahan Karangpoh, Kecamatan Tandes Surabaya Jawa Timur. Jangankan mendapat pujian, ia malah di cerca orang sekampung, malah diusir dari rumahnya di Kelurahan Karangpoh.

Peristiwa, kejadian ini justru bermula dari kejujuran Alif Maulana, satu dari dua anak Siami, bercerita kepada ibunya tentang ujian nasional sekolah dasar yang diikutinya. Weleeh-weleeh, Alif anak pintar itu diperintahkan wali kelas “membagikan” jawabannya kepada sesama teman sekelas. Ketika sang ibu Siami melapor ke kepala sekolah dan komite sekolah, tak ada respon. Siami mendatangi Dinas Pendidikan setempat, dari situlah kejadian yang menyedihkan itu mencapai ranah orang ramai.

Berawal dari pemberitaan media lokal di Surabaya, menjadi berita nasional. Peristiwa itu sangat mengerikan. Kasus Siami mempertontonkan derajat moral dan etika kita secara faktual, bukan lagi sekedar hasil survei yang bisa diperdebatkan. Kejujuran sebagai salah satu saka guru keberadaban sudah kehilangan daya tarik, dan diperkosa oleh kepalsuan, demi mengejar sasaran singkat. Sang guru dan wali kelas yang memerintahkan “pencotekan nasional“ itu berarti merelakan atau menghinakan diri demi mempertahankan “prestasi“ sekolah tak peduli itu diraih lewat jalan yang tak lurus alias bengkok.

Perangai penduduk kampung, yang mengusir Siami dan keluarganya, merupakan indikasi betapa norma-norma masyarakat sudah terbalik. Kita tak patut sekedar mengelus dada. Kekerasan sosial ini sama sekali tidak bisa dibiarkan. Penduduk kampung itu bisa dipidanakan lantaran mengancam keselamatan orang lain. Bukti keterancaman itu, polisi mengungsikan Siami dan keluarga ke Kantor Polsek Tandes.

Kesedihan II :

Ada yang salah di sebagian masyarakat kita karena penyimpangan moral dianggap sesuatu yang lumrah dan biasa. Sanksi sosial tak berlaku lagi dan sebagian masyarakat membiarkan, bahkan apatis ketika terjadi penyimpangan yang sistemmatis diberbagai lini kehidupan, baik di bidang pemerintahan, hukum, maupun pendidikan.

Untuk mengatasi persoalan ini harus dibentuk koalisi baru, yaitu koalisi kejujuran yang melibatkan semua kalangan. Tokoh Agama turun tangan untuk kembali meluruskan pandangan masyarakat, sedangkan tokoh masyarakat  serta elit politik memberikan contoh dan keteladan soal kejujuran. Bukan pencitra diri atau institusi, lembaga, atau kelompok, menyebutkan berprestasi tapi palsu, kebohongan publik jangan terus dipelihara. Bila kita biarkan jadi apa negeri ini kelak ?

Berita duka yang menimpa rakyat kecil di negeri ini, menambah angka kesedihan kita. Hukum pancung terhadap Ruyati binti Satubi telah melahirkan pelbagai problema serius yang harus segera diurus. Eksekusi atas tenaga kerja perempuan asal Bekasi, Jawa barat, yang divonis mati dengan tuduhan membunuh majikannya itu dilaksanakan tanpa pemberitahuan kepada pemerintah Indonesia, apalagi keluarganya.

Sikap pemerintah Arab Saudi ini tidak hanya melecehkan hak informasi keluarga Ruyati, tapi juga melanggar Mandatory Access on Consular Notification yang diatur dalam Konvensi Wina. Harus, dan tentu saja penting. Jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera berkirim surat kepada Raja Abdulah sebagai protes keras lantaran pelaksanaan eksekusi ini “menabrak kelaziman dan norma tata karma internasional“.

Tanda tanya juga patut ditujukan ke pengadilan pidana Arab Saudi yang kontitusinya  berlandaskan syariat Islam itu. Kisah di balik peristiwa pembunuhan ini layak dicermati majelis hakim di negeri itu. Pembelaan terdakwa Ruyati yang tak diberi makan berhari-hari, ditendang dari atas tangga, dan sulit keluar rumah wajib diperhitungkan. Sikap Ruyati yang mengakui perbuatannya juga layak menjadi pengurangan hukuman.

Perlakuan kasar dan keji terhadap Ruyati oleh majikannya bukanlah cerita baru. Di luar cerita sukses mereka yang dijuluki pahlawan devisa itu, sudah terlalu banyak tenaga kerja yang mengalami perlakuan buruk bahkan sampai meninggal dunia. Ini semua memperlihatkan pemerintah Indonesia terlalu lemah dan tidak memaksimalkan perlindungan hukum yang  agresif bagi warganya yang berada di luar negeri.***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply